Kamis, 31 Januari 2019

Jangan Menalariku

  ARTIKEL TUHAN



Sudah Aku tegaskan berkali-kali dalam banyak keyakinan bahwa Aku takkan pernah bisa kalian gapai. Aku yang kalian sebut Brahman dalam panca sradha yang tidak terjangkau oleh nalar dan indra. Aku yang kalian maksud tidak menjelma dan tidak terlahirkan pada lembaran Sutta Pitaka. Akulah yang tunggal pencipta jagad dan tertulis dalam kitab kejadian. Akulah Tuhan esa yang tampak dalam berbagai bentuk pada kitab perjanjian baru dan Akulah yang tak terlihat namun menyaksikan segalanya yang termaktub dalam risalah terakhir. Tentang hakikatku, kalian takkan pernah tahu apa-apa.

Tapi jujur saja, sampai sekarang Aku tetap terheran-heran dengan nalar arogan kalian yang masih saja terus ngotot memikirkanKu. Kukatakan pada kalian, berhentilah. Tidak ada gunaya menalariku bahkan memperdebatkanKu dengan berbagai model argumentasi yang sedemikian rupa jika hanya sekedar menggerayangiKu. Kalian tidak akan pernah sampai dan tetap akan berjalan di tempat saja. Hukum dan kaidah-kaidah nalar yang kalian buat pada dasarnya hanya akan membatasiku dan secara tak sadar menjadi berhala-berhala dalam benak kalian sendiri. Apa kalian belum mengerti juga bahwa sebenarnya akulah pencipta nalar? Hingga adalah mustahil bagi nalar mampu menampung diriKu. Atau kalian malah mengira jikalau nalar adalah jalan untuk sampai kepada-Ku? Jika memang demikian, Kutegaskan sekali lagi bahwa bagiKu itu hanyalah nol besar. Kuanugerahkan nalar pada jiwa-jiwa kalian, tidak lain hanya sekedar menyadari betapa agungnya Diriku, tidak untuk memahamiku sebagaiamana adanya tentangKu.

Kukabarkan pada kalian sedikit rahasia nalar. Aku telah menciptaknnya dalam keadaan buta dan sedikit agak tuli. Sudah kubuat nalar bersimpuh di hadapanku hingga hanya sekedar mendengar tanpa melihat zatKu. Sering kali Aku ingin menciptakannya dalam keadaan melihat, tapi dia lebih sering menolak karena tak kuasa menanggungnya. Nalar sebagaimana dirinya adalah sesuatu yang terbatas dan tak akan pernah mampu melihat yang tak terbatas serupaKu. Untuk itu, akan menjadi kedzaliman bagi kalian jika memaksanya keluar dari dasar penciptaannya. Cukuplah, jangan berbuat jahat pada nalar kalian.

Pada sebagian firmanKu memang terkadang Aku menekankan kalian untuk berfikir. Aku ingin kalian untuk tidak salah faham tentang hal ini. Kalimat-kalimatKu itu tidak berarti dalam rangka memerdekakan nalar kalian hingga bebas berkeliaran memikirkan apapun tentangKu. Tidak, aku sekedar ingin menyampaikan bahwa berbuat baik atau tidak, itu bisa kalian putuskan dengan sendirinya. Agar nantinya Aku punya alasan untuk memberi balasan yang sesuai dengan jalan dan tindakan yang kalian pilih setelah menimbangnya dengan nalar. Seperti itulah sebagian dari sifat adilKu. Sekalipun sebenarnya Aku tidak butuh alasan apa-apa karena ke maha tahuanKu. Tapi, Aku bukanlah jenis Tuhan yang menghukumi hamba tanpa sebab yang memancar dari dirinya sendiri.

Juga, Kuanugerahi kalian nalar agar sedikit berbeda dengan mahluk yang hanya bertindak sesuai nafsu dan insting semata. Dengan begitu, Setidaknya kalian mampu sedikit menyadari bahwa hidup kalian tidak hanya sekedar mengurusi perut dan apa yang ada di bawah perut. Adalah hal yang sangat memalukan bagi kalian yang Kuberi nalar tapi bertindak seperti mahluk yang tak berakal. Ini pesanKu untuk kalian yang berakal. Berakallah sebagaimana akal tahu akan dirinya sendiri. Tahu akan segala kelemahan dan keterbatasannya di hadapanKu. Satu kesyukuran bagi nalar karena Aku telah mengeluarkanyna dari ketidaan menjadi ada. Jangan kalian hapus kesyukurannya dengan menjadikannya arogan untuk tahu semua tentangku.

Tak bertempat, 26 Desember 2018

Chapter 03

Mengislamkan Demokrasi   Berjarak lima belas meter samping kanan sekolah, mematung gubuk kumuh tak berpenghuni. Entah sepinya sud...