Rabu, 29 November 2017

GerSanG

Part 8 - GerSanG
Karena semakin bertumpuknya kaidah-kaidah di setiap lembaran itu, menyita sebagian besar waktuku untuk memperhatikannya. Aku harus lebih girang membolak baliknya dengan maksud menjaganya dalam ingatan. Meresapi pergerakan baris demi baris yang selalu membawa makna baru dan berbeda. saya kira itu salah satu seni yang aku jumpai dalam belajar.
Bererapa hari belakangan ini aku memang benar-benar bosan dengan belajar. Bukannya tak tahu akan buah yang kupetik nanti denganya, hanya saja karena waktu itu tak kunjung kutemui indahnya. Belajar ilmu-ilmu nalar itu memang seperti mematung di tengah padang pasir. Kering tandus tak berair namun kau harus tetap bertahap hidup dengan panasnya. Orang-orang yang bisa bertahan di atas padang sahara akan menjadi manusia kokoh dengan berbegai persoalan hidupnya nanti. Makanya tak heran kemudian jika pasar-pasar ilmu nalar seringkali terlihat sepi dibanding dengan ilmu-ilmu rasa yang mengobok qalbu. Membuatnya melayang dengan bait-bait puitisnya. Sementara nalar kebalikan kontra dari itu semua.
Acapkali aku harus berhenti mengikuti alur setiap kalimat yang membuat nalarku keselek berkali-kali. Jika belum faham maka tarpaksa aku mengulang-ulangnya bagai untaian dzikir hingga tersingkap makna darinya. Itu yang kumaksud sangat melelahkan dari tulisanku sebelumnya. Berakit-rakit kehulu bersenang kemudian. Saya kira untaian pepatah yang dilebur Bung Roma dalam lagunya itu adalah jawaban tepat dalam kasus ini. Ya, aku harus tetap menjaga setiap lelah yang datang menghampiri.
Tapi nyatanya aku buka hero yang semangatnya selalu membara. Juga bukan Einstein dengan IQ nya di atas rata-rata yang bisa memecahkan semua masalah. Beberapa hal terkadang sangat sukar untuk diselami, apalagi jika hanya membawa petunjuk-petunjuk universal di sekelilingnya. Itu lebih merepotkan nalar lagi. Harus aku mengumpulkan beberapa asumsi sekalipun hanya 1% kemungkinan benarnya, lalu menggugurkan satu persatu darinya hingga tersisa kemungkinan yang paling mendekati kesesuaian dengannya. Dan untuk masalah yang belum aku pecahkan, tunggu di sana hingga nalarku agar lebih matang lagi.
#p_u
To be continued...



Jumat, 17 November 2017

BoSan

part 7 - BoSan
Hampir dua bulan sudah aku mencicipi pahit manisnya kota ini. Roda waktu terus berputar sementara aku belum jadi apa-apa. Masih banyak hal yang harus kupelajari dan kutekuni dengan sungguh-sungguh tapi sangat sukar rasanya untuk menapaki jalan ini.
Setiap hari dengan kegiatan yang sama dalam sepekan. Benar-benar sangat membosankan. Bangun sebelum fajar menyingsing lalu beranjak ke madrasah setelah selesai shalat subuh. Selepas adzan dzuhur berkumandang, kugerek tas dan siap-siap kembali ke asrama merebahkan lelah. sebab, belajar Setengah hari itu lebih terasa capeknya ketimbang seharian mencangkul kebun .
Tapi, memang seperti itulah karakteristik orang indo yang cepat merasa bosan. aku pun tak terkecualikan. Maklum, karakter indo masih melekat dalam darahku. Untuk merubah sebuah watak pun tak semudah membalikkan telapak tangan. Plek langsung jadi seperti para pesulap. rekonstruksi karakter baru harus tekun seperti tukang bangunan yang menyusun batu bata.
Tapi mau bagaimana lagi. Belajar adala pilihan yang telah kubuat. Tak peduli seberat apapun resikonya. Sekalipun aku selalu jatuh bangun lalu berdarah-darah dalam prosesnya, itupun tidak masalah bagiku. Aku bukan orang suci yang tak pernah salah dan keliru. Jadi peristiwa tersebut kuanggap wajar-wajar saja.
Sekalipun rasa bosan sering menghampiri dan memenjara sebagian kewajiban sebagai pelajar, hal itu bukanlah hal yang harus disesali. Bosan adalah resiko dari kebiasaan yang selalu berulang. Sebab, jiwa manusia sebagai sesuatu yang dinamis akan selalu menuntut hal-hal yang baru. Sekali lagi, bosan itu wajar saja. Hingga, Bosan yang berentetan pada akhirnya akan membuatku bosan untuk bosan. itu yang tidak biasa.
#P_U
To be continued,,,

Minggu, 12 November 2017

Syarat

Part 6 - Syarat
Aku juga adalah seseorang yang bergelut dalam dunia agamis. Sekalipun aku terkadang bergamis tapi sama sekali tak menganggapnya sebagai bagian dari agama. Hanya sekedar ahlak semata, sebab itulah kebiasaan orang-orang arab. Hidup berbaur dalam lingkungan mereka pun harus mempelajari kebiasaanya. Di sini pengemis pun memakai gamis, tapi sama sekali tak dianggap sebagai orang yang mumpuni dalam agama. Beda lagi mungkin jika menemukan orang bergamis di negeri asalku. "Ini pasti ustadz" gumam sebagian orang. Tertawa sendiri aku memikirkannya.
       Belajar ilmu agama tak seperti ilmu-ilmu lain. Dia itu bersyarat. Orang yang tak bertuhan pun bisa menjadi dokter. Tapi apakah seorang ulama' bisa dari orang-orang atheis? Jawabannya pasti tidak. Mereka yang bergelut dalam dunia agamis harus benar-benar bisa memenuhi syaratnya. Jika tidak, maka bala' akan menimpa.
       Mereka yang menjual agama lahir karena tidak memenuhi syarat dalam menuntut ilmu agama. Itu sudah pasti. Lalu apa syaratnya? Syaratnya tidak banyak, tidak lebih dari tiga dan dua yaitu taqwa. Mereka yang sama sekali tak memilki takwa dalam qalbunya hanya akan berakhir menjadi orang yang memperdagangkan agama. Mudah-mudahan saja aku tak ikut terlibat dalam kasus kriminal ini. Masalahnya yang mengakimi bukan hukum kenegaraan, tapi hukum ilahiyyat. Saya kira itu lebih parah lagi. Pokoknya hati-hati saja deh.
       Sudahlah, aku yakin jika yang kutulis ini adalah hal yang sensitif. Akan banyak pasti yang sinis ketika membacanya. Tapi bodoh amat dan peduli amat. Aku hanya menulis untuk menasehati diriku sendiri, jika ada merasa tersinggung, ya,,harus intropeksi diri dong. Saya kira nalarnya pun masih bisa memahami, kecuali mungkin akan bergesekan dengan kepentingan-kepentingan duniawi. Kalau berkaitan dengan itu aku angkat tangan. Sebab akan sangat susah melubangi batu dengan setetes air.
       Sekali lagi aku masih seorang pelajar. Dan belum tentu juga imanku akan kuat jika berada di posisi para pedagang itu. 100 juta, 1 M bayangkan saja jikalau dapat tawaran segede itu. siapa yang gak ngiler coba? itu bisa buat beli segudang seperangkat alat solat dan dibayar tunai. Kira-kira cukuplah buat mahar. Hehehe..

#p_u
to be continued...

Sabtu, 11 November 2017

Untuk apa?

Part 5 – Untuk apa?
Aku sempat berfikir, jika seorang pelajar saja gagal dalam memaknai belajar, kira-kira bagaimana pemaknaan belajar bagi orang-orang yang tak berpendidikan? Hmm,,,tapi sudahlah, kata orang tidak baik jikalau membandin-bandingkan sesuatu. Sebab, akan semakin tebal benteng strata sosial di antara kita. Anehnya aku malah berfikir terbalik. Bukankah dengan adanya perbandingan dalam rangka merekontruksi diri adalah satu hal yang mulia? Lagi pula kita tak akan pernah lepas dari hasrat untuk membandingkan, tinggal bagaimana menyikapinya dengan bijaksana saja.
       Belajar memang sangat urgen. Orang bodoh pun pada dasarnya meyakini dengan sangat  kebenaran kalimat ini. Hanya saja, tak sedikit di antara pelajar yang gagal dalam memaknai proses belajar. Contohnya banyak, berapa mahasiswa perguruan tinggi yang tak tahu ingin berbuat apa setelah mendapat gelar sarjana? Menumpuk bukan? pada akhirnya mereka merangkak menjadi pengemis kerja dengan modal ijazahnya.
       Kenapa kekeliruan itu terjadi? Saya kira bukan karena para pelajar itu bodoh, kurang perhatian saja fikirku. Sebab, sedikit saja menggunakan otak originalnya untuk berfikir, maka mereka akan memahaminya. Upps...saya lupa, budaya berfikir rupanya sudah hampir punah di era ini. Pola masyarakat yang mulai kehedo-hedonan tentunya akan membenci hal-hal yang sukar. Tak terkecuali bagi mereka yang katanya berpendidikan. Hah...aku juga tak habis fikir mau bagaimana lagi menasehatinya.
       Tentunya masih banyak orang yang bisa membaca ketimbang dengan mereka yang buta huruf. Sungguh terlalu jika selepas SD pun belum mumpuni untuk membaca, orang sebego itu pun pasti sangat langka dan hampir punah. Zaman elit ini pun saya kira sangat mudah untuk mengakses keilmuan dengan modal kemampuan untuk membaca. Tapi lagi-lagi itu hanya hanya sekedar modal, kebanyakan orang lebih suka diajari ketimbang mengajari. Itu persepsei belajar yang tertanam kuat di kepala generasi sekarang ini. Nalurinya untuk menuntut lebih jauh tidak terarah dengan tepat. Hanya sebatas nalauri komsumsi tanpa kreatif untuk memproduksi lebih jauh. Lalu, untuk apa belajar tinggi-tinggi jika hanya ingin duduk manis menikmati gaji tetap. Sementara potensi untuk meraih yang lebih besar terbuka lebar. Seperti itulah kira-kira.

#p_u
to be continued


       

Chapter 03

Mengislamkan Demokrasi   Berjarak lima belas meter samping kanan sekolah, mematung gubuk kumuh tak berpenghuni. Entah sepinya sud...