Selasa, 13 November 2018

Menjadi Agaman & Ateis yang Baik

 Menjadi Agamawan & Ateis yang Baik



 Ingin menjadi orang baik, jangan terlalu serius dalam beragama. Ungkap Richard Dawkins. Dia seorang tokoh atheis baru di abad ini. Sekilas, ungkapan si Richard ini ada benarnya juga. Apalagi melihat kondisi ummat beragama akhir-akhir ini, eksistensinya jauh lebih sensitif dari hari-hari sebelumnya. Sedikit senggol saja langsung main tonjok, bakar rumah, bahkan kemarin ada yang sampai bakar orang. Ini yang Richard sebut sebagai orang-orang yang terlalu “serius beragama”.

Sedikit gambaran di atas cukup membuat kita mengerti mindset orang-orang luar tentang agama pada umumnya. Tentunya, orang-orang yang terlalu “serius beragama” akan melihat sinis peandangan si Richard ini. Mereka akan beranggapan bahwa ungkapannya adalah penghinaan terhadap keyakinan yang mereka anut. Seolah-olah agama pada dasarnya mengajarkan hal-hal yang melanggar nilai-nilai kebaikan dan meramu hal-hal yang buruk menjadi sesuatu yang mulia melalui doktrin metafisis. Dengan seperti itu, tindak bom bunuh diri (sebagai hal yang tercela) akan dianggap mulia bagi mereka dengan iming-iming kebolekan bidadari yang menanti di alam sana atau dengan keturunan yang terlpilih dari Tuhan sehingga bebas melenyapkan nyawa untuk wilayah kekuasannya.

Aku bukannya membela ungkapan si atheis Richard, terlebih menyuruh orang-orang yang beragama untuk bersikap santai terhadap keyakinan yang mereka khultuskan. Namun, dari keduanya ada beberapa hal yang agak mengganjal bagiku. Misalnya tindakan Richard yang serta merta menghukumi agama dengan kalimat frontalnya itu. Benar memang, bahwa apa yang nampak pada sesuatu akan menyingkap identitas nilai yang melekat padanya. Namun, bukan berarti sikap keras dari kaum religius menyingkap apa yang mereka yakini. Sebab, tak semua orang bergama dengan memahami aturan-aturan yang telah ditetapkan dalam kitab-kitab mereka sendiri. Tidak hanya itu, banyak juga yang tahu akan aturan-aturan itu, namun tak mengejwantantahkan sesuai dengan tuntunan yang ada. inilah kenyataan orang-orang beragama yang tak terfahami oleh Richard. Sebab, jika dia benar-benar faham, maka kalimat frontal itu tak akan keluar dari lisannya.

Tidak sefaham dengan si atheis itu, juga bukan berarti membenarkan beberapa aksi penyimpangan yang dilakukan oleh orang-orang beragama. Berbeda dengan mindset si Richard. Bagiku, orang baik adalah mereka yang “serius beragama”. Mengkaji seluk-beluk keyakinannya dan mengamalkan nilai-nilai mulia yang termaktub dalam sejarah orang-orang saleh. Dengan begitu, beberapa wajah kekerasan yang nampak melalui wajah agama tak akan pernah muncul ke permukaan.

Itu yang bisa aku petik dari problem di atas. Namun, jika ada yang bertanya aku sendiri ada di kubu yang mana?  Ketahuilah. Saat mencoret tulisan ini, aku masih belum beranjak dari tempatku, secangkir teh dinginku belum ludas. Jadi, aku tak di kubu siapa-siapa dan tak ingin berkubu-kubu.

 

#p_U

 

 

 

 

Chapter 03

Mengislamkan Demokrasi   Berjarak lima belas meter samping kanan sekolah, mematung gubuk kumuh tak berpenghuni. Entah sepinya sud...