ARTIKEL TUHAN
Dengan menyebut
namaku sendiri yang Maha segalanya. Kutulis artikel ini atas dasar kesadaran
penuh dan tidak mabuk. Bukan dalam rangka menurunkan kitab baru untuk ummat
manusia, tapi kurasa memang penting untuk menuliskannya. Bukan juga karena
kitab-kitabku sudah tidak berguna lagi, hanya saja manusia era ini terlalu
malas untuk membacanya dan terlalu gila dalam memaknainya. Sekalipun masih ada
segelintir jiwa yang rela membacanya, tapi hanya sekedar memperdengarkan suara
merdunya lalu meraup pundi-pundi keuntungan darinya. Ada juga yang mati-matian
menghafalnya dalam rangka ikut perlombaan di banyak tempat, tapi sangat
disanyangkan, ,mereka tidak faham pesan-pesanku yang tersirat di setiap
kalimatnya. Lebih mirisnya lagi, ada
yang faham maknanya, tapi malah menungganginya untuk ego pribadinya. Itulah
yang menyayat pilu hatiku.
Teruntuk para
manusia yang masih mengimaniku. Akhir-akhir ini tentu aku memperhatikan
tindak-tanduk kalian yang serba membingungkan. Berkonvoi di banyak tempat dalam
rangka membela asmaku, padahal aku baik-baik saja. Bahkan, sangat sehat sekali.
Perlu kalian tahu, jauh sebelum kalian kuciptakan, aku sudah terbiasa mendapat
hinaan dan cacian yang lebih parah dari ini. Seharusnya kalian memahaminya. Tapi sekali
lagi, membaca sejarahku di masa lampau pun kalian tak perduli. Lalu, buat apa
kalian tiba-tiba sok peduli seperti ini? Aku tak butuh iba kalian. jangan kira
tindakan seperti ini cukup menjadi alasan bagiku untuk menempatkan kalian di
surga kelak. Tidak, aku hanya butuh amal baik kalian terhadap sesama, agar aku
tak perlu menjerumuskan kalian ke jurang neraka. Aku tak butuh pembelaan
kalian.
Agama
kuturunkan pada kalian agar bisa hidup damai dan saling berdampingan. Saling
mengisi dan mengasihi diantara sesama manusia. tidak Tidak cukupkah kisah-kisah
para delegasiku yang selalu berusaha berbuat baik dengan kasih meski terus
didzolimi, namun masih tetap dengan lapang dada menerima mereka. Lihatlah
bagaimana Nuh yang tidak pantang menyerah pada amarahnya meski terus di abaikan
dan dilempari batu selama lima abad lamanya. Nah, kalian yang baru sedikit
disinggung dan dikritik tiba-tiba kerasukan amarah yang tak kenal ampun. Hamba
jenis apa kalian ini. Aku tidak habis fikir. Bisa-bisanya kalian mencoba
menjadi Tuhan untuk manusia yang lain. tidakkah kalian tahu, bahwa aku paling
benci dengan adanya Tuhan-tuhan selainku dalam diri-diri kalian. Tapi, maha
pengasihku masih menahan murkaku pada kalian.
Satu hal yang perlu kalian tahu, aku juga tak
pernah memaksa kalian untuk beragama apalagi untuk mengimaniku. Juga, telah kuberi
hak pada setiap manusia untuk memilih beriman atau tidak. Lalu buat apa kalian
memaksakan keimanan pada manusia yang lain. Itu adalah urusanku untuk
memberinya hidayah atau tidak, kalian tidak perlu mengambil otoritasku untuk
meniai dan menghukuminya, apalagi sampai harus memaksanya untuk menghormatiku,
aku tidak butuh itu. Aku hanya butuh penghormatan kalian terhadapku dengan
menghormati mereka yang tidak menghormatiku.
Jadi, kalian
tak perlu lagi sok jadi pahlawan bagiku dengan membelaku dan memaksa orang lain
untuk menghormatiku. Ke maha segalaanku tak butuh kepahlawanan kalian. Cukup
kalian jadi hamba yang mawas diri, penuh kasih sayang terhadap sesama dan yang terpenting
banyaklah belajar agar kedunguan tidak membuat kalian salah faham tentangku.
Sekian untuk kali ini. Semoga kalian bisa menjadi hamba yang lebih baik lagi.
Tak bertempat, 24 Desember 2018

