Sabtu, 25 Agustus 2018

Bukan soal Toa dan Meliana


Part 15 - Bukan soal Toa dan Meliana

Seusai menyantap makan malam, biasanya ocehan teman-teman menambah durasi jam makan. Maklum, sebagai seorang pelajar dengan kebiasan yang monoton sudah seharusnya memberi porsi waktu pada setiap kegiatan-kegiatan di sepanjang hari. Kalau tidak, semuanya akan berantakan dan keluar dari jalur yang telah ditargetkan. Kebiasannya terdengar membosankan bukan? Tapi mau bagaimana lagi, paling tidak kami punya target dan tujuan dalam hidup. Itu yang terpenting.

Cerita kamar lantai tiga berakhir. Masing-masing ke westafel dengan piring yang masih belepotan. Padahal tempat cuci piring ada di lantai pertama. “ terlalu jauh turun ke bawah, capek habis ngunyah” oceh salah satu temanku. “ahh,,,mager lo” timpal temanku sembari ikut mencuci piring bersamanya. Dari jauh aku sedikit tertawa mendengar obrolannya. Rasanya ini seperti maling sedang menasehati maling untuk tidak mencuri. 

Setelah bayangan mereka beranjak dari sana, selanjutnya aku yang menghampiri dan menggantikan posisi mereka. Kuraih spon yang sudah agak kusam itu, lalu kegesek pada noda-noda yang membandel. Pada pertengahan gesekan, padahal lagi asik-asiknya, seorang teman yang berasal dari Basrah tiba-tiba menghampiri. “syaikhna, faakidu as-syai’ la yu’ti (bro, yang tidak punya tidak mungkin memberi)” celotehnya menasehati dengan Bahasa yang halus. Kalau diuraikan, bahasanya kurang lebih seperti ini, “bagaimana bisa spon yang kusam itu membersihkan piringmu, padahal dia sendiri kotor”. bahasanya menarik bukan?  “ maku isykal mawlay (gak masalah bro)” jawabku sembari tersenyum padanya.
Lama berselang, setelah coba menelaah, pesan yang dia sampaikan ternyata ada benarnya juga fikirku. Hanya saja tidak pada tempatnya. kaidah tersebut (faakidu as-syai’ la yu’ti) memang berlaku penuh pada wilayah teoritis, sementara pada wilayah praktis yang serba kompleks, kita tidak bisa menerapkannya secara mentah-mentah. Tak lain karena dalam dunia prsktis, terkadang ada banyak sebab-sebab yang hanya menghasilkan satu akibat. Di sanalah kekeliruannya.
Jadi, pada dasarnya. Sebenar apapun sesuatu jika tidak pada tempatnya, tentu akan terlihat sebagai sesuatu yang keliru. Hal ini berlaku dalam semua peristiwa dan tentu banyak kita temui dalam ranah kehidupan sosial dan beragama. Semisal peristiwa yang baru-baru ini terjadi. Seorang Meliana yang dipenjara 18 bulan karena protes dan ingin agar suara adzan yang menggema pada toa (pengeras suara) minta dikecilkan. Sontak, protesnya mengundang kemarahan warga hingga rumahnya dan beberapa tempat ibadah lainnya ikut dihanguskan warga atas dasar pelecehan agama.
Tentunya, protes meliana bukanlah atas dasar bahwa adzan itu buruk. Tidak demikian adanya, hingga kita layak menvonisnya sebagai penista agama. Meliana hanya meminta agar suara azan disesuaikan dengan kondisi yang ada. Masyarakat di sana tak semuanya memeluk islam sebagai keyakinan. Di sana ada ragam keyakinan. Hingga adalah hal yang seharusnya untuk menjalankan keyakinan sesuai dengan kondisi masyarakat. Bahkan Kementrian Agama sendiri pun telah mengeluarkan aturan tentang pengeras suara dengan dalih adanya keharusan menghormati tetangga. Jadi, protes meliana adalah yang sangat wajar.
Aku tidak ingin menulis terlalu jauh, sebab ini adalah masalah yang sensitif. Sedikit kalimat yang ingin kusampaikan. Bahwa, sekalipun islam adalah agama rahmat untuk semua alam, namun jika aturan-aturannya tidak terterapkan dengan tepat, maka islam akan terlihat sebagai agama yang sangar dihadapan agama lain. sebab, benar dan mulia itu ketika orang tuli tak kau paksa untuk mendengar.


#p_U




Kamis, 23 Agustus 2018

Zilzal


 Part 14 - Zilzal

Entah beberapa hari yang lalu. Kejadiannya sepulang dari kampus kala berpapasan dengan mentari yang menyengat di atas ubun-ubun. Butuh sekitar dua puluh menitan untuk sampai ke asrama. Hingga akhirnya kami memilih untuk menahan taksi yang sedari tadi berlalu-lalang. Ongkosnya dua ribuan dinar, cukuplah lima ratusan dinar untuk setiap orangnya. Tidak secepat biasanya karena jalanan yang lumayan padat. Biasanya hanya tiga menit dengan taksi kami sudah berada di depan hunian, kini jadi nombok dua menit. 

Hawa pengap merayap di setiap tarikan nafas. Ini gara-gara mobil yang kami tumpangi lumayan pelit. AC nya dia off. “sialan ini supir, pelit gila”  ocehku dalam benak. Untung saja dia agak ramah. Tak kusangka tak kuduga malah supirnya sendiri yang  memulai obrolan untuk sekedar mengusir penat yang melanda. “ antum min ya balad? (kalian dari negara mana?)”.Tanyanya sembari sedikit menoleh pada seorang  teman yang duduk di kursi depan bersamanya. “ kami anak-anak Indonesia” pungkas dari salah satu teman. “ di negara kalian gempa bumi lumayan sering ya?”  tanyanya lagi untuk sekedar memastikan. “lumayanlah, tapi gak sering-sering amat” jawab teman yang di sampingnya. “tapi di sini lebih banyak gempa. Setiap hari malahan” pungkasnya dengan sedikit membingungkan. Bagaimana tidak, selama di sini, hanya sekali aku pernah merasakan gempa. “ zilzal syuno mawlay? ( gempa apa itu?)” tanyaku padanya dengan nada yang agak kebingungan. “gempa batin. Ini lebih besar dari sekedar gempa bumi. Sebab, setiap hari kami harus selalu menenangkan jiwa dari peliknya kehidupan yang melanda” mendengar jawabannya itu, sontak satu mobil ikut tertawa.

Banyak hal yang tentu kita bisa pelajari dari kejadian ini. Secara tak sadar, pada dasarnya manusia di belahan dunia manapun, tak akan pernah lepas dari goncangan batin yang harus mereka hadapi. Secara lahiriah memang terlihat baik-baik saja, namun siapa sangka, jikalau ternyata setiap kita menyimpan problematika tersendiri yang sukar untuk terlewati. Inilah yang supir taksi itu sebut sebagai gempa batin. Datangnya pun dengan skala yang berbeda-beda. Kadang hanya 4 SR lalu berakhir pada sedikit kegalauan, hingga bisa saja sampai pada 8,5 SR yang kemudian berakhir pada kerusakan dan gangguang saraf. Inilah gempa terberat yang dialami oleh manusia. 

Terlepas dari itu semua. Dengan duka setelah dari jauh kami dengar kabar gempa di bumi tercinta. Batin kami pun ikut terguncang.  Namun untuk itu, pada segenap sanak saudara yang menghuni Lombok. Sekalipun gempa dengak skala 7,0 SR telah menggungcang tanah kalian, hingga merobohkan tempat-tempat tinggal kalian, bahkan sampai merenggut nyawa keluarga kalian, tetaplah dalam kondisi yang tabah. Jangan biarkan gempa bumi ikut mengguncang dan merusak jiwa-jiwa kalian. selepas ini, jika tetap dengan jiwa yang kuat, kalian akan menjadi orang-orang yang tangguh dari sebelumnya. Sebab, seperti inilah cara hidup membenturkan manusia hingga jadi insan yang terbentuk. Lalu sampai pada titik di mana kita benar-benar layak disebut sebagai manusia dengan segala kemanusiaannya. 

Pray for Lombok…

#p_U





Hembusan Pancaroba

Part 13 - Hembusan Pancaroba         


 Musim pancaroba telah berhembus dalam dunia perpolitikan. Tak heran, sekarang banyak masyarakat yang terjangkiti demam secara tiba-tiba. Kalaupun tak percaya, lihat saja di sekeliling. Tiba-tiba saja semuanya seolah seperti politikus ulung, padahal sebagian besar mereka hanya berbicara dengan modal nukil-menukil dari dumay yang tak jelas validitasnya. Aneh bukan? Padahal sebelumnya mereka masih dalam kondisi sehat walafiat. Mungkin saja virus-virus di musim ini terlalu kuat, hingga imun masyarakat tak mampu membendungnya, atau malah kekebalan mental masyarakat sendiri yang lemah? Entahlah.


            Masih ramai memperselisihkan pemimpin mana yang lebih layak untuk memegang roda kekuasaan dalam lima tahun ke depan. Sederetan kata-kata yang miskin nilai mulai menyeruak dan berserakan di mana-mana. Sebagian awalnya hanya masyarakat yang baik, secara perlahan juga mulai ikut terseret arus. Jika ini kita tidak disebut sebagai penyakit, lalu mau disebut apalagi? Jika ada yang mengatakan bahwa hal ini baik-baik saja, maka sudah bisa dipastikan bahwa orang itu juga terjangkiti penyakit pancaroba.


            Bukan sebagai seorang pengamat politik. Kutulis dua bait di atas sebagai orang yang sehat. Hanya sekedar mengajak untuk sedikit membuka mata dengan kondisi yang ada. Pernahkah kita berfikir mengapa pertentangan dalam hal ini selalu muncul di musim pancaroba? Padahal kita  adalah negara kesatuan, bukan negara federal , konfederensi, apalagi negara terpecah. Sudah semesetinya, kita berjalan pada tujuan yang sama. Lagi pula, kita tidaklah memilih pemimpin yang terbaik. Kita hanya mencegah pemimpin yang terburuk untuk berkuasa. Lalu, buat apa mati-matian membelanya. kalau bukan karena tuntunan negara, maka kita pun tak perlu memilihnya.


            Hidup dengan beragam suku dalam kesatuan memang lumayan merepotkan. Semua punya corak pemikiran masing-masing sesuai dengan kebudayaan yang menuntunnya. Namun, lagi-lagi kita ini negara kesatuan. Kita punya rumusan negara yang harus terfahami dengan baik. Itu tugas awal bagi kita untuk bernegara dengan baik. Memahami dengan benar cita-cita negara. Lalu melakukan langkah demi langkah untuk memenuhi harapan negara. Artinya, semua punya tugas masing-masing dan tidak hanya bergantung pada pemerintah. tugas mereka hanyalah dan memfasilitasi tugas-tugas masyarakat untuk memajukan negara.


            Jadilah rakyat yang sehat sekalipun dengan para petinggi yang mulai tidak sehat lagi. Jangan mendefenisikan negara yang berbareng dengan kepentingan individual sebagaimana terjadi pada negara-negara yang terpecah. Mungkin saja, di sini lah pentingnya pendidikan kewarga negaraan dari sekian banyaknya suku yang rentan untuk terpecah. Tidak hanya itu, dengan memahami negara secara utuh, tentunya kita tak perlu mempertentangkan soal siapa yang akan menjadi pemimpin. Sebab akan nampak dengan jelas mana yang lebih layak tanpa harus mengotori mulut dengan segala bentuk cacian dan nyinyiran. Saya kira, ini adalah cara yang sehat dari sekian banyak metode untuk mencegah pemimpin yang terburuk dalam memegang tumpuk kekuasan.selamat mencoba.

To be continued...(untuk buah kepala selanjutnya)

#p_U

           

           

           



           



           

Chapter 03

Mengislamkan Demokrasi   Berjarak lima belas meter samping kanan sekolah, mematung gubuk kumuh tak berpenghuni. Entah sepinya sud...