Sabtu, 09 Maret 2019

Chapter 03


Mengislamkan Demokrasi
 
Berjarak lima belas meter samping kanan sekolah, mematung gubuk kumuh tak berpenghuni. Entah sepinya sudah berapa dalam, saya tak tahu pasti. 4 x 6 meter persegi luasnya, dindingnya juga hanya terbuat dari susunan papan yang sudah mulai jadi santapan rayap. Halaman depannya yang ramai dengan rerumputan liar masih menyisakan satu bangku kayu berwarna kusut. Di depannya, berdiri dua pohon rindang yang menyaring nyanyian pagi burung kutilan.

Udara di sini memang sangat pas untuk menghabiskan waktu luang. Terkadang saya sampai kebablasan, lalu bangun dengan satu mata pelajaran yang tertinggal. Tempatnya tanpa endapan kebisingan, menurutku sangat strategis. Di atas bangku kayu dengan kemiringan berkaki tiga, kucopet sakuku yang sedari tadi menyembunyikan smartphone. Ini demi kemaslahatan pribadi, sebab terkadang razia datang tak diundang dalam kelas. Semua tas harus dikumpulkan, lalu satu-persatu akan ditelanjangi

“ngeeeeng…cari amunisi yuk, males nih” belum sempat kunikmati udara, dari kejauhan teriakan Deny melesat mengahampiri. 

“gue punya dua rebu doang den, duit bersorban lagi susah” dua ribuan melompat dari kantong seragam ke genggamannya. “lu aja yang ke warung den, lagi mager gw” lanjutku dengan jari jempol bermain pada touchscreen. 

“ayolah, bareng aja. Teganya kau menelantarkanku sendirian.” Mukanya merayu-rayu.
“ayo, tapi sekalian cabut aja ya. Lagi males juga gw ikut pelajaran agama” ajakan yang lebih menakutkan kutawarkan padanya.

“gila lo nggeng, alpa gua udah berjejer di absensi. Mau bunuh gw loh?” entah kenapa rasa khawatirnya terdengar seperti lawakan bagiku. Tidak biasanya dia prihatin dengan nilai kehadirannya. Habis kerasukan wahyu apa anak ini? Aku pun juga tak habis fikir. 

Deny berlalu pada sepanjang jalan setapak di antara rumah panggung yang berbaris tak cukup rapi. “ jangan lama ya den, waktu istirahat tinggal tiga belas menitan lagi” sahutanku ikut mengejarnya. Kembali menunduk pada smartphone milikku, mencari beberapa file pada document. -sebuah seni untuk bersikap bodoh amat- salah satu pdf yang mulai kubuka dan melanjutkan petualanganku. 

            Mark Menson adalah pengarang buku ini.  Saya mengenalnya lewat akun instagram dengan sekian banyak kutu buku yang mulai mengoceh tentang karyanya. Sengaja juga saya terjaga hingga dini hari karena tuntutan paketan yang menipis hanya untuk mendownloadnya. Ini satu-satunya cara untuk membaca karya beliau. Tidak mungkin juga saya mencarinya di kampung, rumah baca tak berdiri di sana, apalalgi bangunan mewah seperti gramedia. Itu sama saja mimpi di siang bolong. Kenyataan seperti inilah yang sangat menyakitkan. Kemajuan teknologi tak berbanding lurus dengan pendidikan masyarakat. Memupuk jiwa konsumennya, lalu semuanya akan berakhir seperti kaum hedonis. Anehnya, semua orang terlihat baik-baik saja saat terperangkap dengan kondisi kepincangan ini. Lebih pincang dari kursi kusut yang sedang memangkuku. Mungkin saja saya yang over peka ataukah mereka yang kelewatan bermasa bodoh. Entahlah. Tapi, tentunya sangat berbeda jauh dengan sikap masa bodoh ala Mr. Mark.

            Baru dua lembar saya berpetualang dalam buku ini, dingin menusuk ke dua belah pipiku tiba-tiba menerkam. Dari belakang Deny tanpa sepengetahuanku mengendap-endap menempelkan teh gelas yang baru dibelinya.

“Sialan lo den, bercandanya gak lucu. Dingin gile”. Empat puluh lima derajat leherku berbeputar ke arahnya, Gigi taringnya ikut tertawa bahagia.“hahaha…baru segitu nggeng. Nih saya ada dua batang, mau kaga?” sambil menyodorkan class mild batangan hasil dua ribuan. Dua teh gelas tadi ternyata dia beli sendiri. Kepalaku tiba-tiba mengoceh, mungkin seperti inilah untungnya bersahabat. Sekalipun seolah menanggung jajanan masing-masing, tapi rasanya seperti berbagi. Mungkin juga ini yang disebut dengan menyederhanakan kebahagiaan

Kecanduan, mungkin itu kata yang paling tepat untuk membahasakan kebiasaan kami. Mulai mengomsumsi batangan sejak awal semester pertama secara otodidak dan teratur. Tapi, tak sampai berasap dalam ruangan seperti anak-anak yang lebih bajingan lainnya. Beberapa kode etik perokok kami terapkan dan tak boleh dikhianati. Berasap di lingkungan umum, di warung-warung, memakai seragam sekolah kecuali di markas kami, adalah undang-undang yang tak boleh kami langkahi. Alkohol dan narkotika kami tidak mengosumsinya, kami masih menghargai masa depan. Untuk membeli rokok batangan saja masih belepotan, apalagi harus berurusan dengan alkohol dan narkotika, bajetnya bisa mengakibatkan kanker –kantong kering-. Bandel dengan batangan rokok menurutku adalah cara terbaik untuk menikmati aktivitas muda yang mononton keluar masuk sistem raksasa ini.

Asap keluar masuk melewati labirin rongga hidung dan mulut. Sesekali pipet plastik transparan kami sedup. Ahhh..nikmat mana lagi yang harus kami dustakan. Beberapa obrolan ngalur-ngidul juga mengalir seirama angin berhembus. Alunan nada dan jeritan lirik iwan fals masih mendayu-dayu di playlist. Dari sekian cara siswa menghabiskan waktu istirahat, cara kami adalah yang terbaik. Betapa rugi mereka yang menyia-nyiakan saat seperti ini. seperti inilah opini yang saya bangun. Setiap orang bebas menikmati waktunya.

Bunyi alarm sekolah pertanda jam ke dua berteriak dari balik benteng. Masih ada setengah batang, masih tersisa lima ratus perak dengan ujung yang menyala merah. Dibuang juga sangat sayang, telat beberapa menit adalah pilihan terbaik ketimbang rugi asap. Andai saja hari ini si Abrar ikutan, sedari tadi kami berdua sudah diseretnya ke dalam ruangan. Dia tidak datang hari ini, dia masuk angin karena semalaman kami bertiga nongkrong sambil memainkan gitar di depan terasnya. 

“lima menit lagi ya nggeng, nanggung banget nih. Lagian ibu juga biasanya masuk telat. Kalaupun beliau udah datang, bilang aja habis dari wc, simple kan?” sahut Deny setelah memainkan bundaran asap dari mulutnya. Tumben juga dia punya ide cemerlang untuk mengatasi pertanyaan interogasi  ibu. Mengisi amunisi selesai, kami berjalan menuju kamar mandi sekolah, membasuh muka dan sedikit berkumur-kumur. Hari ini aku setujui rencana Deny. Tiba di depan kelas, ibu guru ternyata juga ikutan telat. “ketiban rejeki nomplok kita den, pelajaran belum dimulai.” Bisikku pada Deny.

“ngapain kalian membajak pintu masuk, sana duduk ke kursi kalian” sapa ibu Nuri tiba-tiba. Kaget minta ampun, melirik senyum merah meronanya membuatku melanglang buana aneh. Beliau masih single, umurnya sekitaran 28 tahun menurut kacamata pribadiku. Sebenarnya aku tidak terlalu peduli dengan bilangan usianya, jelasnya beliau termasuk guru populer di kalangan para siswa. Seragam dinas yang ketat membentuk lingkar ramping tubuhnya, entah apa yang ada dalam benaknya. sebagai guru agama, seharusnya dia mengenakan jilbab yang besar, kalau perlu pakai cadar saja sekalian biar lebih menyerupai ninja. Tapi cara dia berpakaian, mendempul wajah, sudah cukup menggambarkan isi kepalanya. Sepertinya, beliau juga tidak terlalu peduli dengan aturan-aturan agama yang berlaku. Guru agama yang cuek pada agama. “hahahha..lelucon pagi yang menggelikan” oceh benakku.

Materi hari ini cukup memiliki daya gravitasi yang kuat dari sebelumnya, menarik. Ayat-ayat yang berbicara tentang demokrasi akan dibedah dalam ruangan. Kelas di belah menjadi dua kelompok pro dan kontra. Kebanyakan siswa lebih memilih untuk bersikap pro, hanya delapan dari tiga puluh siswa yang bersikap sebaliknya. Bukan karena mau, tapi tiket untuk pro sudah ludas terjual.

“islam sangat mendukung adanya demokrasi, ini bisa kita lihat dalam dua ayat al-qur’an (as-Syura : 38 dan al-Imron :159) yang menyinggung perintah untuk bermusyawarah. Sementara musyawarah juga bagian dari demokrasi, sehingga tak ada yang bertentangan di antara ke duanya.” Dengan cekatan Si bintang kelas mulai membual. Seperti menangkap udara, ocehannya terdengar sangat cacat bagiku. Untuk disebut bintang kelas, aku merasa kecewa berat padanya. Bagaimana tidak, berbicara demokrasi tidak seperti mengomsumsi mie instan, tinggal sedup, lalu kelar.

“oleh karena itu, kita semestinya berdemokrasi sesuai dengan tuntunan al-Qur’an.” Lanjut dia membual lagi. Pihak kontra kebingungan, mulai memotong dari mana mereka akan menyanggah, aku juga penasaran. Kali ini, saya lebih memilih untuk diam. Waktu istirahtku belum cukup rasanya. “tapi, apakah ada contoh konkret bermusyawarah dalam demokrasi? ” sanggah Ayu, seorang yang kukenal selama ini termasuk cupu, tiba-tiba saja berani menodongkan pertanyaan. “jadi gini yu’, dalam UUD 1945 pasala 20 Ayat 1 menjelaskan tentang proses perancangan undang-undang. Belum lagi pada lanjutan ayat 2 nya yang menerangkan lebih jelas lagi. Undang-undang dibuat oleh DPR bersama persiden. Artinya, di sana terdapat musyawarah” tegas Hendra dengan cukup ilmiah. Dia juga memang termasuk siswa yang cerdas dalam kelas kami, hanya beda satu peringkat dengan Rina. 

            Diskusi berjalan empat puluh menit dengan ketimpangan. Kelompok kontra sepertinya benar-benar babak belur, dihajar bebagai argumentasi yang membisukan. “nggeng, kok lo gak ngomong sih. Lo gak lihat kita udah bonyok?” bisik Deny yang sedari tadi terlihat resah. aku tidak menjawab, hanya melemparnya dengan sebongkah senyum. 

            “sepertinya hasil diskusi sudah jelas. Dalil-dalil yang pro lebih unggul. Kalau tidak ada sanggahan lagi, kita akhiri saja dan lanjut pada materi berikutnya” sahut ibu Nuri sebagai moderator jalannya diskusi. “genggong bu, sepertinya dia ingin sedikit menanggapi” mendadak teriakan Deny memotong. Sialan lo den, bangsat, tidak seperti ini cara mengerjai teman. Hari ini dia benar-benar memuakkan. Belum sempat kutolak ibu Nuri malah mempersilahkan “owh, jadi bagaimana menurutmu nggeng?” rasanya benar-benar sudah skakmat. Tidak ada jalan lagi untuk menolak. sedikit kuhela nafas, lalu mulai ikut mengoceh.

            “ menurut saya, sedari tadi sepertinya kita hanya membual saja bu, yang ada hanyalah pemaksaan dalil-dalil saja. bagaimana mungkin musyawarah jadi bagian dari demokrasi, sementra musyarawarah lebih umum darinya. Bermusyarah dalam urusan agama itu tidak bisa disebut dengan demokrasi sepenuhnya. Sebab akan menyalahi hakikat demokrasi, dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Dalam hukum adat pun seperti itu, yang ada hanyalah dari tetua untuk masyarakat. Sekalipun ada yang disebut dengan demokrasi islam, tapi sebenarnya itu bentuk pengislaman demokrasi bukan mendemokrasikan islam.” Sedikit mengacaukan forum yang menjujung tinggi kemuliaan demokrasi. 

            “mengislamkan demokrasi, itu maksudnya apa nggeng? Saya masih kurang faham” dari sebrang terdengar ciutan Hendra. “ tidak semua demokrasi bisa dimasukkan dalam ayat ini ndra, anggap saja seperti demokrasi monarki, ini di luar dari jangkauan dalil-dalil yang sedari tadi kau muntahkan”. Sedikit bumbu penjelasan kutaburkan padanya. Sudut sebrang sontak sepi, ketimpangan serasa berbalik. Dari pihak kontra, wajah-wajah yang tadinya terlihat bonyok, sekarang lebih terlihat manis memancar. 

            Seharusnya buku pelajaran terlebih dahulu disaring, dicuci dengan dengan sabun sebelum dijadikan sebagai santapan para  siswa. Lagi pula itu bukanlah kitab suci, tentu juga akan terdapat sesuatu yang keliru di dalamnya. Tapi sudahlah, momen santaiku di sela-sela diskusi juga sudah hancur gara-gara teman yang keterlaluan rese. Ibu Nuri juga sudah mengakhiri diskusi dangan dalih tidak cukup waktu nantinya untuk melanjutkan materi. Juga, sepertinya akan lebih baik ketimbang memperpanjang durasi debat konyol ini.

Kembali saya perbaiki posisi. Meja-meja diatur ke posis awal. Belakang Rahmat yang berbadan cukup kekar, menyediakan tempat yang aman dari sorotan bu Nuri. Kurebahkan muka di atas meja, tempat yang lumayang aman menyambung istirahat. Selamat belajar teman-temanku. Jadilah lebih peka lagi, semoga tak belajar seperti domba yang menyantap sembarang pada setiap rumput yang dijumpainya.

Idris Muhammad Yadin, 09/03/19

Jumat, 08 Maret 2019

Chapter 02


Gembala berseragam rapih

Mendung mendekap pagi. Saya tak tahu pasti mengapa mentarinya telat bangun, mungkin saja dia semalaman habis bercumbu dengan kutub utara. Di atas sepeda yang berlari selow, pun kepalaku masih mengoceh tentang hal-hal aneh. Pakaian putih abu-abu menemaniku menjajaki aspal menuju sekolah yang tidak tercinta. Jam tangan juga seenaknya menunjuk pukul 07:20. kampret, semoga saja prajurit gerbang ikut telat bersama mentari.

Tidak sewajah aspal perkotaan yang bonyok macet setiap paginya. Jalan desaku kebanyakan rontok berlubang akibat curah hujan dan lirikan panas mentari, bukan dari gesekan karet tebal yang lalu-lalang setiap detiknya. Jalanan kami adalah anak tiri dari jalan-jalan ibu kota. Dibangun sembrono lalu dicampakkan begitu saja. Jujur saja saya tak sudi melewati jalan ini, rintih aspalnya terlalu berisik saat ban sepedaku mulai berlari di atasnya.

Butuh sepuluh menitan dengan kecepatan dua puluh km/jam untuk sampai ke tembok china yang melilit sekolahku. Penjagaannya yang begitu ketat hingga sangat susah menjebolnya. Sungguh sekolah yang sangat merepotkan, tidak ada jalan masuk selain pintu gerbang dengan prajurit yang siap siaga. Fisik tak berguna lalu saya mengakalinya, dari jauh hari sudah kususun taktik mengatasinya. Buku-buku pelajaran sengaja kutinggal di laci mejaku dan pulang hanya dengan mengantongi sebatang pulpen, selebihnya cukup bersilat lidah saja dengan prajurit itu.

Sebelum memulai penyamaran, sepeda harus terlebih dahulu kuparkir samping gubuk penjual somai belakang sekolah. Lalu berjalan tegap dengan pandangan santai menuju ke depan pintu. Setibanya, pak Sudeng menghadang lalu lintasku.

“kenapa kamu telat?’’ Tanyanya sebagai prajurit gerbang dengan memukul-mukul tongkat ke tangan kanannya.
“gak mungkin telat saya pak” sedikit melebarkan senyum padanya untuk meyakinkan.

“tidak usah banyak bacot lo bocah, jalan jongkok sana ke depan kelasmu atau mau saya hadiahi permen pedas?” bicaranya dengan sedikit memojokkan beserta nada ancamannya.

“yaelah pak, tadi pas selesai apel pagi saya hanya keluar sebentar beli pulpen. Soalnya ketinggalan di rumah. Buku saya juga sudah di dalam kelas. Bagaimana ceritanya dia berangkat lebih dulu dariku” dengan tawa kecil kutimpali.

“bentar lagi kelas mulai pak, kalo terlambat gimana? Bapak bisa kena tegur juga loh nantinya karena menahanku.” Kutambah dalih untuk menepis ragunya.

“yaudah, cepat masuk sana” jawabnya menyempitkan jidat dengan alis yang mengkerut ke atas.

Penyamaran sukes, saya kemudian berjalan melewati lorong di antara himpitan dua bahu kelas dengan dada yang cengingisan. Ruangan paling ujung di atas lantai dua, terdengar teriakan penjual ikan ala anak-anak IPS yang bawel ikut meramaikan pagi yang buta.

“eeeeeh, lo datang juga nggeng, selamat pagi murid teladan” sapa Deny saat saya mematung di depan pintu. Dia salah satu sahabat karibku di tahun pertama ini. Sebutan murid teladan tapi dalam makna yang berbeda. Teladan merupakan singkatan dari kalimat “telat datang cepat pulang”. Julukan itu sebenarnya milik kami berdua.

“pagi juga mahluk sebangsaku”. Deny mengakak mendengar jawaban sebangsanya. Kami berdua memang tergolong dalam buronan para guru-guru killer. Agak heran juga aku, kenapa dia lebih dahulu tiba dariku. Saya masih ingat beberapa hari yang lalu, saat Lasade’ salah satu prajurit berpatroli di sekitaran benteng kala apel pagi berlangsung. Kami berdua dipergoki di warung Bu Sannang penjual bakwan samping sekolah, lalu diseret ke tengah pekarangan. Di sanalah pra sejarah ketenaran bandel kami naik daun.

Aku bukanlah tipe orang yang patuh terhadap aturan. Disiplin, bersikap baik dan mengerjakan PR bukanlah modelku. Melakukan sesuatu yang diinginkan selama tidak melangkahi garis norma-norma adalah sesuatu yang penting. Dalam benakku pun mestinya tak perlu ada yang disebut PR, sebagian besarnya saya selesaikan di sekolah. lingkungan rumah adalah sajian lain yang mesti dinikmati. Apalagi lagi dengan istilah kegiatan berkelompok di luar sekolah. sedari SMP aku tak pernah melakukannya.

Lonceng masuk berdering seperti tanda gawat darurat di markas pemadam kebakaran. Pak Sukir tiba menggandeng buku mata pelajar IPS kelas X semester genap. Beliau mulai memaparkan sejarah masuknya imperialisme di nusantara sebagai lanjutan materi kemarin seputar kolonialisme.

“masuknya model penjajahan ini karena kerajaan Turki yang melarang jual beli di Konstantinopel untuk orang-orang yahudi dan nasrani. Saat itu tidak ada lagi cara lain untuk memperoleh rempah-rempah kecuali berlayar ke benua lain” ocehnya dengan sesekali memandangi siswa. Delapan puluh persen pandangannya lebih melekat pada buku paket itu.

Materi yang beliau sampaikan sudah sampai lima kilometer kira-kira. Makna imperialis, tujuan para saudagar eropa dan jenis imperialis. Aku muak, semua siswa hanya seperti serombongan gembala yang duduk manis berseragam rapih dalam kelas. Mendengar tanpa bertanya walau secuil pun. Bukankah pengetahuan adalah benda mati? dan akan tetap mati tanpa diakletika yang memberinya nyawa. Seperti itulah yang Albert Einstein yakini. Kuacungkan tangan kiri memberinya kode bertanya.
“iya, genggong ada yang kurang jelas?” beliau menatapku sambil memotong materinya.

“Banyak pak, tapi saya hanya mau bertanya satu persoalan. Menurut bapak, tidakkah kami seperti domba yang berada dalam imperium, sementara sistem pendidikan dan seluruh jajarannya menjadi imperator bagi kami? Membuat standarisasi nilai sebagai tolak ukur keberhasilan bagi semua siswa dan menjadi kewajiban untuk mengikutinya. Lalu mereka yang gagal akan dikebiri sebagai manusia pecundang. Tidakkah demikian?” sontak semua kepala siswa mengarah padaku, matanya ikut bertanya. Mengapa orang malas sepertiku bisa melontarkan gagasan yang mereka tidak fikirkan sama sekali

“pala lu encer juga ngeng” bisik Deny yang sedari tadi sok memperhatikan pelajaran.

Suasana seketika hening, saya tidak terlalu mengerti mengapa semuanya jadi serasa canggung. Mau bagaiamana lagi, saya hanya meyakini satu hal, bahwa bagaimana pun model seorang siswa, dia tetap memilki hak untuk bertanya. Tanpa peduli apakah dia teladan dalam makna yang sebenarnya atau teladan dalam makna serupaku.

“pertanyaan yang menarik, dari kalian ada yang bisa jawab pertanyaan genggong?” kelas tiba-tiba terombak seperti forum diskusi. Pak sukir seolah jadi moderator yang melempar pertanyaan pada kelompok lain.

“saya pak, bukan mau jawab, tapi aku masih bingung maksud dari pertanyaan genggong. Bisa dia jelaskan lagi biar kami lebih faham?” sahut Rina yang menjadi bintang kelas saat ini.

“bisa kau perjelas lagi pertanyaanmu ngeng?” beliau menukil maksud Rina yang kebingungan.

Sebenarnya saya ingin agar beliau yang menjawab pertanyaanku. cara mengajarnya yang maha monoton pada buku selama ini membuatku cukup risih atau memang ini caranya untuk menghindari pertanyaan. saya juga tak ingin berprasangka buruk padanya. Sekalipun dahulu beliau adalah seorang guru olahraga yang kemudian berhijrah jadi guru IPS. menurutku, hal seperti ini adalah fenomena illegal yang lumrah dalam dunia pendidikan.

“hmmm….jadi begini teman-temanku tercinta. Setelah kalian memutuskan untuk bersekolah, maka saat itu pula kemerdekaan kalian tercabut. Kalian tidak lagi menjadi diri sendiri dan mimpi-mimpi kalian hanya dibatasi dengan apa yang ditawarkan oleh sistem yang ada. Kalian semua diharuskan mempelajari hal yang sama sementara bakat dan potensi kalian berbeda-beda. Bukankah ini bentuk penjajahan mental yang nyata dari imperior pendidikan? Pungkasku dengan menyajikan ibarat yang lebih dekat dengan kehidupan mereka.

“oooh, jadi menurutmu sistem pendidikan itu buruk ngeng? Lalu kenapa kamu masih memilih untuk sekolah?” balas Rina padaku dengan metode dialektikanya yang rada kurang sopan. Rasa agak kesal tergambar di seluruh mimik mukanya.

“Rin, saya tidak mengatakan bahwa imperialis itu sesuatu buruk. Selama tepat sasaran maka itu adalah sesuatu baik. Hal yang sangat disayangkan ketika sistem diterapkan secara merata sementara kemampuan alamiah setiap orang berbeda-beda. Ini adalah bentuk penindasan pada bakat-bakat yang tidak sejalan dengannya. Namun, jika sistem diterapkan pada orang penurut sepertimu, maka itu tidaklah buruk.” Sedikit cekikikan diriku seusai menghajarnya dengan dalih kesesusain.
Maafkan diriku Rina, tak ada maksud untuk mengibulimu. Ini terjadi begitu saja dan berada di luar kendaliku dimulai saat kau tiba-tiba saja mengoceh sok faham. Mau bagaimana lagi, anggur sudah jadi miras. Teguk dan nikmatilah. Untuk ke dua kalinya tanpa sadar bel berteriak pertanda jam istirahat menjemput.

“ iya anak-anak. Besok kita lanjut pelajaran lagi.” Sahut Pak Sukir setelah bangun dari kursinya lalu berjalan menuju kantor dengan ekspresi kebingungan.Murid lain mengikutinya dari belakang, bertebaran keluar seperti anak ayam mencari makan.

"Kacau, semoga saja si Rina tidak tersinggung dengan caraku tadi." oceh benakku. Kuhampiri Rina dengan sedikit rasa bersalah yang mengganjal sanubari. Aku berdiri di depan mejanya, bola matanya menengadah kesal memandangiku.

“napa lo ke sini, mau cari masalah lagi?” belum sempat meminta maaf, rasa bepernya ternyata lebih cepat menanggapiku.

“yang tadi jangan diambili hati Rin, saya sebenarnya hanya bercanda. Lagipula, menurutku kau masih terlalu cantik untuk jadi kambing-kambing imperator.” sadikit sanjungan kuberi padanya. Dari pada menjelaskan hal-hal yang logis untuknya, gombalan dan pujian sudah lebih dari cukup memperoleh maafnya. Mau secerdas apapun, dia juga masih tetaplah wanita yang rentan dengan behasa-bahasa roman.

Idris Muhammad Yadin, 02/03/19

Chapter 01



 Blackman dan Calvin terselip di dedaunan padi

Hari ini aku tak terlalu peduli dengan angka yang berjejer pada kalender. Warna merah melingkar, hanya pahatan itu yang membekas dalam dinding memoriku. Pertanda wekeend dimulai saat suara ayam jago milik ayah mulai merayap di sela-sela papan rumah panggung kami. Saya terbangun sedikit kaget, sakit pada bagian paha seperti gigitan semut.

 “Bangun genggong“ sahut mama dengan jarinya seperti jepitan kepiting di pahaku.
Menurutku, caranya membangungkan lebih ampuh dari alarm manapun. Tapi ini kan hari libur, tak ada tempat yang lebih indah selain kasurku untuk saat ini. “ minggu mah” spontan insting malasku menyahut tanpa kandas. Kutarik lagi bantal gulingku sembari membelakanginya. 

“mau jadi apa anak ini, bukannya kemarin kau ada janji ke sawah menemani ayahmu” oceh mama dengan memakai nada mayor. 

Kuhela nafas dalam-dalam “ iya, iya” beranjak dari pembaringanku dengan muka kusut melipat. Mulai kulewati menurun anak-anak tangga yang terbuat dari kayu dengan handuk yang melingkar di leher. Dari kolong rumah, senyum ejekan ayah melirikku. Memang agak menjengkelkan, tapi sudahlah, ejekannya masih cukup bagus untuk memulai pagiku ketimbang ocehan mama.

Timba demi timba kutarik dari sumur lalu kutuang ke mulut baskom yang menganga. Tempat biasanya saya dan sepupu mandi bersama, maklum rumah kami hanya berjarak tujuh langkah. Tapi hari ini aku sendirian, mungkin saja dia masih pingsan dengan mimpi-mimpi indahnya bersama pagi. Meskipun usianya terpaut tujuh tahun lebih tua dariku, tapi kalau persoalan mandi kami sejoli. Terkadang dia juga suka mencopet timbaanku dengan muka polosnya seolah tanpa dosa sama sekali. Begitulah, sudah kumasukkan dia dalam daftar sepuluh sepupu yang paling usil.

Seusai membaluti sekujur tubuh dengan air, pake sabun, sampoan dan gosok gigi, kutarik handuk untuk mengeringkan rambut lalu kulilit melingkar di pinggangku. Pakaian yang disiakpan oleh mama juga telah melekat di tubuhku. “breakfast time” sahut perutku yang mulai keroncongan karena dingin. Kuhampiri ayah yang masih setia menemani gudang garam merah kretek andalannya dengan setengah gelas kopi yang tersisa.

“yah, di sawah tugas saya ngapain?” tanyaku memulai obrolan sembari mengunyah pisang goreng yang masih sedikit hangat. 

“palingan hanya sekedar mencabuti tumbuhan liar” ayah manjawab. Memang, di usia padi yang menginjak satu bulanan, biasanya banyak tumbuhan liar yang ikut eksis di antara barisan padi muda. Tentunya, itu sangat mengganggu proses tumbuh kembangnya. Sepertinya ini akan melelahkan, sekalipun lahan kami hanya berkisar setengah hektaran doang. Sudah jadi resiko anak tunggal, juga entah kenapa mereka berdua enggan memberiku adik. Padahal, dengan begitu aku tidak perlu lagi repot sendirian membantu ayah .

Mengisi amunisi pun kelar, dua tiga langkah mengayun di atas punggung jalan setapak. Nanyian dedaunan yang terhembus angin di antara pepohonan rindang dekat jalan.  Melewati kebun-kebun sebelum memandang luas lahan sawah yang menghampar. Setelah sesaat berjalan, butiran embun yang mencengkram dedaunan padi mencuri mataku. Seolah tak ingin lenyap seiring matari yang terus memanjat hari. 

“lihat apa nggeng?” ayah menepuk bahuku yang sedari tadi ternyata malah mengamatiku. Aku sedikit kaget dengan pertanyaannya yang tiba-tiba menodong benakku. Fokusku membuyar. 

“itu lo yah, spertinya para padi lagi asyik melepas dahaga dengan butiran embun. Mungkin mereka kelelahan berdiri sepanjang malam.” Sedikit ngaco kutangkis tanyannya. “hahaha..ada-ada aja kamu genggong” ayah tertawa lepas dengan matanya yang menyipit. Tak lupa, jenggotnya ikut bergoyang.

Sedari dulu aku memang suka membuat lelucon. Sekedar melihat padi itu pun memberiku wawasan yang agak aneh. Mengapa padi selalu berdiri sampai akhir hayatnya? Apa mereka tidak kecapean? Di siang hari pun mereka tetap mematung di tempatnya, kenapa tidak memilih sejenak berteduh hingga sore menjelang? Apakah majikan mereka melarangnya? Kalau pun iya, maka ini termasuk dalam bentuk penindasan pada padi.  Tapi siapa juga yang peduli, sungguh malang nasib kalian.

Bibirku merekah, tanpa suara aku menertawai isi kepalaku. Adalah metode paling aman agar ayah tidak menganggapku lebih aneh lagi jika saya tertawa tanpa sebab. Kurang tiga tahun hingga umurku menginjak kepala dua. Rasanya, sudah cukup dewasa bagiku mamahami adanya sistem yang eror dikepalaku. Di samping aku juga menyadari, bahwa anak-anak normal tidak mungkin memikirkan apa yang terlintas dalam benakku. 

Kali ini pemandangan baru menyambut. Dari pinggiran sawah  gerombolan padi muda nampak indah mulai bergoyang seirama arah angin memandu.  Berputar random benakku, masih memikirkan apa jawaban yang terlintas dari setiap pertanyaan yang kusajikan dalam kepalaku. Di tengah keramaian padi, aku tak peduli. Hal yang terpenting hanyalah bagaimana menormalisasi pola fikirku yang kacau ini. “kasus seperti ini pasti ada jalan keluarnya” oceh benakku dengan rasa penasarannya. 

Nalarku masih masih berkeliling di antara susunan rak tempat beberapa konsep menumpuk. Tak sengaja kutemukan nama Blackman dan Melvin Calvin. Keduanya adalah sosok ilmuan yang  bercerita tentang aktivitas tumbuhan hijau dan jauh hari kita kenal dengan reaksi fotosintesis. Sekalipun masih banyak ilmuan pendahulunya yang meneliti tentang masalah ini, namun sempurnanya teori ini berakhir di masa mereka berdua 1905-1940. Hal yang sangat menarik ketika Blackman mulai bercerita tentang aktivitas tumbuhan yang tanpa henti. Saat siang, melalui mulut klorofilnya, tumbuhan menerima bantuan dari cahaya lalu mengunyah karbon dioksida dengan tambahan air menjadi glukosa dan memproduksi oksigen. Itulah alasan kenapa Joseph Pristley sebelumnya meyakini, bahwa pembakaran perlu melibatkan tumbuhan. Eksperimennya dengan meletakkan lilin menyala pada ruangan yang tertutup hingga apinya tewas seketika. Setangkai mint kemudian dia masukkan di dalamnya, lalu api dinyalakan kembali. Hasilnya mengejutkan, nyala api bisa menembus beberapa hari hingga tewas lagi. 

Menjelang malam, tumbuhan hijau ini pun tak lelah melanjutkan reaksi fotosintetisnya. Prosesnya tepat pada bagian yang disebut stroma. Tempat ini juga masih merupakan wilayah kekuasaan Kloroplas. Bahan bakar untuk menggerakkan aktivitas ini adalah CO2  yang mereka comot dengan sembarang dari udara bebas. Dengan demikian, dia bisa kembali memproduksi glukosa dari  zat sisa siang tadi untuknya sendiri. Siapa sangka, ternyata bacaan seperti ini bisa menjawab pertanyaan konyolku. Sekalipun saya bukan anak IPA, hobi membacaku ternyata tidak sia-sia. Paling tidak, cara berfikirku tidak terlihat aneh dengan jawaban ini. 

Setengah sadar ternyata ke dua kakiku telah menginjak garis pembatas sawah milik kami. Perjalanan minggu pagi berakhir bersama pengetahuan baru dengan gerombolan padi muda yang masih bargoyang. Kutatap dedaunannya dalam-dalam lalu kuberi hormat pada mereka. Ayah melirik dengan tatapan yang semakin aneh. 

“walah nggeng, sudah minum obat kamu hari ini?” teriak padaku dengan gelagak tawanya yang menyusul. Ternyata ayah malah menganggapku makin stress. “tadi dedaunan padi berbagi pengetahuan baru padaku yah, katanya ; lihat ayahmu, sepanjang perjalanan matanya hanya melototimu”. Pungkasku balik menertawainya.

 26/02/19

Chapter 03

Mengislamkan Demokrasi   Berjarak lima belas meter samping kanan sekolah, mematung gubuk kumuh tak berpenghuni. Entah sepinya sud...