Part 12 - Untuk Tuan Teroris di Alam Sana
Sejuta salut untuk mendiang Dita Oepriarto. Laki-laki pemberani,
yang telah sampai pada tahap keyakinan tak tergoyahkan. Bagaimana tidak, kau
rela buang nyawa sebagai tumbal atas keyakinanmu. Itu yang aku kagumi darimu. Kau
tahu? Akhir-akhir ini namamu jadi terkenal
di keramaian khalayak. Tapi bukan sebagai artis, melainkan sebagai seorang
teroris. Apakah di alam sana kau sudah bangga?
Tapi, menurutku kau masih unggul dalam satu sisi, dari sebagian
orang-orang berdasi itu. Mereka tidak berani sepertimu. Mereka tahu bahwa
seorang pejabat harus amanah, mengayomi, dan mencerdaskan rakyatnya, tapi
mereka takut untuk melakukannya. Aku sebut saja mereka si pengecut. Sebagian mereka
malah membuncitkan perutnya dengan uang rakyat. Mereka adalah penghianat-penghianat
bagi keyakinannya sendiri.
Kau juga jangan senang dahulu, sebab aku tak bermaksud memujimu. Aku
hanya ingin sampaikan padamu. Bahwa, begitu banyak orang yang mengutukmu
setelah skandal yang kau buat baru-baru ini. Tapi sangat sedikit yang mengambil
pelajaran darimu. Aku mungkin termasuk sedikit yang berguru padamu. Namun, ini
tak berarti aku membenarkan tindak anarkismu, apalagi harus ikut mati konyol mendukungmu.
Buang jauh-jauh prasangkamu itu.
Kemarin, secara tak sengaja,
juga kutemukan temanmu bercerita tentangmu di akun facebooknya. Katanya, dahulu
dia adalah adik kelasmu saat SMA dulu. Tapi, sepertinya dia juga agak acuh padamu.
Sekalipun terkadang agak risih dengan paham radikal yang sudah tertanam kuat di
benakmu. Namun, anehnya dia masih menulis artikel panjang lebar tantang
biografimu. Entahlah, bagiku dia juga sukar untuk ditebak.
Masih aku mengandai-andai tentangmu. Kalau saja kau lebih memilih
membantu sesama dengan modal keberanianmu itu, aku yakin saat ini kau sudah
menjadi orang yang terhormat. Tapi kau malah tinggalkan rumah senilai 2 miliyar
itu dipeluk kesunyian, hampa tak berpenghuni. Kan sayang, dengan kekayaanmu itu,
kau bisa menghidupi beberapa anak yatim. Bagiku itu lebih mulia, ketimbang
harus mengakhiri hidup orang-orang bersamamu. Akibatnya, kau yang rela jadi
tumbal demi memperjuangkan keyakinanmu, tapi malah berbalik memperburuk imej
agamamu di mata manusia. Itu yang aku sesalkan darimu.
aku tak berharap banyak agar kau membaca surat ringkasku ini di
alam sana. Sebab, mungkin saja kau lagi sibuk-sibuknya diwawancarai oleh
malaikat. Lalu, kau juga disodori dengan
berbagai pertanyaan yang merepotkan. Tapi kau itu laki-laki. Tanggung sendiri
masalahmu, sekalipun itu menyakitkan. Di alam sana, kata sesal sudah tidak
berlaku lagi untukmu.
to bee continued...
#P_U