Mengislamkan
Demokrasi
Berjarak
lima belas meter samping kanan sekolah, mematung gubuk kumuh tak berpenghuni. Entah
sepinya sudah berapa dalam, saya tak tahu pasti. 4 x 6 meter persegi luasnya,
dindingnya juga hanya terbuat dari susunan papan yang sudah mulai jadi santapan
rayap. Halaman depannya yang ramai dengan rerumputan liar masih menyisakan satu
bangku kayu berwarna kusut. Di depannya, berdiri dua pohon rindang yang
menyaring nyanyian pagi burung kutilan.
Udara
di sini memang sangat pas untuk menghabiskan waktu luang. Terkadang saya sampai
kebablasan, lalu bangun dengan satu mata pelajaran yang tertinggal. Tempatnya
tanpa endapan kebisingan, menurutku sangat strategis. Di atas bangku kayu
dengan kemiringan berkaki tiga, kucopet sakuku yang sedari tadi menyembunyikan smartphone.
Ini demi kemaslahatan pribadi, sebab terkadang razia datang tak diundang dalam
kelas. Semua tas harus dikumpulkan, lalu satu-persatu akan ditelanjangi
“ngeeeeng…cari
amunisi yuk, males nih” belum sempat kunikmati udara, dari kejauhan teriakan
Deny melesat mengahampiri.
“gue
punya dua rebu doang den, duit bersorban lagi susah” dua ribuan melompat dari
kantong seragam ke genggamannya. “lu aja yang ke warung den, lagi mager gw”
lanjutku dengan jari jempol bermain pada touchscreen.
“ayolah,
bareng aja. Teganya kau menelantarkanku sendirian.” Mukanya merayu-rayu.
“ayo,
tapi sekalian cabut aja ya. Lagi males juga gw ikut pelajaran agama” ajakan
yang lebih menakutkan kutawarkan padanya.
“gila
lo nggeng, alpa gua udah berjejer di absensi. Mau bunuh gw loh?” entah kenapa
rasa khawatirnya terdengar seperti lawakan bagiku. Tidak biasanya dia prihatin
dengan nilai kehadirannya. Habis kerasukan wahyu apa anak ini? Aku pun juga tak
habis fikir.
Deny
berlalu pada sepanjang jalan setapak di antara rumah panggung yang berbaris tak
cukup rapi. “ jangan lama ya den, waktu istirahat tinggal tiga belas menitan
lagi” sahutanku ikut mengejarnya. Kembali menunduk pada smartphone milikku,
mencari beberapa file pada document. -sebuah seni untuk bersikap bodoh
amat- salah satu pdf yang mulai kubuka dan melanjutkan petualanganku.
Mark Menson adalah pengarang buku ini. Saya mengenalnya lewat akun instagram dengan
sekian banyak kutu buku yang mulai mengoceh tentang karyanya. Sengaja juga saya
terjaga hingga dini hari karena tuntutan paketan yang menipis hanya untuk
mendownloadnya. Ini satu-satunya cara untuk membaca karya beliau. Tidak mungkin juga
saya mencarinya di kampung, rumah baca tak berdiri di sana, apalalgi bangunan
mewah seperti gramedia. Itu sama saja mimpi di siang bolong. Kenyataan seperti
inilah yang sangat menyakitkan. Kemajuan teknologi tak berbanding lurus dengan
pendidikan masyarakat. Memupuk jiwa konsumennya, lalu semuanya akan berakhir
seperti kaum hedonis. Anehnya, semua orang terlihat baik-baik saja saat
terperangkap dengan kondisi kepincangan ini. Lebih pincang dari kursi kusut
yang sedang memangkuku. Mungkin saja saya yang over peka ataukah mereka yang
kelewatan bermasa bodoh. Entahlah. Tapi, tentunya sangat berbeda jauh dengan
sikap masa bodoh ala Mr. Mark.
Baru dua lembar saya berpetualang dalam buku ini, dingin
menusuk ke dua belah pipiku tiba-tiba menerkam. Dari belakang Deny tanpa
sepengetahuanku mengendap-endap menempelkan teh gelas yang baru dibelinya.
“Sialan
lo den, bercandanya gak lucu. Dingin gile”. Empat puluh lima derajat leherku
berbeputar ke arahnya, Gigi taringnya ikut tertawa bahagia.“hahaha…baru segitu
nggeng. Nih saya ada dua batang, mau kaga?” sambil menyodorkan class mild
batangan hasil dua ribuan. Dua teh gelas tadi ternyata dia beli sendiri. Kepalaku
tiba-tiba mengoceh, mungkin seperti inilah untungnya bersahabat. Sekalipun
seolah menanggung jajanan masing-masing, tapi rasanya seperti berbagi. Mungkin
juga ini yang disebut dengan menyederhanakan kebahagiaan
Kecanduan,
mungkin itu kata yang paling tepat untuk membahasakan kebiasaan kami. Mulai
mengomsumsi batangan sejak awal semester pertama secara otodidak dan teratur.
Tapi, tak sampai berasap dalam ruangan seperti anak-anak yang lebih bajingan
lainnya. Beberapa kode etik perokok kami terapkan dan tak boleh dikhianati.
Berasap di lingkungan umum, di warung-warung, memakai seragam sekolah kecuali
di markas kami, adalah undang-undang yang tak boleh kami langkahi. Alkohol dan
narkotika kami tidak mengosumsinya, kami masih menghargai masa depan. Untuk
membeli rokok batangan saja masih belepotan, apalagi harus berurusan dengan
alkohol dan narkotika, bajetnya bisa mengakibatkan kanker –kantong kering-.
Bandel dengan batangan rokok menurutku adalah cara terbaik untuk menikmati
aktivitas muda yang mononton keluar masuk sistem raksasa ini.
Asap
keluar masuk melewati labirin rongga hidung dan mulut. Sesekali pipet plastik transparan
kami sedup. Ahhh..nikmat mana lagi yang harus kami dustakan. Beberapa obrolan
ngalur-ngidul juga mengalir seirama angin berhembus. Alunan nada dan jeritan
lirik iwan fals masih mendayu-dayu di playlist. Dari sekian cara siswa
menghabiskan waktu istirahat, cara kami adalah yang terbaik. Betapa rugi mereka
yang menyia-nyiakan saat seperti ini. seperti inilah opini yang saya bangun. Setiap
orang bebas menikmati waktunya.
Bunyi
alarm sekolah pertanda jam ke dua berteriak dari balik benteng. Masih ada
setengah batang, masih tersisa lima ratus perak dengan ujung yang menyala
merah. Dibuang juga sangat sayang, telat beberapa menit adalah pilihan terbaik
ketimbang rugi asap. Andai saja hari ini si Abrar ikutan, sedari tadi kami
berdua sudah diseretnya ke dalam ruangan. Dia tidak datang hari ini, dia masuk
angin karena semalaman kami bertiga nongkrong sambil memainkan gitar di depan
terasnya.
“lima
menit lagi ya nggeng, nanggung banget nih. Lagian ibu juga biasanya masuk
telat. Kalaupun beliau udah datang, bilang aja habis dari wc, simple kan?”
sahut Deny setelah memainkan bundaran asap dari mulutnya. Tumben juga dia punya
ide cemerlang untuk mengatasi pertanyaan interogasi ibu. Mengisi amunisi selesai, kami berjalan
menuju kamar mandi sekolah, membasuh muka dan sedikit berkumur-kumur. Hari ini
aku setujui rencana Deny. Tiba di depan kelas, ibu guru ternyata juga ikutan
telat. “ketiban rejeki nomplok kita den, pelajaran belum dimulai.” Bisikku pada
Deny.
“ngapain
kalian membajak pintu masuk, sana duduk ke kursi kalian” sapa ibu Nuri
tiba-tiba. Kaget minta ampun, melirik senyum merah meronanya membuatku
melanglang buana aneh. Beliau masih single, umurnya sekitaran 28 tahun menurut
kacamata pribadiku. Sebenarnya aku tidak terlalu peduli dengan bilangan
usianya, jelasnya beliau termasuk guru populer di kalangan para siswa. Seragam
dinas yang ketat membentuk lingkar ramping tubuhnya, entah apa yang ada dalam
benaknya. sebagai guru agama, seharusnya dia mengenakan jilbab yang besar,
kalau perlu pakai cadar saja sekalian biar lebih menyerupai ninja. Tapi cara
dia berpakaian, mendempul wajah, sudah cukup menggambarkan isi kepalanya.
Sepertinya, beliau juga tidak terlalu peduli dengan aturan-aturan agama yang
berlaku. Guru agama yang cuek pada agama. “hahahha..lelucon pagi yang
menggelikan” oceh benakku.
Materi
hari ini cukup memiliki daya gravitasi yang kuat dari sebelumnya, menarik. Ayat-ayat
yang berbicara tentang demokrasi akan dibedah dalam ruangan. Kelas di belah
menjadi dua kelompok pro dan kontra. Kebanyakan siswa lebih memilih untuk
bersikap pro, hanya delapan dari tiga puluh siswa yang bersikap sebaliknya.
Bukan karena mau, tapi tiket untuk pro sudah ludas terjual.
“islam
sangat mendukung adanya demokrasi, ini bisa kita lihat dalam dua ayat al-qur’an
(as-Syura : 38 dan al-Imron :159) yang menyinggung perintah untuk
bermusyawarah. Sementara musyawarah juga bagian dari demokrasi, sehingga tak
ada yang bertentangan di antara ke duanya.” Dengan cekatan Si bintang kelas
mulai membual. Seperti menangkap udara, ocehannya terdengar sangat cacat
bagiku. Untuk disebut bintang kelas, aku merasa kecewa berat padanya. Bagaimana
tidak, berbicara demokrasi tidak seperti mengomsumsi mie instan, tinggal sedup,
lalu kelar.
“oleh
karena itu, kita semestinya berdemokrasi sesuai dengan tuntunan al-Qur’an.”
Lanjut dia membual lagi. Pihak kontra kebingungan, mulai memotong dari mana
mereka akan menyanggah, aku juga penasaran. Kali ini, saya lebih memilih untuk
diam. Waktu istirahtku belum cukup rasanya. “tapi, apakah ada contoh konkret
bermusyawarah dalam demokrasi? ” sanggah Ayu, seorang yang kukenal selama ini
termasuk cupu, tiba-tiba saja berani menodongkan pertanyaan. “jadi gini yu’,
dalam UUD 1945 pasala 20 Ayat 1 menjelaskan tentang proses perancangan
undang-undang. Belum lagi pada lanjutan ayat 2 nya yang menerangkan lebih jelas
lagi. Undang-undang dibuat oleh DPR bersama persiden. Artinya, di sana terdapat
musyawarah” tegas Hendra dengan cukup ilmiah. Dia juga memang termasuk siswa yang
cerdas dalam kelas kami, hanya beda satu peringkat dengan Rina.
Diskusi berjalan empat puluh menit dengan ketimpangan.
Kelompok kontra sepertinya benar-benar babak belur, dihajar bebagai argumentasi
yang membisukan. “nggeng, kok lo gak ngomong sih. Lo gak lihat kita udah bonyok?”
bisik Deny yang sedari tadi terlihat resah. aku tidak menjawab, hanya
melemparnya dengan sebongkah senyum.
“sepertinya hasil diskusi sudah jelas. Dalil-dalil yang
pro lebih unggul. Kalau tidak ada sanggahan lagi, kita akhiri saja dan lanjut
pada materi berikutnya” sahut ibu Nuri sebagai moderator jalannya diskusi.
“genggong bu, sepertinya dia ingin sedikit menanggapi” mendadak teriakan Deny
memotong. Sialan lo den, bangsat, tidak seperti ini cara mengerjai teman. Hari
ini dia benar-benar memuakkan. Belum sempat kutolak ibu Nuri malah
mempersilahkan “owh, jadi bagaimana menurutmu nggeng?” rasanya benar-benar
sudah skakmat. Tidak ada jalan lagi untuk menolak. sedikit kuhela nafas, lalu
mulai ikut mengoceh.
“ menurut saya, sedari tadi sepertinya kita hanya membual
saja bu, yang ada hanyalah pemaksaan dalil-dalil saja. bagaimana mungkin
musyawarah jadi bagian dari demokrasi, sementra musyarawarah lebih umum
darinya. Bermusyarah dalam urusan agama itu tidak bisa disebut dengan demokrasi
sepenuhnya. Sebab akan menyalahi hakikat demokrasi, dari rakyat, oleh rakyat
dan untuk rakyat. Dalam hukum adat pun seperti itu, yang ada hanyalah dari
tetua untuk masyarakat. Sekalipun ada yang disebut dengan demokrasi islam, tapi
sebenarnya itu bentuk pengislaman demokrasi bukan mendemokrasikan islam.”
Sedikit mengacaukan forum yang menjujung tinggi kemuliaan demokrasi.
“mengislamkan demokrasi, itu maksudnya apa nggeng? Saya
masih kurang faham” dari sebrang terdengar ciutan Hendra. “ tidak semua
demokrasi bisa dimasukkan dalam ayat ini ndra, anggap saja seperti demokrasi
monarki, ini di luar dari jangkauan dalil-dalil yang sedari tadi kau muntahkan”.
Sedikit bumbu penjelasan kutaburkan padanya. Sudut sebrang sontak sepi,
ketimpangan serasa berbalik. Dari pihak kontra, wajah-wajah yang tadinya terlihat bonyok, sekarang lebih
terlihat manis memancar.
Seharusnya
buku pelajaran terlebih dahulu disaring, dicuci dengan dengan sabun sebelum
dijadikan sebagai santapan para siswa.
Lagi pula itu bukanlah kitab suci, tentu juga akan terdapat sesuatu yang keliru
di dalamnya. Tapi sudahlah, momen santaiku di sela-sela diskusi juga sudah
hancur gara-gara teman yang keterlaluan rese. Ibu Nuri juga sudah mengakhiri
diskusi dangan dalih tidak cukup waktu nantinya untuk melanjutkan materi. Juga,
sepertinya akan lebih baik ketimbang memperpanjang durasi debat konyol ini.
Kembali
saya perbaiki posisi. Meja-meja diatur ke posis awal. Belakang Rahmat yang
berbadan cukup kekar, menyediakan tempat yang aman dari sorotan bu Nuri. Kurebahkan
muka di atas meja, tempat yang lumayang aman menyambung istirahat. Selamat
belajar teman-temanku. Jadilah lebih peka lagi, semoga tak belajar seperti
domba yang menyantap sembarang pada setiap rumput yang dijumpainya.
Idris Muhammad Yadin, 09/03/19
Tidak ada komentar:
Posting Komentar