Sabtu, 09 Maret 2019

Chapter 03


Mengislamkan Demokrasi
 
Berjarak lima belas meter samping kanan sekolah, mematung gubuk kumuh tak berpenghuni. Entah sepinya sudah berapa dalam, saya tak tahu pasti. 4 x 6 meter persegi luasnya, dindingnya juga hanya terbuat dari susunan papan yang sudah mulai jadi santapan rayap. Halaman depannya yang ramai dengan rerumputan liar masih menyisakan satu bangku kayu berwarna kusut. Di depannya, berdiri dua pohon rindang yang menyaring nyanyian pagi burung kutilan.

Udara di sini memang sangat pas untuk menghabiskan waktu luang. Terkadang saya sampai kebablasan, lalu bangun dengan satu mata pelajaran yang tertinggal. Tempatnya tanpa endapan kebisingan, menurutku sangat strategis. Di atas bangku kayu dengan kemiringan berkaki tiga, kucopet sakuku yang sedari tadi menyembunyikan smartphone. Ini demi kemaslahatan pribadi, sebab terkadang razia datang tak diundang dalam kelas. Semua tas harus dikumpulkan, lalu satu-persatu akan ditelanjangi

“ngeeeeng…cari amunisi yuk, males nih” belum sempat kunikmati udara, dari kejauhan teriakan Deny melesat mengahampiri. 

“gue punya dua rebu doang den, duit bersorban lagi susah” dua ribuan melompat dari kantong seragam ke genggamannya. “lu aja yang ke warung den, lagi mager gw” lanjutku dengan jari jempol bermain pada touchscreen. 

“ayolah, bareng aja. Teganya kau menelantarkanku sendirian.” Mukanya merayu-rayu.
“ayo, tapi sekalian cabut aja ya. Lagi males juga gw ikut pelajaran agama” ajakan yang lebih menakutkan kutawarkan padanya.

“gila lo nggeng, alpa gua udah berjejer di absensi. Mau bunuh gw loh?” entah kenapa rasa khawatirnya terdengar seperti lawakan bagiku. Tidak biasanya dia prihatin dengan nilai kehadirannya. Habis kerasukan wahyu apa anak ini? Aku pun juga tak habis fikir. 

Deny berlalu pada sepanjang jalan setapak di antara rumah panggung yang berbaris tak cukup rapi. “ jangan lama ya den, waktu istirahat tinggal tiga belas menitan lagi” sahutanku ikut mengejarnya. Kembali menunduk pada smartphone milikku, mencari beberapa file pada document. -sebuah seni untuk bersikap bodoh amat- salah satu pdf yang mulai kubuka dan melanjutkan petualanganku. 

            Mark Menson adalah pengarang buku ini.  Saya mengenalnya lewat akun instagram dengan sekian banyak kutu buku yang mulai mengoceh tentang karyanya. Sengaja juga saya terjaga hingga dini hari karena tuntutan paketan yang menipis hanya untuk mendownloadnya. Ini satu-satunya cara untuk membaca karya beliau. Tidak mungkin juga saya mencarinya di kampung, rumah baca tak berdiri di sana, apalalgi bangunan mewah seperti gramedia. Itu sama saja mimpi di siang bolong. Kenyataan seperti inilah yang sangat menyakitkan. Kemajuan teknologi tak berbanding lurus dengan pendidikan masyarakat. Memupuk jiwa konsumennya, lalu semuanya akan berakhir seperti kaum hedonis. Anehnya, semua orang terlihat baik-baik saja saat terperangkap dengan kondisi kepincangan ini. Lebih pincang dari kursi kusut yang sedang memangkuku. Mungkin saja saya yang over peka ataukah mereka yang kelewatan bermasa bodoh. Entahlah. Tapi, tentunya sangat berbeda jauh dengan sikap masa bodoh ala Mr. Mark.

            Baru dua lembar saya berpetualang dalam buku ini, dingin menusuk ke dua belah pipiku tiba-tiba menerkam. Dari belakang Deny tanpa sepengetahuanku mengendap-endap menempelkan teh gelas yang baru dibelinya.

“Sialan lo den, bercandanya gak lucu. Dingin gile”. Empat puluh lima derajat leherku berbeputar ke arahnya, Gigi taringnya ikut tertawa bahagia.“hahaha…baru segitu nggeng. Nih saya ada dua batang, mau kaga?” sambil menyodorkan class mild batangan hasil dua ribuan. Dua teh gelas tadi ternyata dia beli sendiri. Kepalaku tiba-tiba mengoceh, mungkin seperti inilah untungnya bersahabat. Sekalipun seolah menanggung jajanan masing-masing, tapi rasanya seperti berbagi. Mungkin juga ini yang disebut dengan menyederhanakan kebahagiaan

Kecanduan, mungkin itu kata yang paling tepat untuk membahasakan kebiasaan kami. Mulai mengomsumsi batangan sejak awal semester pertama secara otodidak dan teratur. Tapi, tak sampai berasap dalam ruangan seperti anak-anak yang lebih bajingan lainnya. Beberapa kode etik perokok kami terapkan dan tak boleh dikhianati. Berasap di lingkungan umum, di warung-warung, memakai seragam sekolah kecuali di markas kami, adalah undang-undang yang tak boleh kami langkahi. Alkohol dan narkotika kami tidak mengosumsinya, kami masih menghargai masa depan. Untuk membeli rokok batangan saja masih belepotan, apalagi harus berurusan dengan alkohol dan narkotika, bajetnya bisa mengakibatkan kanker –kantong kering-. Bandel dengan batangan rokok menurutku adalah cara terbaik untuk menikmati aktivitas muda yang mononton keluar masuk sistem raksasa ini.

Asap keluar masuk melewati labirin rongga hidung dan mulut. Sesekali pipet plastik transparan kami sedup. Ahhh..nikmat mana lagi yang harus kami dustakan. Beberapa obrolan ngalur-ngidul juga mengalir seirama angin berhembus. Alunan nada dan jeritan lirik iwan fals masih mendayu-dayu di playlist. Dari sekian cara siswa menghabiskan waktu istirahat, cara kami adalah yang terbaik. Betapa rugi mereka yang menyia-nyiakan saat seperti ini. seperti inilah opini yang saya bangun. Setiap orang bebas menikmati waktunya.

Bunyi alarm sekolah pertanda jam ke dua berteriak dari balik benteng. Masih ada setengah batang, masih tersisa lima ratus perak dengan ujung yang menyala merah. Dibuang juga sangat sayang, telat beberapa menit adalah pilihan terbaik ketimbang rugi asap. Andai saja hari ini si Abrar ikutan, sedari tadi kami berdua sudah diseretnya ke dalam ruangan. Dia tidak datang hari ini, dia masuk angin karena semalaman kami bertiga nongkrong sambil memainkan gitar di depan terasnya. 

“lima menit lagi ya nggeng, nanggung banget nih. Lagian ibu juga biasanya masuk telat. Kalaupun beliau udah datang, bilang aja habis dari wc, simple kan?” sahut Deny setelah memainkan bundaran asap dari mulutnya. Tumben juga dia punya ide cemerlang untuk mengatasi pertanyaan interogasi  ibu. Mengisi amunisi selesai, kami berjalan menuju kamar mandi sekolah, membasuh muka dan sedikit berkumur-kumur. Hari ini aku setujui rencana Deny. Tiba di depan kelas, ibu guru ternyata juga ikutan telat. “ketiban rejeki nomplok kita den, pelajaran belum dimulai.” Bisikku pada Deny.

“ngapain kalian membajak pintu masuk, sana duduk ke kursi kalian” sapa ibu Nuri tiba-tiba. Kaget minta ampun, melirik senyum merah meronanya membuatku melanglang buana aneh. Beliau masih single, umurnya sekitaran 28 tahun menurut kacamata pribadiku. Sebenarnya aku tidak terlalu peduli dengan bilangan usianya, jelasnya beliau termasuk guru populer di kalangan para siswa. Seragam dinas yang ketat membentuk lingkar ramping tubuhnya, entah apa yang ada dalam benaknya. sebagai guru agama, seharusnya dia mengenakan jilbab yang besar, kalau perlu pakai cadar saja sekalian biar lebih menyerupai ninja. Tapi cara dia berpakaian, mendempul wajah, sudah cukup menggambarkan isi kepalanya. Sepertinya, beliau juga tidak terlalu peduli dengan aturan-aturan agama yang berlaku. Guru agama yang cuek pada agama. “hahahha..lelucon pagi yang menggelikan” oceh benakku.

Materi hari ini cukup memiliki daya gravitasi yang kuat dari sebelumnya, menarik. Ayat-ayat yang berbicara tentang demokrasi akan dibedah dalam ruangan. Kelas di belah menjadi dua kelompok pro dan kontra. Kebanyakan siswa lebih memilih untuk bersikap pro, hanya delapan dari tiga puluh siswa yang bersikap sebaliknya. Bukan karena mau, tapi tiket untuk pro sudah ludas terjual.

“islam sangat mendukung adanya demokrasi, ini bisa kita lihat dalam dua ayat al-qur’an (as-Syura : 38 dan al-Imron :159) yang menyinggung perintah untuk bermusyawarah. Sementara musyawarah juga bagian dari demokrasi, sehingga tak ada yang bertentangan di antara ke duanya.” Dengan cekatan Si bintang kelas mulai membual. Seperti menangkap udara, ocehannya terdengar sangat cacat bagiku. Untuk disebut bintang kelas, aku merasa kecewa berat padanya. Bagaimana tidak, berbicara demokrasi tidak seperti mengomsumsi mie instan, tinggal sedup, lalu kelar.

“oleh karena itu, kita semestinya berdemokrasi sesuai dengan tuntunan al-Qur’an.” Lanjut dia membual lagi. Pihak kontra kebingungan, mulai memotong dari mana mereka akan menyanggah, aku juga penasaran. Kali ini, saya lebih memilih untuk diam. Waktu istirahtku belum cukup rasanya. “tapi, apakah ada contoh konkret bermusyawarah dalam demokrasi? ” sanggah Ayu, seorang yang kukenal selama ini termasuk cupu, tiba-tiba saja berani menodongkan pertanyaan. “jadi gini yu’, dalam UUD 1945 pasala 20 Ayat 1 menjelaskan tentang proses perancangan undang-undang. Belum lagi pada lanjutan ayat 2 nya yang menerangkan lebih jelas lagi. Undang-undang dibuat oleh DPR bersama persiden. Artinya, di sana terdapat musyawarah” tegas Hendra dengan cukup ilmiah. Dia juga memang termasuk siswa yang cerdas dalam kelas kami, hanya beda satu peringkat dengan Rina. 

            Diskusi berjalan empat puluh menit dengan ketimpangan. Kelompok kontra sepertinya benar-benar babak belur, dihajar bebagai argumentasi yang membisukan. “nggeng, kok lo gak ngomong sih. Lo gak lihat kita udah bonyok?” bisik Deny yang sedari tadi terlihat resah. aku tidak menjawab, hanya melemparnya dengan sebongkah senyum. 

            “sepertinya hasil diskusi sudah jelas. Dalil-dalil yang pro lebih unggul. Kalau tidak ada sanggahan lagi, kita akhiri saja dan lanjut pada materi berikutnya” sahut ibu Nuri sebagai moderator jalannya diskusi. “genggong bu, sepertinya dia ingin sedikit menanggapi” mendadak teriakan Deny memotong. Sialan lo den, bangsat, tidak seperti ini cara mengerjai teman. Hari ini dia benar-benar memuakkan. Belum sempat kutolak ibu Nuri malah mempersilahkan “owh, jadi bagaimana menurutmu nggeng?” rasanya benar-benar sudah skakmat. Tidak ada jalan lagi untuk menolak. sedikit kuhela nafas, lalu mulai ikut mengoceh.

            “ menurut saya, sedari tadi sepertinya kita hanya membual saja bu, yang ada hanyalah pemaksaan dalil-dalil saja. bagaimana mungkin musyawarah jadi bagian dari demokrasi, sementra musyarawarah lebih umum darinya. Bermusyarah dalam urusan agama itu tidak bisa disebut dengan demokrasi sepenuhnya. Sebab akan menyalahi hakikat demokrasi, dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Dalam hukum adat pun seperti itu, yang ada hanyalah dari tetua untuk masyarakat. Sekalipun ada yang disebut dengan demokrasi islam, tapi sebenarnya itu bentuk pengislaman demokrasi bukan mendemokrasikan islam.” Sedikit mengacaukan forum yang menjujung tinggi kemuliaan demokrasi. 

            “mengislamkan demokrasi, itu maksudnya apa nggeng? Saya masih kurang faham” dari sebrang terdengar ciutan Hendra. “ tidak semua demokrasi bisa dimasukkan dalam ayat ini ndra, anggap saja seperti demokrasi monarki, ini di luar dari jangkauan dalil-dalil yang sedari tadi kau muntahkan”. Sedikit bumbu penjelasan kutaburkan padanya. Sudut sebrang sontak sepi, ketimpangan serasa berbalik. Dari pihak kontra, wajah-wajah yang tadinya terlihat bonyok, sekarang lebih terlihat manis memancar. 

            Seharusnya buku pelajaran terlebih dahulu disaring, dicuci dengan dengan sabun sebelum dijadikan sebagai santapan para  siswa. Lagi pula itu bukanlah kitab suci, tentu juga akan terdapat sesuatu yang keliru di dalamnya. Tapi sudahlah, momen santaiku di sela-sela diskusi juga sudah hancur gara-gara teman yang keterlaluan rese. Ibu Nuri juga sudah mengakhiri diskusi dangan dalih tidak cukup waktu nantinya untuk melanjutkan materi. Juga, sepertinya akan lebih baik ketimbang memperpanjang durasi debat konyol ini.

Kembali saya perbaiki posisi. Meja-meja diatur ke posis awal. Belakang Rahmat yang berbadan cukup kekar, menyediakan tempat yang aman dari sorotan bu Nuri. Kurebahkan muka di atas meja, tempat yang lumayang aman menyambung istirahat. Selamat belajar teman-temanku. Jadilah lebih peka lagi, semoga tak belajar seperti domba yang menyantap sembarang pada setiap rumput yang dijumpainya.

Idris Muhammad Yadin, 09/03/19

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Chapter 03

Mengislamkan Demokrasi   Berjarak lima belas meter samping kanan sekolah, mematung gubuk kumuh tak berpenghuni. Entah sepinya sud...