Ingin menjadi orang baik, jangan terlalu serius dalam beragama. Ungkap
Richard Dawkins. Dia seorang tokoh atheis baru di abad ini. Sekilas, ungkapan
si Richard ini ada benarnya juga. Apalagi melihat kondisi ummat beragama
akhir-akhir ini, eksistensinya jauh lebih sensitif dari hari-hari sebelumnya. Sedikit
senggol saja langsung main tonjok, bakar rumah, bahkan kemarin ada yang sampai
bakar orang. Ini yang Richard sebut sebagai orang-orang yang terlalu “serius
beragama”.
Sedikit gambaran di atas cukup membuat kita mengerti mindset
orang-orang luar tentang agama pada umumnya. Tentunya, orang-orang yang terlalu “serius
beragama” akan melihat sinis peandangan si Richard ini. Mereka akan beranggapan
bahwa ungkapannya adalah penghinaan terhadap keyakinan yang mereka anut. Seolah-olah
agama pada dasarnya mengajarkan hal-hal yang melanggar nilai-nilai kebaikan dan
meramu hal-hal yang buruk menjadi sesuatu yang mulia melalui doktrin metafisis.
Dengan seperti itu, tindak bom bunuh diri (sebagai hal yang tercela) akan
dianggap mulia bagi mereka dengan iming-iming kebolekan bidadari yang menanti
di alam sana atau dengan keturunan yang terlpilih dari Tuhan sehingga bebas
melenyapkan nyawa untuk wilayah kekuasannya.
Aku bukannya membela ungkapan si atheis Richard, terlebih menyuruh
orang-orang yang beragama untuk bersikap santai terhadap keyakinan yang mereka
khultuskan. Namun, dari keduanya ada beberapa hal yang agak mengganjal bagiku. Misalnya
tindakan Richard yang serta merta menghukumi agama dengan kalimat frontalnya
itu. Benar memang, bahwa apa yang nampak pada sesuatu akan menyingkap identitas
nilai yang melekat padanya. Namun, bukan berarti sikap keras dari kaum religius
menyingkap apa yang mereka yakini. Sebab, tak semua orang bergama dengan
memahami aturan-aturan yang telah ditetapkan dalam kitab-kitab mereka sendiri. Tidak
hanya itu, banyak juga yang tahu akan aturan-aturan itu, namun tak
mengejwantantahkan sesuai dengan tuntunan yang ada. inilah kenyataan
orang-orang beragama yang tak terfahami oleh Richard. Sebab, jika dia
benar-benar faham, maka kalimat frontal itu tak akan keluar dari lisannya.
Tidak sefaham dengan si atheis itu, juga bukan berarti membenarkan
beberapa aksi penyimpangan yang dilakukan oleh orang-orang beragama. Berbeda dengan
mindset si Richard. Bagiku, orang baik adalah mereka yang “serius beragama”. Mengkaji
seluk-beluk keyakinannya dan mengamalkan nilai-nilai mulia yang termaktub dalam
sejarah orang-orang saleh. Dengan begitu, beberapa wajah kekerasan yang nampak
melalui wajah agama tak akan pernah muncul ke permukaan.
Itu yang bisa aku petik dari problem di atas. Namun, jika ada yang
bertanya aku sendiri ada di kubu yang mana? Ketahuilah. Saat mencoret tulisan ini, aku
masih belum beranjak dari tempatku, secangkir teh dinginku belum ludas. Jadi,
aku tak di kubu siapa-siapa dan tak ingin berkubu-kubu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar