Jumat, 08 Maret 2019

Chapter 01



 Blackman dan Calvin terselip di dedaunan padi

Hari ini aku tak terlalu peduli dengan angka yang berjejer pada kalender. Warna merah melingkar, hanya pahatan itu yang membekas dalam dinding memoriku. Pertanda wekeend dimulai saat suara ayam jago milik ayah mulai merayap di sela-sela papan rumah panggung kami. Saya terbangun sedikit kaget, sakit pada bagian paha seperti gigitan semut.

 “Bangun genggong“ sahut mama dengan jarinya seperti jepitan kepiting di pahaku.
Menurutku, caranya membangungkan lebih ampuh dari alarm manapun. Tapi ini kan hari libur, tak ada tempat yang lebih indah selain kasurku untuk saat ini. “ minggu mah” spontan insting malasku menyahut tanpa kandas. Kutarik lagi bantal gulingku sembari membelakanginya. 

“mau jadi apa anak ini, bukannya kemarin kau ada janji ke sawah menemani ayahmu” oceh mama dengan memakai nada mayor. 

Kuhela nafas dalam-dalam “ iya, iya” beranjak dari pembaringanku dengan muka kusut melipat. Mulai kulewati menurun anak-anak tangga yang terbuat dari kayu dengan handuk yang melingkar di leher. Dari kolong rumah, senyum ejekan ayah melirikku. Memang agak menjengkelkan, tapi sudahlah, ejekannya masih cukup bagus untuk memulai pagiku ketimbang ocehan mama.

Timba demi timba kutarik dari sumur lalu kutuang ke mulut baskom yang menganga. Tempat biasanya saya dan sepupu mandi bersama, maklum rumah kami hanya berjarak tujuh langkah. Tapi hari ini aku sendirian, mungkin saja dia masih pingsan dengan mimpi-mimpi indahnya bersama pagi. Meskipun usianya terpaut tujuh tahun lebih tua dariku, tapi kalau persoalan mandi kami sejoli. Terkadang dia juga suka mencopet timbaanku dengan muka polosnya seolah tanpa dosa sama sekali. Begitulah, sudah kumasukkan dia dalam daftar sepuluh sepupu yang paling usil.

Seusai membaluti sekujur tubuh dengan air, pake sabun, sampoan dan gosok gigi, kutarik handuk untuk mengeringkan rambut lalu kulilit melingkar di pinggangku. Pakaian yang disiakpan oleh mama juga telah melekat di tubuhku. “breakfast time” sahut perutku yang mulai keroncongan karena dingin. Kuhampiri ayah yang masih setia menemani gudang garam merah kretek andalannya dengan setengah gelas kopi yang tersisa.

“yah, di sawah tugas saya ngapain?” tanyaku memulai obrolan sembari mengunyah pisang goreng yang masih sedikit hangat. 

“palingan hanya sekedar mencabuti tumbuhan liar” ayah manjawab. Memang, di usia padi yang menginjak satu bulanan, biasanya banyak tumbuhan liar yang ikut eksis di antara barisan padi muda. Tentunya, itu sangat mengganggu proses tumbuh kembangnya. Sepertinya ini akan melelahkan, sekalipun lahan kami hanya berkisar setengah hektaran doang. Sudah jadi resiko anak tunggal, juga entah kenapa mereka berdua enggan memberiku adik. Padahal, dengan begitu aku tidak perlu lagi repot sendirian membantu ayah .

Mengisi amunisi pun kelar, dua tiga langkah mengayun di atas punggung jalan setapak. Nanyian dedaunan yang terhembus angin di antara pepohonan rindang dekat jalan.  Melewati kebun-kebun sebelum memandang luas lahan sawah yang menghampar. Setelah sesaat berjalan, butiran embun yang mencengkram dedaunan padi mencuri mataku. Seolah tak ingin lenyap seiring matari yang terus memanjat hari. 

“lihat apa nggeng?” ayah menepuk bahuku yang sedari tadi ternyata malah mengamatiku. Aku sedikit kaget dengan pertanyaannya yang tiba-tiba menodong benakku. Fokusku membuyar. 

“itu lo yah, spertinya para padi lagi asyik melepas dahaga dengan butiran embun. Mungkin mereka kelelahan berdiri sepanjang malam.” Sedikit ngaco kutangkis tanyannya. “hahaha..ada-ada aja kamu genggong” ayah tertawa lepas dengan matanya yang menyipit. Tak lupa, jenggotnya ikut bergoyang.

Sedari dulu aku memang suka membuat lelucon. Sekedar melihat padi itu pun memberiku wawasan yang agak aneh. Mengapa padi selalu berdiri sampai akhir hayatnya? Apa mereka tidak kecapean? Di siang hari pun mereka tetap mematung di tempatnya, kenapa tidak memilih sejenak berteduh hingga sore menjelang? Apakah majikan mereka melarangnya? Kalau pun iya, maka ini termasuk dalam bentuk penindasan pada padi.  Tapi siapa juga yang peduli, sungguh malang nasib kalian.

Bibirku merekah, tanpa suara aku menertawai isi kepalaku. Adalah metode paling aman agar ayah tidak menganggapku lebih aneh lagi jika saya tertawa tanpa sebab. Kurang tiga tahun hingga umurku menginjak kepala dua. Rasanya, sudah cukup dewasa bagiku mamahami adanya sistem yang eror dikepalaku. Di samping aku juga menyadari, bahwa anak-anak normal tidak mungkin memikirkan apa yang terlintas dalam benakku. 

Kali ini pemandangan baru menyambut. Dari pinggiran sawah  gerombolan padi muda nampak indah mulai bergoyang seirama arah angin memandu.  Berputar random benakku, masih memikirkan apa jawaban yang terlintas dari setiap pertanyaan yang kusajikan dalam kepalaku. Di tengah keramaian padi, aku tak peduli. Hal yang terpenting hanyalah bagaimana menormalisasi pola fikirku yang kacau ini. “kasus seperti ini pasti ada jalan keluarnya” oceh benakku dengan rasa penasarannya. 

Nalarku masih masih berkeliling di antara susunan rak tempat beberapa konsep menumpuk. Tak sengaja kutemukan nama Blackman dan Melvin Calvin. Keduanya adalah sosok ilmuan yang  bercerita tentang aktivitas tumbuhan hijau dan jauh hari kita kenal dengan reaksi fotosintesis. Sekalipun masih banyak ilmuan pendahulunya yang meneliti tentang masalah ini, namun sempurnanya teori ini berakhir di masa mereka berdua 1905-1940. Hal yang sangat menarik ketika Blackman mulai bercerita tentang aktivitas tumbuhan yang tanpa henti. Saat siang, melalui mulut klorofilnya, tumbuhan menerima bantuan dari cahaya lalu mengunyah karbon dioksida dengan tambahan air menjadi glukosa dan memproduksi oksigen. Itulah alasan kenapa Joseph Pristley sebelumnya meyakini, bahwa pembakaran perlu melibatkan tumbuhan. Eksperimennya dengan meletakkan lilin menyala pada ruangan yang tertutup hingga apinya tewas seketika. Setangkai mint kemudian dia masukkan di dalamnya, lalu api dinyalakan kembali. Hasilnya mengejutkan, nyala api bisa menembus beberapa hari hingga tewas lagi. 

Menjelang malam, tumbuhan hijau ini pun tak lelah melanjutkan reaksi fotosintetisnya. Prosesnya tepat pada bagian yang disebut stroma. Tempat ini juga masih merupakan wilayah kekuasaan Kloroplas. Bahan bakar untuk menggerakkan aktivitas ini adalah CO2  yang mereka comot dengan sembarang dari udara bebas. Dengan demikian, dia bisa kembali memproduksi glukosa dari  zat sisa siang tadi untuknya sendiri. Siapa sangka, ternyata bacaan seperti ini bisa menjawab pertanyaan konyolku. Sekalipun saya bukan anak IPA, hobi membacaku ternyata tidak sia-sia. Paling tidak, cara berfikirku tidak terlihat aneh dengan jawaban ini. 

Setengah sadar ternyata ke dua kakiku telah menginjak garis pembatas sawah milik kami. Perjalanan minggu pagi berakhir bersama pengetahuan baru dengan gerombolan padi muda yang masih bargoyang. Kutatap dedaunannya dalam-dalam lalu kuberi hormat pada mereka. Ayah melirik dengan tatapan yang semakin aneh. 

“walah nggeng, sudah minum obat kamu hari ini?” teriak padaku dengan gelagak tawanya yang menyusul. Ternyata ayah malah menganggapku makin stress. “tadi dedaunan padi berbagi pengetahuan baru padaku yah, katanya ; lihat ayahmu, sepanjang perjalanan matanya hanya melototimu”. Pungkasku balik menertawainya.

 26/02/19

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Chapter 03

Mengislamkan Demokrasi   Berjarak lima belas meter samping kanan sekolah, mematung gubuk kumuh tak berpenghuni. Entah sepinya sud...