Blackman
dan Calvin terselip di dedaunan padi
Hari
ini aku tak terlalu peduli dengan angka yang berjejer pada kalender. Warna
merah melingkar, hanya pahatan itu yang membekas dalam dinding memoriku.
Pertanda wekeend dimulai saat suara ayam jago milik ayah mulai merayap di
sela-sela papan rumah panggung kami. Saya terbangun sedikit kaget, sakit pada
bagian paha seperti gigitan semut.
“Bangun genggong“ sahut mama dengan jarinya
seperti jepitan kepiting di pahaku.
Menurutku,
caranya membangungkan lebih ampuh dari alarm manapun. Tapi ini kan hari libur,
tak ada tempat yang lebih indah selain kasurku untuk saat ini. “ minggu mah”
spontan insting malasku menyahut tanpa kandas. Kutarik lagi bantal gulingku sembari
membelakanginya.
“mau
jadi apa anak ini, bukannya kemarin kau ada janji ke sawah menemani ayahmu” oceh
mama dengan memakai nada mayor.
Kuhela
nafas dalam-dalam “ iya, iya” beranjak dari pembaringanku dengan muka kusut
melipat. Mulai kulewati menurun anak-anak tangga yang terbuat dari kayu dengan
handuk yang melingkar di leher. Dari kolong rumah, senyum ejekan ayah
melirikku. Memang agak menjengkelkan, tapi sudahlah, ejekannya masih cukup
bagus untuk memulai pagiku ketimbang ocehan mama.
Timba
demi timba kutarik dari sumur lalu kutuang ke mulut baskom yang menganga. Tempat
biasanya saya dan sepupu mandi bersama, maklum rumah kami hanya berjarak tujuh
langkah. Tapi hari ini aku sendirian, mungkin saja dia masih pingsan dengan
mimpi-mimpi indahnya bersama pagi. Meskipun usianya terpaut tujuh tahun lebih
tua dariku, tapi kalau persoalan mandi kami sejoli. Terkadang dia juga suka
mencopet timbaanku dengan muka polosnya seolah tanpa dosa sama sekali.
Begitulah, sudah kumasukkan dia dalam daftar sepuluh sepupu yang paling usil.
Seusai
membaluti sekujur tubuh dengan air, pake sabun, sampoan dan gosok gigi, kutarik
handuk untuk mengeringkan rambut lalu kulilit melingkar di pinggangku. Pakaian
yang disiakpan oleh mama juga telah melekat di tubuhku. “breakfast time” sahut
perutku yang mulai keroncongan karena dingin. Kuhampiri ayah yang masih setia
menemani gudang garam merah kretek andalannya dengan setengah gelas kopi yang
tersisa.
“yah,
di sawah tugas saya ngapain?” tanyaku memulai obrolan sembari mengunyah pisang
goreng yang masih sedikit hangat.
“palingan
hanya sekedar mencabuti tumbuhan liar” ayah manjawab. Memang, di usia padi yang
menginjak satu bulanan, biasanya banyak tumbuhan liar yang ikut eksis di antara
barisan padi muda. Tentunya, itu sangat mengganggu proses tumbuh kembangnya.
Sepertinya ini akan melelahkan, sekalipun lahan kami hanya berkisar setengah
hektaran doang. Sudah jadi resiko anak tunggal, juga entah kenapa mereka berdua
enggan memberiku adik. Padahal, dengan begitu aku tidak perlu lagi repot
sendirian membantu ayah .
Mengisi
amunisi pun kelar, dua tiga langkah mengayun di atas punggung jalan setapak.
Nanyian dedaunan yang terhembus angin di antara pepohonan rindang dekat jalan. Melewati kebun-kebun sebelum memandang luas
lahan sawah yang menghampar. Setelah sesaat berjalan, butiran embun yang
mencengkram dedaunan padi mencuri mataku. Seolah tak ingin lenyap seiring
matari yang terus memanjat hari.
“lihat
apa nggeng?” ayah menepuk bahuku yang sedari tadi ternyata malah mengamatiku.
Aku sedikit kaget dengan pertanyaannya yang tiba-tiba menodong benakku. Fokusku
membuyar.
“itu
lo yah, spertinya para padi lagi asyik melepas dahaga dengan butiran embun.
Mungkin mereka kelelahan berdiri sepanjang malam.” Sedikit ngaco kutangkis
tanyannya. “hahaha..ada-ada aja kamu genggong” ayah tertawa lepas dengan
matanya yang menyipit. Tak lupa, jenggotnya ikut bergoyang.
Sedari
dulu aku memang suka membuat lelucon. Sekedar melihat padi itu pun memberiku
wawasan yang agak aneh. Mengapa padi selalu berdiri sampai akhir hayatnya? Apa
mereka tidak kecapean? Di siang hari pun mereka tetap mematung di tempatnya,
kenapa tidak memilih sejenak berteduh hingga sore menjelang? Apakah majikan
mereka melarangnya? Kalau pun iya, maka ini termasuk dalam bentuk penindasan
pada padi. Tapi siapa juga yang peduli,
sungguh malang nasib kalian.
Bibirku
merekah, tanpa suara aku menertawai isi kepalaku. Adalah metode paling aman
agar ayah tidak menganggapku lebih aneh lagi jika saya tertawa tanpa sebab.
Kurang tiga tahun hingga umurku menginjak kepala dua. Rasanya, sudah cukup
dewasa bagiku mamahami adanya sistem yang eror dikepalaku. Di samping aku juga
menyadari, bahwa anak-anak normal tidak mungkin memikirkan apa yang terlintas
dalam benakku.
Kali
ini pemandangan baru menyambut. Dari pinggiran sawah gerombolan padi muda nampak indah mulai
bergoyang seirama arah angin memandu. Berputar
random benakku, masih memikirkan apa jawaban yang terlintas dari setiap
pertanyaan yang kusajikan dalam kepalaku. Di tengah keramaian padi, aku tak
peduli. Hal yang terpenting hanyalah bagaimana menormalisasi pola fikirku yang
kacau ini. “kasus seperti ini pasti ada jalan keluarnya” oceh benakku dengan
rasa penasarannya.
Nalarku
masih masih berkeliling di antara susunan rak tempat beberapa konsep menumpuk.
Tak sengaja kutemukan nama Blackman dan Melvin Calvin. Keduanya adalah sosok
ilmuan yang bercerita tentang aktivitas
tumbuhan hijau dan jauh hari kita kenal dengan reaksi fotosintesis. Sekalipun
masih banyak ilmuan pendahulunya yang meneliti tentang masalah ini, namun
sempurnanya teori ini berakhir di masa mereka berdua 1905-1940. Hal yang sangat
menarik ketika Blackman mulai bercerita tentang aktivitas tumbuhan yang tanpa
henti. Saat siang, melalui mulut klorofilnya, tumbuhan menerima bantuan dari
cahaya lalu mengunyah karbon dioksida dengan tambahan air menjadi glukosa dan
memproduksi oksigen. Itulah alasan kenapa Joseph Pristley sebelumnya meyakini,
bahwa pembakaran perlu melibatkan tumbuhan. Eksperimennya dengan meletakkan
lilin menyala pada ruangan yang tertutup hingga apinya tewas seketika.
Setangkai mint kemudian dia masukkan di dalamnya, lalu api dinyalakan kembali.
Hasilnya mengejutkan, nyala api bisa menembus beberapa hari hingga tewas lagi.
Menjelang
malam, tumbuhan hijau ini pun tak lelah melanjutkan reaksi fotosintetisnya.
Prosesnya tepat pada bagian yang disebut stroma. Tempat ini juga masih
merupakan wilayah kekuasaan Kloroplas. Bahan bakar untuk menggerakkan aktivitas
ini adalah CO2
yang
mereka comot dengan sembarang dari udara bebas. Dengan demikian, dia bisa kembali
memproduksi glukosa dari zat sisa siang
tadi untuknya sendiri. Siapa sangka, ternyata bacaan seperti ini bisa menjawab
pertanyaan konyolku. Sekalipun saya bukan anak IPA, hobi membacaku ternyata
tidak sia-sia. Paling tidak, cara berfikirku tidak terlihat aneh dengan jawaban
ini.
Setengah
sadar ternyata ke dua kakiku telah menginjak garis pembatas sawah milik kami.
Perjalanan minggu pagi berakhir bersama pengetahuan baru dengan gerombolan padi
muda yang masih bargoyang. Kutatap dedaunannya dalam-dalam lalu kuberi hormat
pada mereka. Ayah melirik dengan tatapan yang semakin aneh.
“walah
nggeng, sudah minum obat kamu hari ini?” teriak padaku dengan gelagak tawanya
yang menyusul. Ternyata ayah malah menganggapku makin stress. “tadi dedaunan
padi berbagi pengetahuan baru padaku yah, katanya ; lihat ayahmu, sepanjang
perjalanan matanya hanya melototimu”. Pungkasku balik menertawainya.
26/02/19
Tidak ada komentar:
Posting Komentar