Gembala berseragam rapih
Mendung mendekap pagi. Saya tak tahu pasti mengapa mentarinya telat bangun, mungkin saja dia semalaman habis bercumbu dengan kutub utara. Di atas sepeda yang berlari selow, pun kepalaku masih mengoceh tentang hal-hal aneh. Pakaian putih abu-abu menemaniku menjajaki aspal menuju sekolah yang tidak tercinta. Jam tangan juga seenaknya menunjuk pukul 07:20. kampret, semoga saja prajurit gerbang ikut telat bersama mentari.
Tidak sewajah aspal perkotaan yang bonyok macet setiap paginya. Jalan desaku kebanyakan rontok berlubang akibat curah hujan dan lirikan panas mentari, bukan dari gesekan karet tebal yang lalu-lalang setiap detiknya. Jalanan kami adalah anak tiri dari jalan-jalan ibu kota. Dibangun sembrono lalu dicampakkan begitu saja. Jujur saja saya tak sudi melewati jalan ini, rintih aspalnya terlalu berisik saat ban sepedaku mulai berlari di atasnya.
Butuh sepuluh menitan dengan kecepatan dua puluh km/jam untuk sampai ke tembok china yang melilit sekolahku. Penjagaannya yang begitu ketat hingga sangat susah menjebolnya. Sungguh sekolah yang sangat merepotkan, tidak ada jalan masuk selain pintu gerbang dengan prajurit yang siap siaga. Fisik tak berguna lalu saya mengakalinya, dari jauh hari sudah kususun taktik mengatasinya. Buku-buku pelajaran sengaja kutinggal di laci mejaku dan pulang hanya dengan mengantongi sebatang pulpen, selebihnya cukup bersilat lidah saja dengan prajurit itu.
Sebelum memulai penyamaran, sepeda harus terlebih dahulu kuparkir samping gubuk penjual somai belakang sekolah. Lalu berjalan tegap dengan pandangan santai menuju ke depan pintu. Setibanya, pak Sudeng menghadang lalu lintasku.
“kenapa kamu telat?’’ Tanyanya sebagai prajurit gerbang dengan memukul-mukul tongkat ke tangan kanannya.
“gak mungkin telat saya pak” sedikit melebarkan senyum padanya untuk meyakinkan.
“tidak usah banyak bacot lo bocah, jalan jongkok sana ke depan kelasmu atau mau saya hadiahi permen pedas?” bicaranya dengan sedikit memojokkan beserta nada ancamannya.
“yaelah pak, tadi pas selesai apel pagi saya hanya keluar sebentar beli pulpen. Soalnya ketinggalan di rumah. Buku saya juga sudah di dalam kelas. Bagaimana ceritanya dia berangkat lebih dulu dariku” dengan tawa kecil kutimpali.
“bentar lagi kelas mulai pak, kalo terlambat gimana? Bapak bisa kena tegur juga loh nantinya karena menahanku.” Kutambah dalih untuk menepis ragunya.
“yaudah, cepat masuk sana” jawabnya menyempitkan jidat dengan alis yang mengkerut ke atas.
Penyamaran sukes, saya kemudian berjalan melewati lorong di antara himpitan dua bahu kelas dengan dada yang cengingisan. Ruangan paling ujung di atas lantai dua, terdengar teriakan penjual ikan ala anak-anak IPS yang bawel ikut meramaikan pagi yang buta.
“eeeeeh, lo datang juga nggeng, selamat pagi murid teladan” sapa Deny saat saya mematung di depan pintu. Dia salah satu sahabat karibku di tahun pertama ini. Sebutan murid teladan tapi dalam makna yang berbeda. Teladan merupakan singkatan dari kalimat “telat datang cepat pulang”. Julukan itu sebenarnya milik kami berdua.
“pagi juga mahluk sebangsaku”. Deny mengakak mendengar jawaban sebangsanya. Kami berdua memang tergolong dalam buronan para guru-guru killer. Agak heran juga aku, kenapa dia lebih dahulu tiba dariku. Saya masih ingat beberapa hari yang lalu, saat Lasade’ salah satu prajurit berpatroli di sekitaran benteng kala apel pagi berlangsung. Kami berdua dipergoki di warung Bu Sannang penjual bakwan samping sekolah, lalu diseret ke tengah pekarangan. Di sanalah pra sejarah ketenaran bandel kami naik daun.
Aku bukanlah tipe orang yang patuh terhadap aturan. Disiplin, bersikap baik dan mengerjakan PR bukanlah modelku. Melakukan sesuatu yang diinginkan selama tidak melangkahi garis norma-norma adalah sesuatu yang penting. Dalam benakku pun mestinya tak perlu ada yang disebut PR, sebagian besarnya saya selesaikan di sekolah. lingkungan rumah adalah sajian lain yang mesti dinikmati. Apalagi lagi dengan istilah kegiatan berkelompok di luar sekolah. sedari SMP aku tak pernah melakukannya.
Lonceng masuk berdering seperti tanda gawat darurat di markas pemadam kebakaran. Pak Sukir tiba menggandeng buku mata pelajar IPS kelas X semester genap. Beliau mulai memaparkan sejarah masuknya imperialisme di nusantara sebagai lanjutan materi kemarin seputar kolonialisme.
“masuknya model penjajahan ini karena kerajaan Turki yang melarang jual beli di Konstantinopel untuk orang-orang yahudi dan nasrani. Saat itu tidak ada lagi cara lain untuk memperoleh rempah-rempah kecuali berlayar ke benua lain” ocehnya dengan sesekali memandangi siswa. Delapan puluh persen pandangannya lebih melekat pada buku paket itu.
Materi yang beliau sampaikan sudah sampai lima kilometer kira-kira. Makna imperialis, tujuan para saudagar eropa dan jenis imperialis. Aku muak, semua siswa hanya seperti serombongan gembala yang duduk manis berseragam rapih dalam kelas. Mendengar tanpa bertanya walau secuil pun. Bukankah pengetahuan adalah benda mati? dan akan tetap mati tanpa diakletika yang memberinya nyawa. Seperti itulah yang Albert Einstein yakini. Kuacungkan tangan kiri memberinya kode bertanya.
“iya, genggong ada yang kurang jelas?” beliau menatapku sambil memotong materinya.
“Banyak pak, tapi saya hanya mau bertanya satu persoalan. Menurut bapak, tidakkah kami seperti domba yang berada dalam imperium, sementara sistem pendidikan dan seluruh jajarannya menjadi imperator bagi kami? Membuat standarisasi nilai sebagai tolak ukur keberhasilan bagi semua siswa dan menjadi kewajiban untuk mengikutinya. Lalu mereka yang gagal akan dikebiri sebagai manusia pecundang. Tidakkah demikian?” sontak semua kepala siswa mengarah padaku, matanya ikut bertanya. Mengapa orang malas sepertiku bisa melontarkan gagasan yang mereka tidak fikirkan sama sekali
“pala lu encer juga ngeng” bisik Deny yang sedari tadi sok memperhatikan pelajaran.
Suasana seketika hening, saya tidak terlalu mengerti mengapa semuanya jadi serasa canggung. Mau bagaiamana lagi, saya hanya meyakini satu hal, bahwa bagaimana pun model seorang siswa, dia tetap memilki hak untuk bertanya. Tanpa peduli apakah dia teladan dalam makna yang sebenarnya atau teladan dalam makna serupaku.
“pertanyaan yang menarik, dari kalian ada yang bisa jawab pertanyaan genggong?” kelas tiba-tiba terombak seperti forum diskusi. Pak sukir seolah jadi moderator yang melempar pertanyaan pada kelompok lain.
“saya pak, bukan mau jawab, tapi aku masih bingung maksud dari pertanyaan genggong. Bisa dia jelaskan lagi biar kami lebih faham?” sahut Rina yang menjadi bintang kelas saat ini.
“bisa kau perjelas lagi pertanyaanmu ngeng?” beliau menukil maksud Rina yang kebingungan.
Sebenarnya saya ingin agar beliau yang menjawab pertanyaanku. cara mengajarnya yang maha monoton pada buku selama ini membuatku cukup risih atau memang ini caranya untuk menghindari pertanyaan. saya juga tak ingin berprasangka buruk padanya. Sekalipun dahulu beliau adalah seorang guru olahraga yang kemudian berhijrah jadi guru IPS. menurutku, hal seperti ini adalah fenomena illegal yang lumrah dalam dunia pendidikan.
“hmmm….jadi begini teman-temanku tercinta. Setelah kalian memutuskan untuk bersekolah, maka saat itu pula kemerdekaan kalian tercabut. Kalian tidak lagi menjadi diri sendiri dan mimpi-mimpi kalian hanya dibatasi dengan apa yang ditawarkan oleh sistem yang ada. Kalian semua diharuskan mempelajari hal yang sama sementara bakat dan potensi kalian berbeda-beda. Bukankah ini bentuk penjajahan mental yang nyata dari imperior pendidikan? Pungkasku dengan menyajikan ibarat yang lebih dekat dengan kehidupan mereka.
“oooh, jadi menurutmu sistem pendidikan itu buruk ngeng? Lalu kenapa kamu masih memilih untuk sekolah?” balas Rina padaku dengan metode dialektikanya yang rada kurang sopan. Rasa agak kesal tergambar di seluruh mimik mukanya.
“Rin, saya tidak mengatakan bahwa imperialis itu sesuatu buruk. Selama tepat sasaran maka itu adalah sesuatu baik. Hal yang sangat disayangkan ketika sistem diterapkan secara merata sementara kemampuan alamiah setiap orang berbeda-beda. Ini adalah bentuk penindasan pada bakat-bakat yang tidak sejalan dengannya. Namun, jika sistem diterapkan pada orang penurut sepertimu, maka itu tidaklah buruk.” Sedikit cekikikan diriku seusai menghajarnya dengan dalih kesesusain.
Maafkan diriku Rina, tak ada maksud untuk mengibulimu. Ini terjadi begitu saja dan berada di luar kendaliku dimulai saat kau tiba-tiba saja mengoceh sok faham. Mau bagaimana lagi, anggur sudah jadi miras. Teguk dan nikmatilah. Untuk ke dua kalinya tanpa sadar bel berteriak pertanda jam istirahat menjemput.
“ iya anak-anak. Besok kita lanjut pelajaran lagi.” Sahut Pak Sukir setelah bangun dari kursinya lalu berjalan menuju kantor dengan ekspresi kebingungan.Murid lain mengikutinya dari belakang, bertebaran keluar seperti anak ayam mencari makan.
"Kacau, semoga saja si Rina tidak tersinggung dengan caraku tadi." oceh benakku. Kuhampiri Rina dengan sedikit rasa bersalah yang mengganjal sanubari. Aku berdiri di depan mejanya, bola matanya menengadah kesal memandangiku.
“napa lo ke sini, mau cari masalah lagi?” belum sempat meminta maaf, rasa bepernya ternyata lebih cepat menanggapiku.
“yang tadi jangan diambili hati Rin, saya sebenarnya hanya bercanda. Lagipula, menurutku kau masih terlalu cantik untuk jadi kambing-kambing imperator.” sadikit sanjungan kuberi padanya. Dari pada menjelaskan hal-hal yang logis untuknya, gombalan dan pujian sudah lebih dari cukup memperoleh maafnya. Mau secerdas apapun, dia juga masih tetaplah wanita yang rentan dengan behasa-bahasa roman.
Idris Muhammad Yadin, 02/03/19
Tidak ada komentar:
Posting Komentar