Part 5 – Untuk apa?
Aku sempat berfikir, jika seorang pelajar saja gagal
dalam memaknai belajar, kira-kira bagaimana pemaknaan belajar bagi orang-orang
yang tak berpendidikan? Hmm,,,tapi sudahlah, kata orang tidak baik jikalau
membandin-bandingkan sesuatu. Sebab, akan semakin tebal benteng strata sosial
di antara kita. Anehnya aku malah berfikir terbalik. Bukankah dengan adanya
perbandingan dalam rangka merekontruksi diri adalah satu hal yang mulia? Lagi
pula kita tak akan pernah lepas dari hasrat untuk membandingkan, tinggal
bagaimana menyikapinya dengan bijaksana saja.
Belajar memang sangat urgen.
Orang bodoh pun pada dasarnya meyakini dengan sangat kebenaran kalimat ini. Hanya saja, tak
sedikit di antara pelajar yang gagal dalam memaknai proses belajar. Contohnya
banyak, berapa mahasiswa perguruan tinggi yang tak tahu ingin berbuat apa
setelah mendapat gelar sarjana? Menumpuk bukan? pada akhirnya mereka merangkak
menjadi pengemis kerja dengan modal ijazahnya.
Kenapa kekeliruan itu terjadi?
Saya kira bukan karena para pelajar itu bodoh, kurang perhatian saja fikirku.
Sebab, sedikit saja menggunakan otak originalnya untuk berfikir, maka mereka
akan memahaminya. Upps...saya lupa, budaya berfikir rupanya sudah hampir punah
di era ini. Pola masyarakat yang mulai kehedo-hedonan tentunya akan membenci
hal-hal yang sukar. Tak terkecuali bagi mereka yang katanya berpendidikan.
Hah...aku juga tak habis fikir mau bagaimana lagi menasehatinya.
Tentunya masih banyak orang
yang bisa membaca ketimbang dengan mereka yang buta huruf. Sungguh terlalu jika
selepas SD pun belum mumpuni untuk membaca, orang sebego itu pun pasti sangat
langka dan hampir punah. Zaman elit ini pun saya kira sangat mudah untuk
mengakses keilmuan dengan modal kemampuan untuk membaca. Tapi lagi-lagi itu
hanya hanya sekedar modal, kebanyakan orang lebih suka diajari ketimbang
mengajari. Itu persepsei belajar yang tertanam kuat di kepala generasi sekarang
ini. Nalurinya untuk menuntut lebih jauh tidak terarah dengan tepat. Hanya sebatas
nalauri komsumsi tanpa kreatif untuk memproduksi lebih jauh. Lalu, untuk apa
belajar tinggi-tinggi jika hanya ingin duduk manis menikmati gaji tetap. Sementara
potensi untuk meraih yang lebih besar terbuka lebar. Seperti itulah kira-kira.
#p_u
to be continued
to be continued
Ajib...keren bingits kanda
BalasHapushehe,,, perasaan biasa2 aja kok
Hapus