Jumat, 17 November 2017

BoSan

part 7 - BoSan
Hampir dua bulan sudah aku mencicipi pahit manisnya kota ini. Roda waktu terus berputar sementara aku belum jadi apa-apa. Masih banyak hal yang harus kupelajari dan kutekuni dengan sungguh-sungguh tapi sangat sukar rasanya untuk menapaki jalan ini.
Setiap hari dengan kegiatan yang sama dalam sepekan. Benar-benar sangat membosankan. Bangun sebelum fajar menyingsing lalu beranjak ke madrasah setelah selesai shalat subuh. Selepas adzan dzuhur berkumandang, kugerek tas dan siap-siap kembali ke asrama merebahkan lelah. sebab, belajar Setengah hari itu lebih terasa capeknya ketimbang seharian mencangkul kebun .
Tapi, memang seperti itulah karakteristik orang indo yang cepat merasa bosan. aku pun tak terkecualikan. Maklum, karakter indo masih melekat dalam darahku. Untuk merubah sebuah watak pun tak semudah membalikkan telapak tangan. Plek langsung jadi seperti para pesulap. rekonstruksi karakter baru harus tekun seperti tukang bangunan yang menyusun batu bata.
Tapi mau bagaimana lagi. Belajar adala pilihan yang telah kubuat. Tak peduli seberat apapun resikonya. Sekalipun aku selalu jatuh bangun lalu berdarah-darah dalam prosesnya, itupun tidak masalah bagiku. Aku bukan orang suci yang tak pernah salah dan keliru. Jadi peristiwa tersebut kuanggap wajar-wajar saja.
Sekalipun rasa bosan sering menghampiri dan memenjara sebagian kewajiban sebagai pelajar, hal itu bukanlah hal yang harus disesali. Bosan adalah resiko dari kebiasaan yang selalu berulang. Sebab, jiwa manusia sebagai sesuatu yang dinamis akan selalu menuntut hal-hal yang baru. Sekali lagi, bosan itu wajar saja. Hingga, Bosan yang berentetan pada akhirnya akan membuatku bosan untuk bosan. itu yang tidak biasa.
#P_U
To be continued,,,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Chapter 03

Mengislamkan Demokrasi   Berjarak lima belas meter samping kanan sekolah, mematung gubuk kumuh tak berpenghuni. Entah sepinya sud...