Kamis, 23 Agustus 2018

Zilzal


 Part 14 - Zilzal

Entah beberapa hari yang lalu. Kejadiannya sepulang dari kampus kala berpapasan dengan mentari yang menyengat di atas ubun-ubun. Butuh sekitar dua puluh menitan untuk sampai ke asrama. Hingga akhirnya kami memilih untuk menahan taksi yang sedari tadi berlalu-lalang. Ongkosnya dua ribuan dinar, cukuplah lima ratusan dinar untuk setiap orangnya. Tidak secepat biasanya karena jalanan yang lumayan padat. Biasanya hanya tiga menit dengan taksi kami sudah berada di depan hunian, kini jadi nombok dua menit. 

Hawa pengap merayap di setiap tarikan nafas. Ini gara-gara mobil yang kami tumpangi lumayan pelit. AC nya dia off. “sialan ini supir, pelit gila”  ocehku dalam benak. Untung saja dia agak ramah. Tak kusangka tak kuduga malah supirnya sendiri yang  memulai obrolan untuk sekedar mengusir penat yang melanda. “ antum min ya balad? (kalian dari negara mana?)”.Tanyanya sembari sedikit menoleh pada seorang  teman yang duduk di kursi depan bersamanya. “ kami anak-anak Indonesia” pungkas dari salah satu teman. “ di negara kalian gempa bumi lumayan sering ya?”  tanyanya lagi untuk sekedar memastikan. “lumayanlah, tapi gak sering-sering amat” jawab teman yang di sampingnya. “tapi di sini lebih banyak gempa. Setiap hari malahan” pungkasnya dengan sedikit membingungkan. Bagaimana tidak, selama di sini, hanya sekali aku pernah merasakan gempa. “ zilzal syuno mawlay? ( gempa apa itu?)” tanyaku padanya dengan nada yang agak kebingungan. “gempa batin. Ini lebih besar dari sekedar gempa bumi. Sebab, setiap hari kami harus selalu menenangkan jiwa dari peliknya kehidupan yang melanda” mendengar jawabannya itu, sontak satu mobil ikut tertawa.

Banyak hal yang tentu kita bisa pelajari dari kejadian ini. Secara tak sadar, pada dasarnya manusia di belahan dunia manapun, tak akan pernah lepas dari goncangan batin yang harus mereka hadapi. Secara lahiriah memang terlihat baik-baik saja, namun siapa sangka, jikalau ternyata setiap kita menyimpan problematika tersendiri yang sukar untuk terlewati. Inilah yang supir taksi itu sebut sebagai gempa batin. Datangnya pun dengan skala yang berbeda-beda. Kadang hanya 4 SR lalu berakhir pada sedikit kegalauan, hingga bisa saja sampai pada 8,5 SR yang kemudian berakhir pada kerusakan dan gangguang saraf. Inilah gempa terberat yang dialami oleh manusia. 

Terlepas dari itu semua. Dengan duka setelah dari jauh kami dengar kabar gempa di bumi tercinta. Batin kami pun ikut terguncang.  Namun untuk itu, pada segenap sanak saudara yang menghuni Lombok. Sekalipun gempa dengak skala 7,0 SR telah menggungcang tanah kalian, hingga merobohkan tempat-tempat tinggal kalian, bahkan sampai merenggut nyawa keluarga kalian, tetaplah dalam kondisi yang tabah. Jangan biarkan gempa bumi ikut mengguncang dan merusak jiwa-jiwa kalian. selepas ini, jika tetap dengan jiwa yang kuat, kalian akan menjadi orang-orang yang tangguh dari sebelumnya. Sebab, seperti inilah cara hidup membenturkan manusia hingga jadi insan yang terbentuk. Lalu sampai pada titik di mana kita benar-benar layak disebut sebagai manusia dengan segala kemanusiaannya. 

Pray for Lombok…

#p_U





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Chapter 03

Mengislamkan Demokrasi   Berjarak lima belas meter samping kanan sekolah, mematung gubuk kumuh tak berpenghuni. Entah sepinya sud...