Part 14 - Zilzal
Entah beberapa hari yang lalu. Kejadiannya sepulang dari kampus
kala berpapasan dengan mentari yang menyengat di atas ubun-ubun. Butuh sekitar
dua puluh menitan untuk sampai ke asrama. Hingga akhirnya kami memilih untuk
menahan taksi yang sedari tadi berlalu-lalang. Ongkosnya dua ribuan dinar, cukuplah
lima ratusan dinar untuk setiap orangnya. Tidak secepat biasanya karena jalanan
yang lumayan padat. Biasanya hanya tiga menit dengan taksi kami sudah berada di depan
hunian, kini jadi nombok dua menit.
Hawa pengap merayap di setiap tarikan nafas. Ini gara-gara mobil
yang kami tumpangi lumayan pelit. AC nya dia off. “sialan ini supir, pelit
gila” ocehku dalam benak. Untung saja
dia agak ramah. Tak kusangka tak kuduga malah supirnya sendiri yang memulai obrolan untuk sekedar mengusir penat
yang melanda. “ antum min ya balad? (kalian dari negara mana?)”.Tanyanya
sembari sedikit menoleh pada seorang teman yang duduk di kursi depan bersamanya. “
kami anak-anak Indonesia” pungkas dari salah satu teman. “ di negara
kalian gempa bumi lumayan sering ya?” tanyanya lagi untuk sekedar memastikan. “lumayanlah,
tapi gak sering-sering amat” jawab teman yang di sampingnya. “tapi di
sini lebih banyak gempa. Setiap hari malahan” pungkasnya dengan sedikit
membingungkan. Bagaimana tidak, selama di sini, hanya sekali aku pernah
merasakan gempa. “ zilzal syuno mawlay? ( gempa apa itu?)” tanyaku padanya
dengan nada yang agak kebingungan. “gempa batin. Ini lebih besar dari
sekedar gempa bumi. Sebab, setiap hari kami harus selalu menenangkan jiwa dari
peliknya kehidupan yang melanda” mendengar jawabannya itu, sontak satu
mobil ikut tertawa.
Banyak hal yang tentu kita bisa pelajari dari kejadian ini. Secara tak
sadar, pada dasarnya manusia di belahan dunia manapun, tak akan pernah lepas
dari goncangan batin yang harus mereka hadapi. Secara lahiriah memang terlihat
baik-baik saja, namun siapa sangka, jikalau ternyata setiap kita menyimpan problematika
tersendiri yang sukar untuk terlewati. Inilah yang supir taksi itu sebut
sebagai gempa batin. Datangnya pun dengan skala yang berbeda-beda. Kadang hanya
4 SR lalu berakhir pada sedikit kegalauan, hingga bisa saja sampai pada 8,5 SR
yang kemudian berakhir pada kerusakan dan gangguang saraf. Inilah gempa
terberat yang dialami oleh manusia.
Terlepas dari itu semua. Dengan duka setelah dari jauh kami dengar
kabar gempa di bumi tercinta. Batin kami pun ikut terguncang. Namun untuk itu, pada segenap sanak saudara
yang menghuni Lombok. Sekalipun gempa dengak skala 7,0 SR telah menggungcang
tanah kalian, hingga merobohkan tempat-tempat tinggal kalian, bahkan sampai
merenggut nyawa keluarga kalian, tetaplah dalam kondisi yang tabah. Jangan biarkan
gempa bumi ikut mengguncang dan merusak jiwa-jiwa kalian. selepas ini, jika
tetap dengan jiwa yang kuat, kalian akan menjadi orang-orang yang tangguh dari
sebelumnya. Sebab, seperti inilah cara hidup membenturkan manusia hingga jadi
insan yang terbentuk. Lalu sampai pada titik di mana kita benar-benar layak
disebut sebagai manusia dengan segala kemanusiaannya.
Pray for Lombok…
#p_U
#p_U
Tidak ada komentar:
Posting Komentar