Part 15 - Bukan soal Toa dan Meliana
Seusai menyantap makan malam, biasanya ocehan teman-teman menambah
durasi jam makan. Maklum, sebagai seorang pelajar dengan kebiasan yang monoton
sudah seharusnya memberi porsi waktu pada setiap kegiatan-kegiatan di sepanjang
hari. Kalau tidak, semuanya akan berantakan dan keluar dari jalur yang telah
ditargetkan. Kebiasannya terdengar membosankan bukan? Tapi mau bagaimana lagi,
paling tidak kami punya target dan tujuan dalam hidup. Itu yang terpenting.
Cerita kamar lantai tiga berakhir. Masing-masing ke westafel dengan
piring yang masih belepotan. Padahal tempat cuci piring ada di lantai pertama. “
terlalu jauh turun ke bawah, capek habis ngunyah” oceh salah satu temanku. “ahh,,,mager
lo” timpal temanku sembari ikut mencuci piring bersamanya. Dari jauh aku
sedikit tertawa mendengar obrolannya. Rasanya ini seperti maling sedang
menasehati maling untuk tidak mencuri.
Setelah bayangan mereka beranjak dari sana, selanjutnya aku yang
menghampiri dan menggantikan posisi mereka. Kuraih spon yang sudah agak kusam
itu, lalu kegesek pada noda-noda yang membandel. Pada pertengahan gesekan,
padahal lagi asik-asiknya, seorang teman yang berasal dari Basrah tiba-tiba
menghampiri. “syaikhna, faakidu as-syai’ la yu’ti (bro, yang tidak punya
tidak mungkin memberi)” celotehnya menasehati dengan Bahasa yang halus. Kalau
diuraikan, bahasanya kurang lebih seperti ini, “bagaimana bisa spon yang kusam itu membersihkan piringmu, padahal dia sendiri kotor”. bahasanya menarik bukan?
“ maku isykal mawlay (gak masalah bro)”
jawabku sembari tersenyum padanya.
Lama berselang, setelah coba menelaah, pesan yang dia sampaikan ternyata
ada benarnya juga fikirku. Hanya saja tidak pada tempatnya. kaidah tersebut (faakidu
as-syai’ la yu’ti) memang berlaku penuh pada wilayah teoritis, sementara
pada wilayah praktis yang serba kompleks, kita tidak bisa menerapkannya secara
mentah-mentah. Tak lain karena dalam dunia prsktis, terkadang ada banyak sebab-sebab
yang hanya menghasilkan satu akibat. Di sanalah kekeliruannya.
Jadi, pada dasarnya. Sebenar apapun sesuatu jika tidak pada
tempatnya, tentu akan terlihat sebagai sesuatu yang keliru. Hal ini berlaku
dalam semua peristiwa dan tentu banyak kita temui dalam ranah kehidupan sosial dan
beragama. Semisal peristiwa yang baru-baru ini terjadi. Seorang Meliana yang
dipenjara 18 bulan karena protes dan ingin agar suara adzan yang menggema pada
toa (pengeras suara) minta dikecilkan. Sontak, protesnya mengundang kemarahan
warga hingga rumahnya dan beberapa tempat ibadah lainnya ikut dihanguskan warga
atas dasar pelecehan agama.
Tentunya, protes meliana bukanlah atas dasar bahwa adzan itu buruk.
Tidak demikian adanya, hingga kita layak menvonisnya sebagai penista agama. Meliana
hanya meminta agar suara azan disesuaikan dengan kondisi yang ada. Masyarakat di
sana tak semuanya memeluk islam sebagai keyakinan. Di sana ada ragam keyakinan.
Hingga adalah hal yang seharusnya untuk menjalankan keyakinan sesuai dengan
kondisi masyarakat. Bahkan Kementrian Agama sendiri pun telah mengeluarkan aturan
tentang pengeras suara dengan dalih adanya keharusan menghormati tetangga. Jadi,
protes meliana adalah yang sangat wajar.
Aku tidak ingin menulis terlalu jauh, sebab ini adalah masalah yang
sensitif. Sedikit kalimat yang ingin kusampaikan. Bahwa, sekalipun islam adalah
agama rahmat untuk semua alam, namun jika aturan-aturannya tidak terterapkan
dengan tepat, maka islam akan terlihat sebagai agama yang sangar dihadapan agama lain. sebab, benar dan mulia itu ketika orang tuli tak kau paksa untuk
mendengar.
#p_U
#p_U
Tidak ada komentar:
Posting Komentar