Part 13 - Hembusan Pancaroba
Musim pancaroba telah berhembus
dalam dunia perpolitikan. Tak heran, sekarang banyak masyarakat yang
terjangkiti demam secara tiba-tiba. Kalaupun tak percaya, lihat saja di
sekeliling. Tiba-tiba saja semuanya seolah seperti politikus ulung, padahal
sebagian besar mereka hanya berbicara dengan modal nukil-menukil dari dumay
yang tak jelas validitasnya. Aneh bukan? Padahal sebelumnya mereka masih dalam
kondisi sehat walafiat. Mungkin saja virus-virus di musim ini terlalu kuat,
hingga imun masyarakat tak mampu membendungnya, atau malah kekebalan mental
masyarakat sendiri yang lemah? Entahlah.
Masih ramai memperselisihkan
pemimpin mana yang lebih layak untuk memegang roda kekuasaan dalam lima tahun
ke depan. Sederetan kata-kata yang miskin nilai mulai menyeruak dan berserakan
di mana-mana. Sebagian awalnya hanya masyarakat yang baik, secara perlahan juga
mulai ikut terseret arus. Jika ini kita tidak disebut sebagai penyakit, lalu
mau disebut apalagi? Jika ada yang mengatakan bahwa hal ini baik-baik saja,
maka sudah bisa dipastikan bahwa orang itu juga terjangkiti penyakit pancaroba.
Bukan sebagai seorang pengamat
politik. Kutulis dua bait di atas sebagai orang yang sehat. Hanya sekedar
mengajak untuk sedikit membuka mata dengan kondisi yang ada. Pernahkah kita
berfikir mengapa pertentangan dalam hal ini selalu muncul di musim pancaroba?
Padahal kita adalah negara kesatuan,
bukan negara federal , konfederensi, apalagi negara terpecah. Sudah
semesetinya, kita berjalan pada tujuan yang sama. Lagi pula, kita tidaklah
memilih pemimpin yang terbaik. Kita hanya mencegah pemimpin yang terburuk untuk
berkuasa. Lalu, buat apa mati-matian membelanya. kalau bukan karena tuntunan negara, maka kita pun tak perlu memilihnya.
Hidup dengan beragam suku dalam
kesatuan memang lumayan merepotkan. Semua punya corak pemikiran masing-masing
sesuai dengan kebudayaan yang menuntunnya. Namun, lagi-lagi kita ini negara
kesatuan. Kita punya rumusan negara yang harus terfahami dengan baik. Itu tugas
awal bagi kita untuk bernegara dengan baik. Memahami dengan benar cita-cita
negara. Lalu melakukan langkah demi langkah untuk memenuhi harapan negara. Artinya,
semua punya tugas masing-masing dan tidak hanya bergantung pada pemerintah. tugas mereka hanyalah dan memfasilitasi tugas-tugas masyarakat untuk memajukan negara.
Jadilah rakyat yang sehat sekalipun
dengan para petinggi yang mulai tidak sehat lagi. Jangan mendefenisikan negara
yang berbareng dengan kepentingan individual sebagaimana terjadi pada
negara-negara yang terpecah. Mungkin saja, di sini lah pentingnya pendidikan
kewarga negaraan dari sekian banyaknya suku yang rentan untuk terpecah. Tidak hanya
itu, dengan memahami negara secara utuh, tentunya kita tak perlu
mempertentangkan soal siapa yang akan menjadi pemimpin. Sebab akan nampak dengan jelas mana yang lebih layak tanpa harus mengotori mulut dengan segala
bentuk cacian dan nyinyiran. Saya kira, ini adalah cara yang sehat dari sekian banyak metode untuk mencegah
pemimpin yang terburuk dalam memegang tumpuk kekuasan.selamat mencoba.
To be continued...(untuk buah kepala selanjutnya)
#p_U
To be continued...(untuk buah kepala selanjutnya)
#p_U
Tidak ada komentar:
Posting Komentar