Kamis, 23 Agustus 2018

Hembusan Pancaroba

Part 13 - Hembusan Pancaroba         


 Musim pancaroba telah berhembus dalam dunia perpolitikan. Tak heran, sekarang banyak masyarakat yang terjangkiti demam secara tiba-tiba. Kalaupun tak percaya, lihat saja di sekeliling. Tiba-tiba saja semuanya seolah seperti politikus ulung, padahal sebagian besar mereka hanya berbicara dengan modal nukil-menukil dari dumay yang tak jelas validitasnya. Aneh bukan? Padahal sebelumnya mereka masih dalam kondisi sehat walafiat. Mungkin saja virus-virus di musim ini terlalu kuat, hingga imun masyarakat tak mampu membendungnya, atau malah kekebalan mental masyarakat sendiri yang lemah? Entahlah.


            Masih ramai memperselisihkan pemimpin mana yang lebih layak untuk memegang roda kekuasaan dalam lima tahun ke depan. Sederetan kata-kata yang miskin nilai mulai menyeruak dan berserakan di mana-mana. Sebagian awalnya hanya masyarakat yang baik, secara perlahan juga mulai ikut terseret arus. Jika ini kita tidak disebut sebagai penyakit, lalu mau disebut apalagi? Jika ada yang mengatakan bahwa hal ini baik-baik saja, maka sudah bisa dipastikan bahwa orang itu juga terjangkiti penyakit pancaroba.


            Bukan sebagai seorang pengamat politik. Kutulis dua bait di atas sebagai orang yang sehat. Hanya sekedar mengajak untuk sedikit membuka mata dengan kondisi yang ada. Pernahkah kita berfikir mengapa pertentangan dalam hal ini selalu muncul di musim pancaroba? Padahal kita  adalah negara kesatuan, bukan negara federal , konfederensi, apalagi negara terpecah. Sudah semesetinya, kita berjalan pada tujuan yang sama. Lagi pula, kita tidaklah memilih pemimpin yang terbaik. Kita hanya mencegah pemimpin yang terburuk untuk berkuasa. Lalu, buat apa mati-matian membelanya. kalau bukan karena tuntunan negara, maka kita pun tak perlu memilihnya.


            Hidup dengan beragam suku dalam kesatuan memang lumayan merepotkan. Semua punya corak pemikiran masing-masing sesuai dengan kebudayaan yang menuntunnya. Namun, lagi-lagi kita ini negara kesatuan. Kita punya rumusan negara yang harus terfahami dengan baik. Itu tugas awal bagi kita untuk bernegara dengan baik. Memahami dengan benar cita-cita negara. Lalu melakukan langkah demi langkah untuk memenuhi harapan negara. Artinya, semua punya tugas masing-masing dan tidak hanya bergantung pada pemerintah. tugas mereka hanyalah dan memfasilitasi tugas-tugas masyarakat untuk memajukan negara.


            Jadilah rakyat yang sehat sekalipun dengan para petinggi yang mulai tidak sehat lagi. Jangan mendefenisikan negara yang berbareng dengan kepentingan individual sebagaimana terjadi pada negara-negara yang terpecah. Mungkin saja, di sini lah pentingnya pendidikan kewarga negaraan dari sekian banyaknya suku yang rentan untuk terpecah. Tidak hanya itu, dengan memahami negara secara utuh, tentunya kita tak perlu mempertentangkan soal siapa yang akan menjadi pemimpin. Sebab akan nampak dengan jelas mana yang lebih layak tanpa harus mengotori mulut dengan segala bentuk cacian dan nyinyiran. Saya kira, ini adalah cara yang sehat dari sekian banyak metode untuk mencegah pemimpin yang terburuk dalam memegang tumpuk kekuasan.selamat mencoba.

To be continued...(untuk buah kepala selanjutnya)

#p_U

           

           

           



           



           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Chapter 03

Mengislamkan Demokrasi   Berjarak lima belas meter samping kanan sekolah, mematung gubuk kumuh tak berpenghuni. Entah sepinya sud...