Minggu, 23 Desember 2018

ASMARA KATA

                                                                        ASMARA KATA

Kali ini saya ingin mengajak anda sedikit berbincang tentang hal yang sangat dekat keseharian kita. Sekalipun temanya akan sedikit filosofis, namun pembahasannya tak akan sampai mengerutkan dahi segala. Juga tak perlu memulai dengan pertanyaan apa itu kata? Sebab, hal yang jelas tak perlu lagi didefenisikan. Saya hanya ingin bertanya, pernahkah anda berfikir apa yang terjadi sebelum kata terlahir? Bagaiama manusia berinteraksi antara satu dengan yang lainnya? Seperti apa kehidupan di masa itu?

Pernah saya berandai, kalau saja kata tidak terlahir ke dunia, maka manusia akan hidup dengan damai. Hoax tidak akan merajalela, tempat nongkrong untuk membicarakan aib orang lain juga akan kosong dan tak akan pernah ada yang disebut dengan omongan tetangga. Intinya, populasi manusia di neraka bisa berkuranglah. Tapi sudahlah, kehadiran kata dalam hidup manusia sudah seperti sepasang yang kekasih yang sukar untuk dipisahkan, sebab tak ada orang ketiga yang akan merebutnya. Selekat itulah hubungan asmara kita dengan kata. Tapi, apa yang terjadi jika kata tak benar-benar ada? akan bagaimana cara kita menyampaikan pemahaman pada orang lain? atau katakanlah menyampaikan pemahaman itu tidak penting, yang terpenting adalah menyampaikan rasa pada orang tercinta. Lalu masalahnya, bagaimana anda mengatakan I love you pada pujaan hati? Bagaiama anda cara anda mengobok hatinya dengan gombalan-gombalan maut? Jadinya, percintaan akan hambar tanpa sepatah kata. Sungguh ironis, aku pun tak sanggup membayangkannya.

Tapi bukan ini yang akan kita kupas. Bagaiamana cara anda melihat dan memahami kata, itu yang akan kita telanjangi. Sekarang, tarolah “kata” sebagai objek mendasarnya. Anda bisa melihatnya sebagai alat atau sebuah kendaran untuk mengeluarkan makna “kata” yang terpendam di kedalaman diri anda. Tapi, jauh sebelum anda mulai memahami  kata dengan maknanya, pernahkah anda bertanya bagaimana hubungan kata dan makanya terbentuk? Dari mana anda memahaminya? Dan sejak kapan? Mulai sekarang, rentetan  pertanyaan ini akan menari-nari dalam benak anda.

Sebelum terjalinanya ikatan asmara antara kata dan makna yang kemudian anda cernah melalui doktrin bahasa, secara tak sadar anda sudah mendengarnya ribuan kali. Coba anda kembali mengingatnya saat pertemuan pertama dengan kata, apa yang terjadi saat itu? Saat-saat  awal anda ingin memahami makna di balik kata. Lalu, perlahan-lahan anda mulai menyebutnya dan terus terulang dalam keseharian, lalu tiba-tiba saja seolah anda sudah menyatu dengannya. Tak perlu lagi berusaha menelaahnya sedemikian rupa untuk memahami maknaya. Dan sekarang, melupakannya pun anda tidak akan bisa. Kata dan maknanya sudah menjadi kekasih selamanya. Tidak ada yang bisa memisahkan ikatan anda dengannya, kecuali kegilaan menghampiri. Itu akan lain lagi lagi ceritanya. Tapi,  semoga saja anda tidak gila. Hingga hubungan anda dengan keduanya baik-baik saja.

Najaf 23 Desember 2018




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Chapter 03

Mengislamkan Demokrasi   Berjarak lima belas meter samping kanan sekolah, mematung gubuk kumuh tak berpenghuni. Entah sepinya sud...