ASMARA KATA
Kali ini saya
ingin mengajak anda sedikit berbincang tentang hal yang sangat dekat keseharian
kita. Sekalipun temanya akan sedikit filosofis, namun pembahasannya tak akan
sampai mengerutkan dahi segala. Juga tak perlu memulai dengan pertanyaan apa
itu kata? Sebab, hal yang jelas tak perlu lagi didefenisikan. Saya hanya ingin
bertanya, pernahkah anda berfikir apa yang terjadi sebelum kata terlahir?
Bagaiama manusia berinteraksi antara satu dengan yang lainnya? Seperti apa
kehidupan di masa itu?
Pernah saya
berandai, kalau saja kata tidak terlahir ke dunia, maka manusia akan hidup
dengan damai. Hoax tidak akan merajalela, tempat nongkrong untuk membicarakan
aib orang lain juga akan kosong dan tak akan pernah ada yang disebut dengan
omongan tetangga. Intinya, populasi manusia di neraka bisa berkuranglah. Tapi
sudahlah, kehadiran kata dalam hidup manusia sudah seperti sepasang yang
kekasih yang sukar untuk dipisahkan, sebab tak ada orang ketiga yang akan
merebutnya. Selekat itulah hubungan asmara kita dengan kata. Tapi, apa yang terjadi
jika kata tak benar-benar ada? akan bagaimana cara kita menyampaikan pemahaman
pada orang lain? atau katakanlah menyampaikan pemahaman itu tidak penting, yang
terpenting adalah menyampaikan rasa pada orang tercinta. Lalu masalahnya,
bagaimana anda mengatakan I love you pada pujaan hati? Bagaiama anda cara
anda mengobok hatinya dengan gombalan-gombalan maut? Jadinya, percintaan akan
hambar tanpa sepatah kata. Sungguh ironis, aku pun tak sanggup membayangkannya.
Tapi bukan ini
yang akan kita kupas. Bagaiamana cara anda melihat dan memahami kata, itu yang
akan kita telanjangi. Sekarang, tarolah “kata” sebagai objek mendasarnya. Anda
bisa melihatnya sebagai alat atau sebuah kendaran untuk mengeluarkan makna
“kata” yang terpendam di kedalaman diri anda. Tapi, jauh sebelum anda mulai
memahami kata dengan maknanya, pernahkah
anda bertanya bagaimana hubungan kata dan makanya terbentuk? Dari mana anda
memahaminya? Dan sejak kapan? Mulai sekarang, rentetan pertanyaan ini akan menari-nari dalam benak
anda.
Sebelum
terjalinanya ikatan asmara antara kata dan makna yang kemudian anda cernah
melalui doktrin bahasa, secara tak sadar anda sudah mendengarnya ribuan kali.
Coba anda kembali mengingatnya saat pertemuan pertama dengan kata, apa yang
terjadi saat itu? Saat-saat awal anda
ingin memahami makna di balik kata. Lalu, perlahan-lahan anda mulai menyebutnya
dan terus terulang dalam keseharian, lalu tiba-tiba saja seolah anda sudah
menyatu dengannya. Tak perlu lagi berusaha menelaahnya sedemikian rupa untuk
memahami maknaya. Dan sekarang, melupakannya pun anda tidak akan bisa. Kata dan
maknanya sudah menjadi kekasih selamanya. Tidak ada yang bisa memisahkan ikatan
anda dengannya, kecuali kegilaan menghampiri. Itu akan lain lagi lagi
ceritanya. Tapi, semoga saja anda tidak
gila. Hingga hubungan anda dengan keduanya baik-baik saja.
Najaf 23 Desember 2018
Tidak ada komentar:
Posting Komentar