MARI MENALAR
NALAR
.
Tidak sedikit
yang beranggapan bahwa memutar akal untuk memikirkan sesuatu adalah hal yang sangat rumit. Klaim ini ada
benarnya juga, namun tidak berarti bahwa semua aktifitas berfikir itu berada
dalam kategori yang ribet. Saya pernah menulis di halaman facebook sebuah
peribahasa kecil bahwa antara orang cerdas dengan orang yang biasa dalam
keilmuan tidak jauh beda. Sebab, setiap orang pada dasarnya masing-masing punya
konsep yang bersarang dalam benaknya. Persoalannya hanyalah tentang bagaimana
mengolah dan meramu konsep sedemikian rupa. Itulah yang disebut dengan skill
atau metode berfikir.
Sekarang, mari
sejenak melihat bagaimana sebenarnya cara kita berfikir dalam memperoleh pengetahuan
baru. Namun, akan lebih menarik jika beranjak pada sebuah permisalan untuk lebih
mudah dalam memahaminya. Sederhanaya, berfikir itu seperti memasak. Bagaimana
caranya? Mari kita cermati bersama. Dalam proses masak- memasak, setidaknya
kita butuh pada tiga hal untuk sampai pada tahapan penyajian. Kita butuh pada
alat, bahan dan sedikit teknik dalam memasak. Tanpa ketiganya, maka masakan
hanya akan menjadi mitos belaka. Percaya atau tidak, silahkan coba sendiri.
Berfikir sama
halnya dengan memasak. Pertama kita butuh pada alat atau metode, kedua butuh
pada bahan berupa konsep-konsep dan terakhir butuh teknik sebagai gerak nalar
untuk sampai pada tahapan kesimpulan. Tanpa semua itu, maka pengetahuan baru
hanya akan menjadi harapan palsu. Setelah memahami permisalan ini, kita bisa
masuk pada contoh yang lebih gamblang seputar aktivitas nalar.
Coba kembali
kita cermati seputar alat masak-memasak. Agar lebih mudah saya ingin membaginya
dalam dua kategori. Pertama, anda bisa menyebutnya dengan alat masak modern.
Ini seperti kompor gas, race cooker, panci presto dan masih banyak lagi.
Memasak dengan menggunakan alat ini tentu sangat simple. Kita cukup memasukan
beras ke dalam race cooker misalnya, lalu cetek tombolnya, setelah itu tinggal menunggunya jadi nasi.
Alat masak ke dua bisa anda sebut dengan alat masak tradisional. Seperti tungku
api, anglo, dandang, irus dan masih banyak lagi yang semasanya. Berbeda dengan
alat modern, memasak dengan alat tradisional biasanya terbilang lebih ribet.
Biasanya kita butuh pada potongan-potongan kayu kering terlebih dahulu, setalah
itu sedikit dipolesi minyak tanah atau
bensin agar lebih mudah terbakar. Belum lagi harus memasukannya ke dalam tungku
kemudian membakarnya. Seribet itulah orang-orang terdahulu kala ingin memasak
sesuatu dengan metode ini.
Gambaran di
atas tak jauh beda ketika kita memulai proses berfikir. Punya alat tersendiri.
Metode pertama biasanya terbilang mudah dan praktis seperti cara masak modern.
Dalam metode ini anda cukup mengamati beberapa objek yang sejenis, lalu
mengambil satu titik atau ciri yang sama dari keseluruhan objek sebagai
kesimpulan umum. Seolah anda mencicipi beberapa apel merah dari toko atau
tempat yang berbeda dengan rasa yang sama enak. Setelah itu, anda kemudian
beranjak pada kesimpulan bahwa “semua apel merah itu enak”. Metode ini yang
disebut dengan induksi atau logika praktis.
Dalam berfikir,
anda juga bisa menggunakan metode ke dua yang sama ribetnya dengan cara masak
tradisional. Dalam metote ini anda butuh dua premis untuk sampai pada sebuah
kesimpulan. Premis pertamanya berbentuk umum seperti “ semua manusia pasti
mati”. Ini disebut mayor. Lalu premis keduanya yang lebih spesifik seperti “
james adalah manusia” yang biasa disebut dengan minor. Setelah itu, beranjak
pada kesimpulan dengan menghapus kata yang sama dari mayor dan minor yaitu
“manusia” yang menjadi tali penghubung dari kedua premis. Dengan demikian, anda
akan sampai pada kesimpulan bahwa “ James pasti mati”. Ini yang kaum logiwan
sebut dengan metode deduksi.
Namun, perlu
kita garis bawahi bersama bahwa jalan berfikir manusia tidak akan pernah lepas dari dua metode ini yang bersifat
praktisi dan teoritis. Ini sudah dimulai sebelum zaman plato, Socrates dan
Aristoteles. Mereka semua sebenarnya tidak menciptakan metode ini, hanya sekedar
menjadi bagian dari orang pertama yang menyadari gerak nalar manusia lalu
kemudian memaparkannya dengan rapi. Seperti inilah alamiahnya manusia dalam
berfikir. Sehingga, cara berfikir yang random biasanya akan terbilang tidak
waras.
Kembali ke
persoalan masak-memasak. Setelah alat-alatnya terpenuhi, bahan adalah syarat
terpenting dalam tahapan selanjutnya. Kita butuh beras, sayur, ikan, ayam dan
lain sebagainya sesuai menu yang ingin kita sajikan. Jika tidak, maka apalah
gunanya alat tanpa bahan pangan. Saya tidak ingin berpanjang lebar dalam
permisalan ini. Sebab, sesederhana itulah butuhnya nalar pada konsep untuk
melakukan aktifitas berfikirnya. Nalar tidak akan mungkin melakukan
aktifitasnya jika tak punya konsep sama sekali. Itulah yang terjadi ketika
seseorang ditanya mengenai hal-hal yang asing baginya, maka “tidak tahu” adalah
jawabannya. Bukan karena tidak bisa berfikir, dia hanya tidak punya gambaran
atau konsep perihal yang ditanyainya. Sehingga, dari sini kita bisa beranjak
pada satu keniscayaan bahwa semakin banyak konsep yang seseorang miliki maka
langkah dalam berfikir pun akan semakin leluasa. Sama halnya dengan bahan
pangan. Semakin banyak yang tersedia, maka akan semakin mudah pula untuk
mengolah masakan yang kita inginkan.
Namun, terdapat
hal penting yang harus kita parhatikan bersama dalam tahapan ini. Benar memang,
bahwa banyaknya bahan pangan akan mempermudah kita untuk mengolahnya menjadi
suatu masakan, Tapi, untuk sampai pada kualitas masakan yang sempurna, pertama
anda perlu mengenali bahan yang ingin anda olah. Apakah bahan tersebut sehat
untuk dikonsumsi? Jika tidak sehat, cara apa yang dilakukan agar bisa
dikonsumsi dengan aman? Tanpa proses pengenalan ini, masakan hanya akan menjadi
santapan lalat semata. Tidak jauh beda dengan konsep-konsep yang kita miliki.
Sebelum mulai melangkah tahap pengolahan, terlebih dahulu kita butuh pengenalan
pada konsep. Baik itu berupa konsep-konsep universal/umum maupun
particular/khusus, kevalid atau tidaknya? Tanpa adanya pengenalan ini,
pemikiran yang dihasilkan hanyalah seperti buih yang nampak ramai lalu lenyap
bersama sepoi yang bertiup. Ini yang harus dicatat baik-baik.
Sekarang,
sampailah kita pada tahapan terakhir. Ketika alat dan bahan sudah terpenuhi,
tehnik memasak adalah sentuhan terakhirnya, lalu memasak sesuai dengan apa yang
anda inginkan. Tingggal menggerakkan sesuai nalar dengan metode yang ada dan
memilah sekumpulan konsep dalam benak, lalu memilihnya sesuai dengan masalah
yang anda hadapi kemudian mulai menghubungkan dan menyusun antara satu konsep
dengan konsep lainnya. Kurang lebih, seperti inilah cerminan cara berfikir kita
dalam meyelesaikan suatu problem dan secara tanpa sadar kita sudah membaca cara
berfikir kita sendiri.
Najaf 21 Desember 2018

Tidak ada komentar:
Posting Komentar