Selasa, 25 Desember 2018

Aku tak butuh hero


ARTIKEL TUHAN





Dengan menyebut namaku sendiri yang Maha segalanya. Kutulis artikel ini atas dasar kesadaran penuh dan tidak mabuk. Bukan dalam rangka menurunkan kitab baru untuk ummat manusia, tapi kurasa memang penting untuk menuliskannya. Bukan juga karena kitab-kitabku sudah tidak berguna lagi, hanya saja manusia era ini terlalu malas untuk membacanya dan terlalu gila dalam memaknainya. Sekalipun masih ada segelintir jiwa yang rela membacanya, tapi hanya sekedar memperdengarkan suara merdunya lalu meraup pundi-pundi keuntungan darinya. Ada juga yang mati-matian menghafalnya dalam rangka ikut perlombaan di banyak tempat, tapi sangat disanyangkan, ,mereka tidak faham pesan-pesanku yang tersirat di setiap kalimatnya. Lebih mirisnya lagi,  ada yang faham maknanya, tapi malah menungganginya untuk ego pribadinya. Itulah yang menyayat pilu hatiku. 
 
Teruntuk para manusia yang masih mengimaniku. Akhir-akhir ini tentu aku memperhatikan tindak-tanduk kalian yang serba membingungkan. Berkonvoi di banyak tempat dalam rangka membela asmaku, padahal aku baik-baik saja. Bahkan, sangat sehat sekali. Perlu kalian tahu, jauh sebelum kalian kuciptakan, aku sudah terbiasa mendapat hinaan dan cacian yang lebih parah dari ini.  Seharusnya kalian memahaminya. Tapi sekali lagi, membaca sejarahku di masa lampau pun kalian tak perduli. Lalu, buat apa kalian tiba-tiba sok peduli seperti ini? Aku tak butuh iba kalian. jangan kira tindakan seperti ini cukup menjadi alasan bagiku untuk menempatkan kalian di surga kelak. Tidak, aku hanya butuh amal baik kalian terhadap sesama, agar aku tak perlu menjerumuskan kalian ke jurang neraka. Aku tak butuh pembelaan kalian.
 
Agama kuturunkan pada kalian agar bisa hidup damai dan saling berdampingan. Saling mengisi dan mengasihi diantara sesama manusia. tidak Tidak cukupkah kisah-kisah para delegasiku yang selalu berusaha berbuat baik dengan kasih meski terus didzolimi, namun masih tetap dengan lapang dada menerima mereka. Lihatlah bagaimana Nuh yang tidak pantang menyerah pada amarahnya meski terus di abaikan dan dilempari batu selama lima abad lamanya. Nah, kalian yang baru sedikit disinggung dan dikritik tiba-tiba kerasukan amarah yang tak kenal ampun. Hamba jenis apa kalian ini. Aku tidak habis fikir. Bisa-bisanya kalian mencoba menjadi Tuhan untuk manusia yang lain. tidakkah kalian tahu, bahwa aku paling benci dengan adanya Tuhan-tuhan selainku dalam diri-diri kalian. Tapi, maha pengasihku masih menahan murkaku pada kalian. 
 
 Satu hal yang perlu kalian tahu, aku juga tak pernah memaksa kalian untuk beragama apalagi untuk mengimaniku. Juga, telah kuberi hak pada setiap manusia untuk memilih beriman atau tidak. Lalu buat apa kalian memaksakan keimanan pada manusia yang lain. Itu adalah urusanku untuk memberinya hidayah atau tidak, kalian tidak perlu mengambil otoritasku untuk meniai dan menghukuminya, apalagi sampai harus memaksanya untuk menghormatiku, aku tidak butuh itu. Aku hanya butuh penghormatan kalian terhadapku dengan menghormati mereka yang tidak menghormatiku.
 
Jadi, kalian tak perlu lagi sok jadi pahlawan bagiku dengan membelaku dan memaksa orang lain untuk menghormatiku. Ke maha segalaanku tak butuh kepahlawanan kalian. Cukup kalian jadi hamba yang mawas diri, penuh kasih sayang terhadap sesama dan yang terpenting banyaklah belajar agar kedunguan tidak membuat kalian salah faham tentangku. Sekian untuk kali ini. Semoga kalian bisa menjadi hamba yang lebih baik lagi.
 
Tak bertempat, 24 Desember 2018

             
           
             

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Chapter 03

Mengislamkan Demokrasi   Berjarak lima belas meter samping kanan sekolah, mematung gubuk kumuh tak berpenghuni. Entah sepinya sud...