Jumat, 13 Oktober 2017

Polos

Part 1 - Polos
06 oktober 2017 tiupan sepoi udara dingin mulai menyelimuti kota ini. Merayap hinggap di antara ubun-ubun perlahan usir musim panas yang mulai beranjak tinggalkan labirin-labirin kota. "sekarang ini musim pergantian coy", kalimat itu yang menjadi buah bibir di antara teman-teman yang sudah lama berdiam di kota ini. Maklum, saya kan masih baru dan polos akan kondisi kota ini.
Setelah mendengar kabar yang mengagetkan bahwa besok saya sebagai pelajar polos ada interview pelajaran dari pihak madrasah (kalau di indonesia mungkin bisa disebut pihak kampus), waduh...sepertinya harus kembali membuka buku-buku lama yang setahun hampir tak tersentuh lagi. Kitab logika dari salah satu buku wajib  yang tebalnya minta ampun itu terpaksa harus kembali kugauli dalam dua hari mendatang.
Rasanya nalarku kembali berdarah-darah. Mengapa tidak, buku-buku ini bukan buku novel yang kelar hanya dalam sekali duduk. Beberapa kertas  kucoret-coreti untuk membuat bagan dan defensi-defenisi dalam bahasa arab. Di sinilah titik tersulitnya. Harus aku menjelaskannya dengan bahasa ilmiah menggunakan bahasa arab. Ampun ya Allah, lidahku yang belum terbiasa terpaksa harus belepotan ketika menjelaskan nanti. Tapi, tak apalah. Bukankah ini yang disebut dengan tantangan?
Tulisan ini adalah awal pengembaraan nalar yang akan saya mulai di kota ini. Entah apa yang akan terjadi kedepannya, aku sama sekali tak memikirkan hal itu. Tak ada yang penting kecuali fight untuk aktualisasi potensi yang masih tertidur. Inginku sekarang hanya satu, ingin melampaui diriku sendiri. Penggalan kalimat itu mungkin agak terdengar filosofi dan sulit tercerna, apalagi dalam pengaplikasiannya. Walhasil, sampai detik tak kunjung kujumpai titik batasan itu.
Goresan pertama ini tak perlu ngelantur terlalu jauh. Sebab, Jauh atau dekat di depan masih banyak tantangan nalar yang menanti untuk terjajaki. Eits,,,namun yang terpenting adalah tetap akan kutulis kisah ini. Entah itu di blogg ini atau di catatan lain. Sebab, bukan hanya secarik kisah romantis yang harus terlukiskan. Kisah perjalanan intelektual pun tak kalah menarik untuk terabadikan. Alasannya sederhana saja, majunya peradaban tak lepas dari para intelek-intelek yang kreatif.
#P_U



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Chapter 03

Mengislamkan Demokrasi   Berjarak lima belas meter samping kanan sekolah, mematung gubuk kumuh tak berpenghuni. Entah sepinya sud...