Part 1 - Polos
06 oktober 2017 tiupan sepoi udara dingin mulai menyelimuti kota ini. Merayap
hinggap di antara ubun-ubun perlahan usir musim panas yang mulai beranjak
tinggalkan labirin-labirin kota. "sekarang ini musim pergantian coy",
kalimat itu yang menjadi buah bibir di antara teman-teman yang sudah lama
berdiam di kota ini. Maklum, saya kan masih baru dan polos akan kondisi kota
ini.
Setelah mendengar kabar yang mengagetkan bahwa besok saya sebagai pelajar polos ada
interview pelajaran dari pihak madrasah (kalau di indonesia mungkin bisa disebut pihak kampus), waduh...sepertinya harus kembali membuka buku-buku lama yang setahun
hampir tak tersentuh lagi. Kitab logika dari salah satu buku wajib yang tebalnya minta ampun itu terpaksa harus kembali
kugauli dalam dua hari mendatang.
Rasanya nalarku kembali berdarah-darah. Mengapa tidak, buku-buku ini bukan
buku novel yang kelar hanya dalam sekali duduk. Beberapa kertas kucoret-coreti untuk membuat bagan dan
defensi-defenisi dalam bahasa arab. Di sinilah titik tersulitnya. Harus aku menjelaskannya
dengan bahasa ilmiah menggunakan bahasa arab. Ampun ya Allah, lidahku yang belum
terbiasa terpaksa harus belepotan ketika menjelaskan nanti. Tapi, tak apalah. Bukankah
ini yang disebut dengan tantangan?
Tulisan ini adalah awal pengembaraan nalar yang akan saya mulai di kota
ini. Entah apa yang akan terjadi kedepannya, aku sama sekali tak memikirkan hal
itu. Tak ada yang penting kecuali fight untuk aktualisasi potensi yang masih
tertidur. Inginku sekarang hanya satu, ingin melampaui diriku sendiri. Penggalan
kalimat itu mungkin agak terdengar filosofi dan sulit tercerna, apalagi dalam pengaplikasiannya. Walhasil,
sampai detik tak kunjung kujumpai titik batasan itu.
Goresan pertama ini tak perlu ngelantur terlalu jauh. Sebab, Jauh atau
dekat di depan masih banyak tantangan nalar yang menanti untuk terjajaki. Eits,,,namun yang terpenting adalah tetap akan kutulis kisah ini. Entah itu di blogg ini
atau di catatan lain. Sebab, bukan hanya secarik kisah romantis yang harus terlukiskan.
Kisah perjalanan intelektual pun tak kalah menarik untuk terabadikan. Alasannya sederhana saja, majunya peradaban tak lepas dari para intelek-intelek yang kreatif.
#P_U
Tidak ada komentar:
Posting Komentar