Part 2 - Pembantaian
Akhirnya masa itu pun tiba. Saat yang sebelumnya pukul
16:00 sebagai waktu perjajnjian interview dipending hingga pukul 20:00 malam.
Mulailah saya dan teman-teman saling menenangkan. "santai aja coy,
paling cuman nanya tentang defenisi terus ngasih contoh doang" pungkas
salah satu dari mereka. Sedikit tertawa untuk mencairkan ketegangan yang
melanda. "tapi, ini sangat menentukan bagaimana pola pembelajaran kita
kedepannya coy" timpalku agak serius. Sebab, interview ini pada
dasarnya bertujuan untuk melihat materi apa yang akan kami terima kedepannya.
Bunyi bel
membungkam dialog. "siap-siap sono, syaikh shodiq udah datang tuh"
sapa salah satu senior dari samping. "aduh, semoga ilmu irtikadzinya
(ilmu bawah sadar) bisa membantu. Bismillah" potong temanku sembari
berjalan menuju ruangan kecil tempat kami akan dibantai habis-habisan.
Setelah
saling menyapa hangat satu sama lain, pentas akan segera dimulai. "coba
buat khobar yang menggunakan ism al-fa'il" pinta syaikh untuk kami
bertiga. " wah, ini anak MTS juga tahu. Gampang gila" girang
benakku mendengarnya. Dengan mudah kami kerjakan soal ilmu nahwu yang
diberinya. Seusai itu, salah satu dari kami mulai membacakan jawaban yang beliau
minta. Tersenyum sambil menganggukan kepala secara perlahan, syaik pun kembali
bertanya "lalu apa yang dibutuhkah ism fa'il? Dan apakah ada yang
menghubungkan antara mubtada' dan khobar? Jika ada, maka apakah itu niscaya
atau hanya boleh saja? Jika tidak ada, lalu apa alasannya?". Parah,
ini seperti disambar gledek di siang bolong. Kenapa pertanyaan ilmu nahwu
sampai sedetail ini? Saya sama sekali tak pernah mendengarnya saat di pondok
dahulu. Terdiam kami dan saling menatap satu sama lain. Bingung rasanya ingin
menjawab apa. Beliau kembali tersenyum lalu sesekali tertawa kecil. "sialan,
sepertinya kita dikerjain deh" oceh benakku.
Berpindah
ke objek pembahasan selanjutnya. "ada yang tahu apa defenisi ilmu
logika?" tanya beliau. Sedikit gembira aku mendegar pertanyaannya
namun seketika hilang karna teringat peristiwa sebelumnya. Firasatku mulai
tidak enak. Benar saja, setelah kujawab pertanyaan itu beberapa soal malah
kembali melayang menyerang benak kami. Sekalipun sempat terjadi dialog kecil
namun sama sekali pertanyaan berikutnya tak bisa kami bendung. Ini seperti dilempari
berkali-kali. Lemparan pertama dengan buah pisang, ya tentu kami lahap. Namun
lemparan berikutnya malah seperti nuklir yang menghantam kepala kami. Seketika
error tak berfungsi.
Kondisi
ini terjadi hingga waktu usai. Berbusa mulut dan belepotan nalar kami
berhadapan dengan beliau. "sebanarnya sudah banyak ilmu yang kalian
tahu, hanya saja masih butuh pada pendalaman dan sistematika" pesannya
setelah kami ludas dihajar olehnya.
Namun, jika ditelaah dari sisi yang lain di dalam pesannya terdapat
penegasan yang tersirat. Penegasan bahwa sebenarnya kami ini masih b*d*h. Hanya saja, selalunya bahasa orang-orang yang
berpendidikan lebih lembut dari apa yang kuutarakan dan tidak terang-terangan. Tapi
tak apalah, lagi pula ini adalah proses awal untuk melampai beliau. Tunggu
saja, akan ada titik di mana aku akan melewatinya. Entah itu kapan, aku sama
sekali tak peduli.
#P_U
Tidak ada komentar:
Posting Komentar