Jumat, 13 Oktober 2017

Pembantaian

Part 2 - Pembantaian
Akhirnya masa itu pun tiba. Saat yang sebelumnya pukul 16:00 sebagai waktu perjajnjian interview dipending hingga pukul 20:00 malam. Mulailah saya dan teman-teman saling menenangkan. "santai aja coy, paling cuman nanya tentang defenisi terus ngasih contoh doang" pungkas salah satu dari mereka. Sedikit tertawa untuk mencairkan ketegangan yang melanda. "tapi, ini sangat menentukan bagaimana pola pembelajaran kita kedepannya coy" timpalku agak serius. Sebab, interview ini pada dasarnya bertujuan untuk melihat materi apa yang akan kami terima kedepannya.
        Bunyi bel membungkam dialog. "siap-siap sono, syaikh shodiq udah datang tuh" sapa salah satu senior dari samping. "aduh, semoga ilmu irtikadzinya (ilmu bawah sadar) bisa membantu. Bismillah" potong temanku sembari berjalan menuju ruangan kecil tempat kami akan dibantai habis-habisan.
       Setelah saling menyapa hangat satu sama lain, pentas akan segera dimulai. "coba buat khobar yang menggunakan ism al-fa'il" pinta syaikh untuk kami bertiga. " wah, ini anak MTS juga tahu. Gampang gila" girang benakku mendengarnya. Dengan mudah kami kerjakan soal ilmu nahwu yang diberinya. Seusai itu, salah satu dari kami mulai membacakan jawaban yang beliau minta. Tersenyum sambil menganggukan kepala secara perlahan, syaik pun kembali bertanya "lalu apa yang dibutuhkah ism fa'il? Dan apakah ada yang menghubungkan antara mubtada' dan khobar? Jika ada, maka apakah itu niscaya atau hanya boleh saja? Jika tidak ada, lalu apa alasannya?". Parah, ini seperti disambar gledek di siang bolong. Kenapa pertanyaan ilmu nahwu sampai sedetail ini? Saya sama sekali tak pernah mendengarnya saat di pondok dahulu. Terdiam kami dan saling menatap satu sama lain. Bingung rasanya ingin menjawab apa. Beliau kembali tersenyum lalu sesekali tertawa kecil. "sialan, sepertinya kita dikerjain deh" oceh benakku.
         Berpindah ke objek pembahasan selanjutnya. "ada yang tahu apa defenisi ilmu logika?" tanya beliau. Sedikit gembira aku mendegar pertanyaannya namun seketika hilang karna teringat peristiwa sebelumnya. Firasatku mulai tidak enak. Benar saja, setelah kujawab pertanyaan itu beberapa soal malah kembali melayang menyerang benak kami. Sekalipun sempat terjadi dialog kecil namun sama sekali pertanyaan berikutnya tak bisa kami bendung. Ini seperti dilempari berkali-kali. Lemparan pertama dengan buah pisang, ya tentu kami lahap. Namun lemparan berikutnya malah seperti nuklir yang menghantam kepala kami. Seketika error tak berfungsi.
         Kondisi ini terjadi hingga waktu usai. Berbusa mulut dan belepotan nalar kami berhadapan dengan beliau. "sebanarnya sudah banyak ilmu yang kalian tahu, hanya saja masih butuh pada pendalaman dan sistematika" pesannya setelah kami ludas dihajar olehnya.  Namun, jika ditelaah dari sisi yang lain di dalam pesannya terdapat penegasan yang tersirat. Penegasan bahwa sebenarnya kami ini masih b*d*h.  Hanya saja, selalunya bahasa orang-orang yang berpendidikan lebih lembut dari apa yang kuutarakan dan tidak terang-terangan. Tapi tak apalah, lagi pula ini adalah proses awal untuk melampai beliau. Tunggu saja, akan ada titik di mana aku akan melewatinya. Entah itu kapan, aku sama sekali tak peduli.
#P_U

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Chapter 03

Mengislamkan Demokrasi   Berjarak lima belas meter samping kanan sekolah, mematung gubuk kumuh tak berpenghuni. Entah sepinya sud...