Minggu, 15 Oktober 2017

Terlahir Lagi

Part 3 - Terlahir Lagi
       Biru langit selalu berganti pekatnya malam. Begitulah dunia bercerita tentang kehidupan yang senantiasa berubah. Dalam putaran bola dunia beribu kisah telah terjadi. sedih dan bahagia, senyum dan tangis, damai dan perang, hidup dan mati, semua seperti terjadi begitu saja. Waktu menelannya satu-persatu hingga semuanya hampir ludas tak tersisa.
       Makna di atas terlintas kala aku duduk manis menerima suapan-suapan nalar yang amat detail. Bayangkan saja, satu kalimat dijelaskan dalam waktu kurang lebih 20 menit. Sementara kitab yang dipelajari tebalnya sampai 300 halaman. dalam satu lembar minimal terdapat 3-5 baid yang bisanya terdiri dari 4-10 kalimat/baid. "ini kapan selesainya ya Allah?" spontan batinku berteriak.
       Tapi tak apalah. Justru aku malah merasa terlahir kembali dalam proses belajar. Belajar untuk  berfikir lebih luas ke segala arah. Aku tak ingin berfikir kapan kitab ini akan terselesaikan. Masih ingin rasanya aku menikmati alunan melodi nalar dan menjarahkan ilmu menembus batas yang selama ini kutancapkan.
       Sekalipun bukan awal kali kutemui sensasi ini, tidak berarti sesal datang menemuiku akan semua yang sebelumnya kulalui, aku pun faham semuanya harus terlahir berkali-kali dalam proses menapaki kesempurnaan. Bukan hanya ekonomi yang membagi strata dan manusia, keilmuan pun harusnya berada tingkatan yang berbeda-beda. Mereka yang mencarinya perlahan akan tumbuh mekar dengan semerbak wangi kebijaksanaan. Jelasnya, aku sudah menemukan jalan yang harus mulai kutempuhi. jalan yang mungkin  membuatku kembali terlahir di waktu mendatang.
#P_U



   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Chapter 03

Mengislamkan Demokrasi   Berjarak lima belas meter samping kanan sekolah, mematung gubuk kumuh tak berpenghuni. Entah sepinya sud...