Part 3 - Terlahir Lagi
Biru langit selalu berganti
pekatnya malam. Begitulah dunia bercerita tentang kehidupan yang senantiasa
berubah. Dalam putaran bola dunia beribu kisah telah terjadi. sedih dan
bahagia, senyum dan tangis, damai dan perang, hidup dan mati, semua seperti
terjadi begitu saja. Waktu menelannya satu-persatu hingga semuanya hampir ludas
tak tersisa.
Makna di atas terlintas kala
aku duduk manis menerima suapan-suapan nalar yang amat detail. Bayangkan saja,
satu kalimat dijelaskan dalam waktu kurang lebih 20 menit. Sementara kitab yang
dipelajari tebalnya sampai 300 halaman. dalam satu lembar minimal terdapat 3-5
baid yang bisanya terdiri dari 4-10 kalimat/baid. "ini kapan selesainya
ya Allah?" spontan batinku berteriak.
Tapi tak apalah. Justru aku
malah merasa terlahir kembali dalam proses belajar. Belajar untuk berfikir lebih luas ke segala arah. Aku tak
ingin berfikir kapan kitab ini akan terselesaikan. Masih ingin rasanya aku
menikmati alunan melodi nalar dan menjarahkan ilmu menembus batas yang selama
ini kutancapkan.
Sekalipun bukan awal kali
kutemui sensasi ini, tidak berarti sesal datang menemuiku akan semua yang
sebelumnya kulalui, aku pun faham semuanya harus terlahir berkali-kali dalam
proses menapaki kesempurnaan. Bukan hanya ekonomi yang membagi strata dan
manusia, keilmuan pun harusnya berada tingkatan yang berbeda-beda. Mereka yang
mencarinya perlahan akan tumbuh mekar dengan semerbak wangi kebijaksanaan.
Jelasnya, aku sudah menemukan jalan yang harus mulai kutempuhi. jalan yang
mungkin membuatku kembali terlahir di
waktu mendatang.
#P_U
Tidak ada komentar:
Posting Komentar