Sabtu, 11 November 2017

Untuk apa?

Part 5 – Untuk apa?
Aku sempat berfikir, jika seorang pelajar saja gagal dalam memaknai belajar, kira-kira bagaimana pemaknaan belajar bagi orang-orang yang tak berpendidikan? Hmm,,,tapi sudahlah, kata orang tidak baik jikalau membandin-bandingkan sesuatu. Sebab, akan semakin tebal benteng strata sosial di antara kita. Anehnya aku malah berfikir terbalik. Bukankah dengan adanya perbandingan dalam rangka merekontruksi diri adalah satu hal yang mulia? Lagi pula kita tak akan pernah lepas dari hasrat untuk membandingkan, tinggal bagaimana menyikapinya dengan bijaksana saja.
       Belajar memang sangat urgen. Orang bodoh pun pada dasarnya meyakini dengan sangat  kebenaran kalimat ini. Hanya saja, tak sedikit di antara pelajar yang gagal dalam memaknai proses belajar. Contohnya banyak, berapa mahasiswa perguruan tinggi yang tak tahu ingin berbuat apa setelah mendapat gelar sarjana? Menumpuk bukan? pada akhirnya mereka merangkak menjadi pengemis kerja dengan modal ijazahnya.
       Kenapa kekeliruan itu terjadi? Saya kira bukan karena para pelajar itu bodoh, kurang perhatian saja fikirku. Sebab, sedikit saja menggunakan otak originalnya untuk berfikir, maka mereka akan memahaminya. Upps...saya lupa, budaya berfikir rupanya sudah hampir punah di era ini. Pola masyarakat yang mulai kehedo-hedonan tentunya akan membenci hal-hal yang sukar. Tak terkecuali bagi mereka yang katanya berpendidikan. Hah...aku juga tak habis fikir mau bagaimana lagi menasehatinya.
       Tentunya masih banyak orang yang bisa membaca ketimbang dengan mereka yang buta huruf. Sungguh terlalu jika selepas SD pun belum mumpuni untuk membaca, orang sebego itu pun pasti sangat langka dan hampir punah. Zaman elit ini pun saya kira sangat mudah untuk mengakses keilmuan dengan modal kemampuan untuk membaca. Tapi lagi-lagi itu hanya hanya sekedar modal, kebanyakan orang lebih suka diajari ketimbang mengajari. Itu persepsei belajar yang tertanam kuat di kepala generasi sekarang ini. Nalurinya untuk menuntut lebih jauh tidak terarah dengan tepat. Hanya sebatas nalauri komsumsi tanpa kreatif untuk memproduksi lebih jauh. Lalu, untuk apa belajar tinggi-tinggi jika hanya ingin duduk manis menikmati gaji tetap. Sementara potensi untuk meraih yang lebih besar terbuka lebar. Seperti itulah kira-kira.

#p_u
to be continued


       

2 komentar:

Chapter 03

Mengislamkan Demokrasi   Berjarak lima belas meter samping kanan sekolah, mematung gubuk kumuh tak berpenghuni. Entah sepinya sud...