Kamis, 17 Mei 2018

Untuk Tuan Teroris di Alam Sana

Part 12 - Untuk Tuan Teroris di Alam Sana

Sejuta salut untuk mendiang Dita Oepriarto. Laki-laki pemberani, yang telah sampai pada tahap keyakinan tak tergoyahkan. Bagaimana tidak, kau rela buang nyawa sebagai tumbal atas keyakinanmu. Itu yang aku kagumi darimu. Kau tahu? Akhir-akhir ini namamu  jadi terkenal di keramaian khalayak. Tapi bukan sebagai artis, melainkan sebagai seorang teroris. Apakah di alam sana kau sudah bangga?

Tapi, menurutku kau masih unggul dalam satu sisi, dari sebagian orang-orang berdasi itu. Mereka tidak berani sepertimu. Mereka tahu bahwa seorang pejabat harus amanah, mengayomi, dan mencerdaskan rakyatnya, tapi mereka takut untuk melakukannya. Aku sebut saja mereka si pengecut. Sebagian mereka malah membuncitkan perutnya dengan uang rakyat. Mereka adalah penghianat-penghianat bagi keyakinannya sendiri.

Kau juga jangan senang dahulu, sebab aku tak bermaksud memujimu. Aku hanya ingin sampaikan padamu. Bahwa, begitu banyak orang yang mengutukmu setelah skandal yang kau buat baru-baru ini. Tapi sangat sedikit yang mengambil pelajaran darimu. Aku mungkin termasuk sedikit yang berguru padamu. Namun, ini tak berarti aku membenarkan tindak anarkismu, apalagi harus ikut mati konyol mendukungmu. Buang jauh-jauh prasangkamu itu.

 Kemarin, secara tak sengaja, juga kutemukan temanmu bercerita tentangmu di akun facebooknya. Katanya, dahulu dia adalah adik kelasmu saat SMA dulu. Tapi, sepertinya dia juga agak acuh padamu. Sekalipun terkadang agak risih dengan paham radikal yang sudah tertanam kuat di benakmu. Namun, anehnya dia masih menulis artikel panjang lebar tantang biografimu. Entahlah, bagiku dia juga sukar untuk ditebak.

Masih aku mengandai-andai tentangmu. Kalau saja kau lebih memilih membantu sesama dengan modal keberanianmu itu, aku yakin saat ini kau sudah menjadi orang yang terhormat. Tapi kau malah tinggalkan rumah senilai 2 miliyar itu dipeluk kesunyian, hampa tak berpenghuni. Kan sayang, dengan kekayaanmu itu, kau bisa menghidupi beberapa anak yatim. Bagiku itu lebih mulia, ketimbang harus mengakhiri hidup orang-orang bersamamu. Akibatnya, kau yang rela jadi tumbal demi memperjuangkan keyakinanmu, tapi malah berbalik memperburuk imej agamamu di mata manusia. Itu yang aku sesalkan darimu.

aku tak berharap banyak agar kau membaca surat ringkasku ini di alam sana. Sebab, mungkin saja kau lagi sibuk-sibuknya diwawancarai oleh malaikat. Lalu,  kau juga disodori dengan berbagai pertanyaan yang merepotkan. Tapi kau itu laki-laki. Tanggung sendiri masalahmu, sekalipun itu menyakitkan. Di alam sana, kata sesal sudah tidak berlaku lagi untukmu.

to bee continued...


#P_U

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Chapter 03

Mengislamkan Demokrasi   Berjarak lima belas meter samping kanan sekolah, mematung gubuk kumuh tak berpenghuni. Entah sepinya sud...