Kamis, 17 Mei 2018

BeRiNgaS DI BawAh BeriNgIN

Part 11 - BeRiNgaS DI  BawAh BeriNgIN.

Empat kali sudah sudah kembang api menyembur di bawah pohon beringin, ikut membawa jiwa-jiwa yang tak berdosa hilang bersamanya. Tak ada kesan indah yang ditinggalkan, hanya tersisa panik dan ketakutan menggentayangan. Biar saja takut dan resah bersorak meriah mengutuknya. “Enyahlah setan-setan sesat, aku terlalu kuat untuk kau robohkan” ujar si beringin.
Ramai sekarang di negeriku. Bermula dari menebar bibit-bibit kebencian, saling mengolok, mencaci, semua sesaki hingga ke lorong-lorong pulau.  Seolah sudah menjadi seperti budaya. Apalagi, menjelang perebutan kursi kekuasaan, semuanya tumbuh dan bereproduksi lebih cepat dari semestinya.
Beberapa hari yang lalu, Semua menuai buahnya. Ledakan bom terjadi secara beruntun. Apa yang kau tanam, itu pula lah yang kau panen. Bagiku, kejadian ini tak terjadi begitu saja. Ini adalah buah dari bibit-bibit keburukan yang kita tanam sendiri. Tak perlu sok menyalahkan, sebab kita sendiri yang sukarela menyiraminya hingga tumbuh pesat dan berbuah. Ini mestinya jadi bahan refleksi buat kita untuk kedepannya. Bahwa, untuk sampai pada masayarakat yang tentram dan damai, adalah salah jika melakukannya dengan metode yang licik.
Dari Surabaya ke sidoarjo sudah membekas. korban berserakan di tempat kejadian. Entah semua itu dalam rangka apa, jelasnya, ini sudah bertindak di luar sisi kemanusiaan. Entah pelakunya mau di sebut dengan teroris, jihadis, ataukah oposisi.  Jelasnya, nurani manapun tak terima dengan kejadian ini. Tapi, dengan mengutuk mereka sama saja dengan kembali menanam bibit keburukan. Dan kedepannya, akan ada lagi sesuatu yang lebih mengerikan dari apa yang terjadi hari ini.
Semestinya kita melotot dan belajar banyak dari kejadian ini. Lalu mulai menanam bibit-bibit yang tak berpenyakit. Belajar untuk bersaing dengan adil,  untuk saling menghormati, untuk tidak sok tahu dan masih banyak lagi yang harus kita benahi dari cara-cara kotor yang sudah mewabah. Bodohnya kita, jika  masih terus membelai lembut cara ini. Egoisnya kita jika masih merawatnya atas dasar kepentingan pribadi. Kita hidup bersama dan akan selalu membutuhkan. Ini yang harus kita bangun. Jika tidak, pohon beringin yang membawa kedamaian, akan jadi beringas, kering dari rasa kemanusian.

  to bee continued...
#P_U






Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Chapter 03

Mengislamkan Demokrasi   Berjarak lima belas meter samping kanan sekolah, mematung gubuk kumuh tak berpenghuni. Entah sepinya sud...