Selasa, 15 Mei 2018

Sebelum Keyakinan

part 9 -  Sebelum Keyakinan


Setiap orang berhak memilih untuk berkeyakinan. Lalu bertindak sesuai dengan apa yang dia yakini. Kenapa saya tidak mengatakan setiap orang berhak untuk beragama? Sebab, agama itu terlalu kompleks untuk terfahami secara menyeluruh. Semisal, dalam satu agama bisa saja setiap orang memahaminya dari sudut yang berbeda. Lalu, mengomsumsi keyakinan darinya. Semua itu bergantung pada siapa mereka menyelami ilmu keagamaan, juga motif yang dia bawa bersamanya.

Saya melihat keyakinan lebih spesifik dari agama. Sekalipun Tuhannya sama, namun cara memahami Tuhannya berbeda-beda. Tentunya hal tersebut akan merembet pada hukum syari’at yang dijalaninya. Dari sini, lahirlah kelompok yang berbeda dalam jubah agama yang sama.

Namun, hal yang menarik bagi saya terlepas dari banyaknya golongan yang ada, adalah caranya dalam mengambil keyakinan. Di sinilah akan kita kupas panjang kali lebarnya. Jika ada yang bertanya mengapa? Jujur saja, semua tindak tanduk manusia bermuara dari keyakinan yang sudah tertanam dalam dirin setiap orang.

Sebelum berkeyakinan, perlu kita Tanya pada diri masing-masing. Bagaimana meyakini sesuatu dengan benar? Tak bisa kita pungkiri bahwa semua orang bisa berkeyakinan, tapi tak semuanya bisa berkeyakinan dengan benar. Namun bagi yang terlanjur berkeyakinan, mari kita curigai tentang apa yang kita yakini.

            Benar dan salah juga berlaku dalam keyakinan. Itu yang harus kita terima. Tapi, pada sisi yang lain, kebenaran dalam keyakinan itu bertingkat. Tak terkecuali juga kesalahan yang terjadi di dalamnya. Ini juga yang perlu kita cerna baik-baik. Agar, tak ada rasis yang menjadi parasit dalam jiwa. Singkat kata, kebenaran dalam berkeyakinan harus terfahami secara vertikal, bukan secara horizontal. dengan demikian, kita akan terlepas dari logika hitam-putih yang kian lama telah meracuni kepala kita.

            Dalam kancah epistemologi, keyakinan tak terlepas dari hasil pemahaman seseorang. Artinya, sebelum sampai pada tahap keyakinan, dibutuhkan andil nalar untuk mencerna setiap apa yang dijumpainya. karena, mencerna mentah-mentah dari setiap apa yang ditemuinya, secara otomatis akan menyebabkan cacat pada keyakinannya. Sebab, urusan benar dan salah itu adalah tugas nalar dalam memilah. Hasilnya lah yang menjadi konsumsi jiwa dan kemudian dianggap sebagai keyakinan.

 Hal di atas berbanding terbalik dengan cara lama yang masih digunakan kebanyakan orang. Yaitu, melepas nalar dalam berkeyakinan. Terlalu mengkultuskan doktrin-doktrin suci dan mencerna tanpa mengunyah terlebih dahulu. Tentu, untuk menetapkan kebenaran dan kesalahan keyakianan, akan mendapatkan masalah yang sukar terpecahkan. Sehingga, tak jarang berujung pada penghapusan atau penolakan terhadap apa yang bertentangan dengan keyakinannya.

            Perlu saya garis bawahi. Tulisan ini tak bermaksud menyalahkan keyakinan yang sudah hadir di antara kita. Hanya sekedar perbandingan untuk sedikit lebih menyempurna. Bagi saya pribadi dan mungkin untuk sebagian orang, membuat keyakinan semakin kokoh lebih mulia ketimbang menyalahkan keyakinan itu sendiri. Cara seperti inilah yang harus kita gagas bersama. Bukan malah saling menyalahkan dan berujung pada tindak kekerasan yang merugikan antara satu dengan yang lainnya. Mereka yang berkeyakinan, adalah orang-orang yang merasa dirinya belum berkeyakinan.

to bee continued...

#p_u
           

           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Chapter 03

Mengislamkan Demokrasi   Berjarak lima belas meter samping kanan sekolah, mematung gubuk kumuh tak berpenghuni. Entah sepinya sud...