part 9 - Sebelum Keyakinan
Setiap orang berhak memilih untuk berkeyakinan. Lalu bertindak
sesuai dengan apa yang dia yakini. Kenapa saya tidak mengatakan setiap orang
berhak untuk beragama? Sebab, agama itu terlalu kompleks untuk terfahami secara
menyeluruh. Semisal, dalam satu agama bisa saja setiap orang memahaminya dari
sudut yang berbeda. Lalu, mengomsumsi keyakinan darinya. Semua itu bergantung
pada siapa mereka menyelami ilmu keagamaan, juga motif yang dia bawa bersamanya.
Saya melihat keyakinan lebih spesifik dari agama. Sekalipun
Tuhannya sama, namun cara memahami Tuhannya berbeda-beda. Tentunya hal tersebut
akan merembet pada hukum syari’at yang dijalaninya. Dari sini, lahirlah
kelompok yang berbeda dalam jubah agama yang sama.
Namun, hal yang menarik bagi saya terlepas dari banyaknya golongan
yang ada, adalah caranya dalam mengambil keyakinan. Di sinilah akan kita kupas
panjang kali lebarnya. Jika ada yang bertanya mengapa? Jujur saja, semua tindak
tanduk manusia bermuara dari keyakinan yang sudah tertanam dalam dirin setiap
orang.
Sebelum berkeyakinan, perlu kita Tanya pada diri masing-masing. Bagaimana
meyakini sesuatu dengan benar? Tak bisa kita pungkiri bahwa semua orang bisa
berkeyakinan, tapi tak semuanya bisa berkeyakinan dengan benar. Namun bagi yang
terlanjur berkeyakinan, mari kita curigai tentang apa yang kita yakini.
Benar dan salah juga berlaku dalam
keyakinan. Itu yang harus kita terima. Tapi, pada sisi yang lain, kebenaran
dalam keyakinan itu bertingkat. Tak terkecuali juga kesalahan yang terjadi di
dalamnya. Ini juga yang perlu kita cerna baik-baik. Agar, tak ada rasis yang
menjadi parasit dalam jiwa. Singkat kata, kebenaran dalam berkeyakinan harus
terfahami secara vertikal, bukan secara horizontal. dengan demikian, kita akan
terlepas dari logika hitam-putih yang kian lama telah meracuni kepala kita.
Dalam kancah epistemologi, keyakinan
tak terlepas dari hasil pemahaman seseorang. Artinya, sebelum sampai pada tahap
keyakinan, dibutuhkan andil nalar untuk mencerna setiap apa yang
dijumpainya. karena, mencerna mentah-mentah dari setiap apa yang ditemuinya,
secara otomatis akan menyebabkan cacat pada keyakinannya. Sebab, urusan benar
dan salah itu adalah tugas nalar dalam memilah. Hasilnya lah yang menjadi
konsumsi jiwa dan kemudian dianggap sebagai keyakinan.
Hal di atas berbanding
terbalik dengan cara lama yang masih digunakan kebanyakan orang. Yaitu, melepas
nalar dalam berkeyakinan. Terlalu mengkultuskan doktrin-doktrin suci dan mencerna
tanpa mengunyah terlebih dahulu. Tentu, untuk menetapkan kebenaran dan
kesalahan keyakianan, akan mendapatkan masalah yang sukar terpecahkan. Sehingga,
tak jarang berujung pada penghapusan atau penolakan terhadap apa yang
bertentangan dengan keyakinannya.
Perlu saya garis bawahi. Tulisan ini
tak bermaksud menyalahkan keyakinan yang sudah hadir di antara kita. Hanya sekedar
perbandingan untuk sedikit lebih menyempurna. Bagi saya pribadi dan mungkin
untuk sebagian orang, membuat keyakinan semakin kokoh lebih mulia ketimbang
menyalahkan keyakinan itu sendiri. Cara seperti inilah yang harus kita gagas
bersama. Bukan malah saling menyalahkan dan berujung pada tindak kekerasan yang
merugikan antara satu dengan yang lainnya. Mereka yang berkeyakinan, adalah
orang-orang yang merasa dirinya belum berkeyakinan.
to bee continued...
to bee continued...
#p_u
Tidak ada komentar:
Posting Komentar